
Kembali kakek itu berhenti bercerita, tampaknya dia baru mengingat-ingat kejadian masa lalunya itu. Tapi tiba-tiba Yui Lan menjadi kaget sekali ketika dari lengan orang itu keluar daya sedot yang amat kuat, sehingga darahnya membanjir keluar melalui luka bekas gigitan di pergelangan tangannya.
Darah itu mengalir masuk ke dalam tubuh orang itu melalui lukanya pula, yang disengaja ditempelkan pada luka Yui Lan tersebut.
"Pendekar tua, apa...apa yang kau lakukan?" tanya Yu Lan yang penasaran.
"Diam lah, anak malang! Aku harus mengambil darahmu, agar aku dapat hidup setahun lagi!" seru kakek itu.
"Apa maksud kamu...!" seru Yui Lan yang penasaran.
"He...he.....! ketahuilah, akibat Hok-hiat-tok itu aku harus mengisap darah orang lain setiap tahunnya. Hanya biasanya aku meneliti dan memeriksa lebih dahulu darah orang itu sebelum memindahkannya ke dalam tubuhku. Sebab orang yang hendak kuisap darahnya itu harus dari kalangan orang berdarah-bening sendiri, dan darahnya juga harus cocok dengan darahku pula. Tapi karena sekarang aku tidak mempunyai waktu lagi, apalagi yang ada didepanku hanya kau saja, maka secara untung-untungan aku mengambil darahmu. Syukurlah kalau cocok. Kalau tidakpun aku juga akan sama-sama mati pula." jelas kakek itu.
"Jadi...jadi....! Anda hendak membunuhku!" seru Yui Lan yang putus asa.
Orang itu tak mengacuhkan rintihan Yui Lan. Matanya memandang nyala liIin yang jatuh dari tangan Yui Lan dengan geram.
"Kurang ajar! Bangsat benar murid-murid murtad itu! Belum juga aku dapat menghukum mereka, mereka sudah keburu mati! Huh...!" seru kakek itu dengan mulutnya yang mengumpat-umpat kasar.
"Tahu begini aku... tak... adouuuuh!" lanjut seru Kakek itu yang tiba-tiba orang tua itu mengaduh menyeringai kesakitan.
Kedua tangannya cepat memeluk perut dan dadanya, sehingga otomatis Yui Lan terbebas dari daya sedot itu. Kemudian orang itu mencoba untuk berdiri, tapi tak berhasil. Tubuhnya terjungkal ke depan menimpa tubuh Yui Lan.
"Brug...!"
Dan secara kebetulan siku tangan yang lancip dari orang itu persis menghantam di dada kiri Yui Lan. Seketika itu juga punahlah totokan yang membuat lemas gadis itu tadi.
Yui Lan segera mendorong tubuh yang menimpanya itu dan bergegas berdiri. Luka di pergelangan tangannya itu cepat-cepat dibalutnya, lalu tergesa-gesa pergi dari tempat yang mengerikan itu. Tapi baru sepuluh langkah ia berjalan.
__ADS_1
"Uhh...!"
Tiba-tiba terdengar orang tua itu mengeluh. Yui Lan menoleh. Dan betapa terkejutnya gadis itu, ketika dilihatnya pakaian orang tua tersebut telah terbakar karena terjilat api lilinnya.
Lupa sudah api permusuhan di dada gadis itu, Lupa pula semua perasaan takut dan ngeri yang tadi mencengkam hatinya. Yang ada di dalam hati gadis itu kini hanya perasaan ingin menolong seorang yang hendak terbakar tubuhnya itu saja.
Maka tanpa menghiraukan dirinya lagi Yui Lan cepat berbalik kembali untuk memadamkan api yang telah membakar pakaian orang tua itu. Akhirnya api itu padam juga. Meskipun demikian karena api itu telah membakar hampir separuh dari pakaian orang tua itu, maka kulit di bawah pakaian tersebut sudah terlanjur melepuh dan gosong.
Orang tua itu merintih menahan sakit.
"Pendekar tua, bertahanlah...! Aku akan berusaha mengobatimu!"" seru Yui Lan yang berusaha untuk membesarkan hati orang tua itu.
