Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 33


__ADS_3

Kemarahan dan rasa nyeri membuat putra Lim Bao hampir gila. Dia menerkam tubuh Siok Eng yang masih telentang di atas pembaringan, lalu kedua tangannya memukul, mencekik dengan membabi buta.


Tentu saja Siok Eng tidak mampu menghindar, akan tetapi juga tidak terlalu lama menderita karena pukulan pertama yang mengenai kepalanya saja sudah cukup untuk menewaskannya.


Biarpun Lim Mao mengamuk, memukuli dan mencekik, ia tidak merasakan lagi. Siok Eng tewas dalam keadaan masih belum ternoda kehormatannya dan biarpun ia hanya seorang wanita lemah, namun ia tewas sebagai seorang wanita yang gagah berani, lebih baik kehilangan nyawa daripada menyerahkan kehormatannya untuk dinodai dan dihina.


Lim Mao marah bukan main. Bukan saja dia gagal memuaskan gairah nafsunya, sebaliknya dia malah kehilangan mata kirinya. Tidak ada tabib di Cin-yang mampu memulihkan matanya karena biji matanya telah hancur tertusuk benda runcing berupa tusuk sanggul itu.


Dia menjadi buta sebelah sehingga membuat wajahnya yang tadinya gagah, biarpun berkulit hitam, kini menjadi buruk menjijikkan dan menyeramkan.


Sementara itu nasib Siok Hwa tidak lebih baik daripada nasib Siok Eng. Dalam keadaan pingsan dia dibawa oleh Kun Cie ke rumah pelacuran dan selagi pingsan ia diperkosa oleh putera Kepala Pengadilan itu.


Setelah siuman dari pingsannya dan melihat kenyataan bahwa dirinya telah dinodai, Siok Hwa bertindak nekat, mengambil pisau buah yang ada di meja dan menghujamkan ke ulu hatinya berkali-kali.


Dan akhirnya gadis itu tewas dengan bersimbah darah di ulu hatinya.


Dalam waktu sehari saja, seluruh keluarga itu telah terbasmi habis. Siok Chen, kedua orang puterinya Siok Hwa dan Siok Eng, juga kakaknya Siok Kung, tewas dalam keadaan menyedihkan.


Padahal, keluarga ini terkenal sebagai keluarga yang baik, sebagai manusia-manusia yang memiliki sikap, ucapan, dan perbuatan yang tak pernah tercela. Juga suka menolong orang yang membutuhkan pertolongan, suka menyumbangkan sebagian penghasilannya, tak pernah bermusuhan.


Kota Cin-yang menjadi gempar ketika mendengar kabar hampir seluruh keluarga Saudagar Siok Cheng yang mereka hormati itu telah dibunuh Panglima Lim Bao.


Karena pembunuhnya seorang panglima besar, maka hal itu tidak sampai menjadi urusan yang berkepanjangan, apalagi Lim Bao melapor ke kota raja bahwa Siok Cheng membantu dan bersekongkol dengan para pemberontak.


Tak ada yang berani menuntut dan kalau dituntut sekalipun, kepada siapa? Lim Bao adalah seorang panglima besar yang berkuasa, sedangkan ayah Kun Cie, yaitu Kun Hok adalah Kepala Pengadilan yang akan menyidangkan semua perkara sehingga para penuntut tentu saja akan mati kutu dan kalah dalam perkara mereka.


Setelah lewat kurang lebih dua bulan, jarang ada yang membicarakan peristiwa itu lagi, bahkan sebagian orang sudah melupakannya. Kehidupan berjalan lancar dan normal kembali para pejabat, dari yang kecil sampai yang paling besar, rata-rata menekan, memeras dan selalu mengejar uang.


Suap dan sogok terjadi di hampir semua bidang dan usaha pun tidak akan lancar kalau tidak menggunakan cara itu.

__ADS_1


Pada suatu siang seorang gadis yang membawa kecapi, yang tak lain adalah Hua Li si pendekar kecapi melangkahkan kakinya memasuki kota Cin-yang.


Gadis itu yang sebelumnya telah menumpas gerombolan penyamun di sekitar pelabuhan, dan hendak pergi ke perguruan Ular kobra untuk menyelidiki tentang harta karun Kerajaan Han yang hilang diambil orang, dan lebih dahulu hendak berkunjung ke rumah keluarga saudagar Siok Cheng, yang sudah lama ditinggalkannya.