Yui Lan atau Hua Li, lalu mengeluarkan obat luka yang selalu dibawanya. Tapi karena luka itu tidak begitu kelihatan di dalam gelap, maka Yui Lan lalu menyalakan empat batang lilin lagi. Kemudian dengan pertolongan sinar lilin itu Yui Lan lalu memoleskan obatnya.
Sama sekali gadis itu sudah tidak ingat lagi kebuasan orang yang hendak membunuhnya itu. Sebaliknya, orang yang terluka itu kini tampak memandang Yui Lan tanpa berkedip.
Padahal sejak kedatangannya tadi, gadis itu telah berkali-kali hendak dibunuhnya. Pertama, meskipun tidak ia sengaja, gadis itu telah terkena gigitan dari ular peliharaannya. Lalu yang kedua, gadis itu telah diserangnya dengan bubuk beracun 'Racun Pemutus Urat' dan 'Racun Pengantar Tidur' yang berbau busuk dan wangi itu. Dan kemudian yang terakhir, gadis itu telah ia sedot darahnya.
Meskipun yang terakhir ini juga gagal, karena dia keburu pingsan tadi. Tapi yang terang semuanya itu telah menunjukkan bahwa dia memang benar-benar bermaksud membunuh gadis itu.
Namun apa yang dikerjakan gadis itu sekarang, ternyata semua itu tidak menimbulkan dendam di hati gadis cantik itu. Di dalam situasi yang berbalik seperti sekarang, ternyata gadis itu tidak memanfaatkannya untuk membalas dendam.
Gadis itu ternyata justru merawat dan mengurusnya penuh perhatian. Padahal kalau mau gadis itu bisa meninggalkannya begitu saja. Oleh karena itu, siapakah orangnya yang tidak merasa terketuk hatinya mengalami hal seperti itu.
Biarpun orang yang terkena itu seorang penjahat berhati kejam seperti orang tua itu, Mata yang selama ini selalu memancarkan watak keras,buas dan kejam itu tiba-tiba menitikkan air mata. Di saat saat terakhir hidupnya orang itu ternyata memperoleh sinar terang yang mampu membuka pintu batinnya.
"Anak baik...! Kau tak perlu bersusah-payah mengobati aku lagi! Sudah tidak ada gunanya lagi...!" seru orang tua itu berkata serak karena terharu.
__ADS_1
"Kenapa Pendekar Tua berkata begitu? Apakah anda telah berputus-asa karena gagal mengambil darahku? Ahh... Pendekar Tua"! Jika Pendekar Tua memang sangat membutuhkan darahku, sebenarnya akupun rela pula memberikannya. Tapi tentu saja jangan semuanya! Yang penting kita berdua bisa selamat. Misalnya darahku ini dibagi dua, Pendekar Tua separuh aku separuh. Bagaimana...?" kata Yui Lan yang membuka kembali balutan lukanya. Tapi orang tua itu cepat mencegahnya.
"Jangan....!" cegal kakek itu seraya tangannya sedikit mendorong lengan Yui Lan.
"Pendekar Tua...? kenapa?" tanya Yui Lan yang penasaran.
"Anak baik, ketahuilah"! Didalam darahmu memang mengalir ciri-ciri khusus perguruanku, yaitu berdarah bening, yang membuat kita semua kebal terhadap semua racun. Tapi sayang darahmu itu ternyata tidak cocok bila bercampur dengan darahku, sehingga seperti yang telah kau lihat tadi, aku menjadi pingsan karenanya. Malahan percampuran itu justru mempercepat saat kematianku. Oleh karena itu sebelum mati aku akan meninggalkan pesan kepadamu." jelas pendekar tua itu.
"Pendekar Tua..." ucap Yui Lan.
"Sudahlah! Jangan banyak bicara lagi! Waktuku tinggal beberapa saat saja. Dengarlah"!" orang tua itu memotong perkataan Yui Lan.
Kemudain sambil mengeluarkan sebuah buku kumal dari kantong celananya, orang tua itu menunjukkan sesuatu.
"Inilah buku Im-Yang Tok-keng itu! Untunglah dia tidak termakan api tadi. Sekarang kau terima lah buku ini! Kuwariskan dia kepadamu. Rawatlah baik-baik! Jangan sampai terlihat orang lain,karena buku ini banyak yang mengincarnya." kata Kakek tua itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1