Setelah memasuki kota Cin Yang, kota yang pernah dikunjunginya dua tahun lebih yang lalu, ketika mereka berdua menolong Siok Hwa dan Siok Eng lalu mengantarkan mereka ke kota ini untuk tinggal di rumah Siok Kung.


Hua Li mempercepat langkahnya menuju ke rumah Saudagar Siok Cheng.


Ketika tiba di depan rumah itu, dia hampir tidak mengenal. Dahulu, setahunya rumah itu membuka sebuah toko, akan tetapi sekarang tokonya tidak ada, semuanya bahkan daun pintunya, tertutup.


Dengan hati agak ragu dia menghampiri pintu lalu mengetuknya perlahan.


"Tokk....tokkk....tokk....!"


Tidak ada jawaban dari dalam. Akan tetapi pendengaran Hua Li yang tajam dapat menangkap adanya gerakan orang di balik daun pintu itu.


"Tolong bukakan pintu, saya Hua Li yang datang!" seru Hua Li dengan lantang.


Tak berapa lama terdengar kaki melangkah mendekati pintu dan daun pintu dibuka dari dalam. Yang membuka daun pintu itu adalah seorang wanita setengah tua, pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang pembantu rumah tangga.


"Siapakah nona dan hendak mencari siapa?" tanya wanita itu dengan suara gemetar dan sinar matanya jelas tampak ketakutan.


"Saya Hua Li, apakah tuan Siok ada bi?" tanya Hua Li yang wanita pembantu rumah tangga di rumah itu.


"Hua Li? apakah nona ini adalah si pendekar kecapi?" tanya pembantu itu dengan wajah yang berubah berbinar.


"Benar, bi. Di manakah semua keluarga Siok? kenapa semua pintu ditutup dan dalam rumah tampak begini sepi?" tanya Hua Li yang penasaran.


"Masuklah lebih dulu nona, masuklah!" ajak pembantu itu dengan suaranya yang menggetar seperti menahan tangis.

__ADS_1


Setelah Hua Li masuk, pembantu itu cepat menutupkan dan memalangi pintu itu, setelah itu dia tidak dapat menahan lagi tangisnya. Ia menjatuhkan diri berlutut di atas lantai dan menangis sejadi-jadinya, akan tetapi ia menahan sehingga suara tangisnya tidak keluar, hanya terisak-isak dibarengi membanjirnya air matanya.


Hua Li terkejut sekali. Dia menarik wanita itu bangkit dan membawanya ke ruangan tengah, lalu menyuruhnya duduk di atas kursi di depannya.


"Tenanglah, bibi. Hentikan tangismu dan ceritakan apa yang terjadi dan kenapa kamu menangis. Dan dimana adanya semua orang?" tanya Hua Li yang menebarkan pandangannya ke sekitarnya.


"Nona, mereka... mereka semua tewas mereka semua telah tewas!" jawab si bibi dengan suara seraknya.


"A...apa!" seru Hua Li yang begitu kagetnya sampai dia melompat berdiri dengan wajah pucat, lalu menghampiri wanita itu dan mengguncang kedua pundaknya.


"Apa yang terjadi? Hayo ceritakan, ceritakan semuanya yang jelas!" bentak Hua Li membuat pembantu itu yang sudah ketakutan dan bersedih itu menjadi semakin takut dan tangisnya semakin menjadi-jadi, sesenggukan sampai sesak napas.


 Hua Li segera menyadari bahwa dia bersikap terlalu kasar dan membuat wanita itu ketakutan. Dia lalu melepaskan pundak wanita itu, duduk kembali dan berkata dengan tenang dan sabar.


"Maafkan aku, bi. Aku tadi bersikap kasar karena aku merasa kaget sekali. Nah, hentikan tangismu dan ceritakan dengan jelas apa yang terjadi, dari awal mula." ucap Hua Li yang segera mengatur napasnya.


Setelah pembantu itu dapat menenangkan hatinya dan menghentikan tangisnya, lalu ia bercerita tentang apa yang telah dia ketahui.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2