Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 230


__ADS_3

Hong Lan adalah putera kandung dan murid Beng Cu, seorang datuk besar dunia hitam, namun dia Cerdik bukan main dan dia tahu bahwa kepada seorang wanita seperti Hok Cu yang agaknya seorang pendekar wanita dia harus mampu menggunakan kedok seorang budiman.


"Nona, peti hadiah itu berisi emas, perak dan barang berharga. Tidak pantas dan sayang sekali kalau barang berharga itu jatuh ke tangan pemakan sogokan seperti dia! Itu tentulah harta hasil korupsi, hasil pemerasan para pembesar itu dari rakyat. Maka, aku akan merampas peti itu Nona." jelas Hong Lan.


Hok Cu mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Hong Lan.


"Akan tetapi aku hendak menghadangnya untuk membebaskan dua orang gadis yang di hadiahkan tadi." kata Hok Cu.


"Tapi... tapi gadis-gadis macam itu untuk apa dibebaskan? Bukankah mereka tadi kelihatan begitu jinak dan bahkan melayani pembesar kota raja itu dengan gembira?" tanya Hong Lan yang penasaran.


"Aih, kau seorang laki-laki, tentu tak dapat melihat dengan jelas. Biarpun mereka melayani, namun mereka itu terpaksa dan takut kepada orang gendut itu. Aku melihat kalau mata dan bibir mereka menahan derita yang hebat. Aku akan membebaskan mereka!" seru Hok Cu yang bersemangat.


"Kalau begitu, kita dapat bekerjasama, Nona. Kita robohkan dulu para pengawalnya, kemudian kita serbu kereta, kau membebaskan dua orang gadis itu dan aku merampas peti." saran Hong Lan.


"Baiklah! akan tetapi, kalau boleh aku bertanya, mau kaupakai apakah harta dalam peti itu?" Hok Cu bertanya sambil lalu, padahal di dalam hatinya dara ini ingin sekali tahu mengapa pemuda yang dikaguminya itu hendak merampas peti berisi harta itu.


"Untuk apa? Tentu saja untuk kukembalikan ke rakyat jelata! Harta itu akan kubagikan kepada rakyat miskin di dusun-dusun!" jawab Hong Lan yang yang dengan cerdik Hong Lan semakin yakin bahwa Hok Cu adalah seorang pendekar wanita, menjawab seperti sudah sewajarnya.


Dengan hati girang sekali Hong melihat betapa gadis perkasa yang cantik jelita dan manis itu memandang kepadanya dengan sinar mata kagum, seperti sudah saling bersepakat keduanya lalu menanti sambil bersembunyi, pura-pura berjalan-jalan di sepanjang jalan raya itu, namun mereka selalu memperhatikan ke arah kereta yang berhenti di depan rumah makan.


Tak lama kemudian, saat yang mereka nanti-nantikan pun tiba. Nampak Liu Tai yang kurus itu naik ke atas kereta bersama dua orang gadis yang telah dihadiahkan kepadanya, dan peti pun dinaikkan ke atas kereta. Cang Jin yang gendut menyeringai dan membungkuk-bungkuk mengantar tamunya naik kereta, akan tetapi dia sendiri tidak naik kereta itu.


 Pasukan pengawal yang tiga belas orang banyaknya, pengawal dari Kota raja yang rata-rata nampak gagah-gagah menjadi dua, sebagian mengawal di depan kereta, sebagian lagi di belakang kereta. Mereka semua menunggang kuda yang besar, dan kereta itu sendiri ditarik oleh empat ekor kuda.


 Berangkatlah kereta yang dikawal ketat itu meninggalkan rumah makan, diantar lambaian tangan Cang jin.

__ADS_1


Melihat kereta itu menuju ke pintu gerbang kota sebelah utara, Hok Cu dan Hong Lan lalu cepat mengambil jalan memotong, mendahului rombongan itu keluar dari pintu gerbang utara.


Setelah tiba di luar kota dan melalui jalan raya yang tidak begitu ramai, mereka lalu mengerahkan kepandaian dan berlari cepat, mengambil jalan kecil melewati sawah ladang agar tidak menarik perhatian orang yang berlalu-lalang di jalan raya. Akan tetapi mereka menanti sampai kereta itu muncul, dan dari jauh mereka membayangi kereta yang dilarikan cepat menuju ke utara, memasuki daerah berhutan dan lalu lintas jalan raya itu mulai sunyi.


Setelah rombongan pembesar itu mu masuki hutan, dua orang muda itu pun berlari cepat melakukan pengejaran mengambil keputusan untuk turun tangan setelah kereta tiba di hutan, atau yang sudah agak jauh dari jalan yang ramai.


Tiba-tiba mereka berdua terkejut karena mendengar suara pertempuran depan. Mereka segera mempercepat lari mereka dan ternyata kereta itu telah dikepung oleh belasan orang dan sudah terjadi pertempuran antara para pengepung yang berpakaian macam-macam melawan tiga belas orang pengawal.


Sedangkan kusir kereta yang sudah turun, berusaha menenangkan empat ekor kuda di depan mereka itu.


Tentu saja kedua orang muda itu menjadi terkejut dan juga terheran-heran membuat mereka meragu karena mereka tidak mengenal siapa belasan orang yang melakukan penyergapan terhadap rombongan pembesar itu. Karena mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, maka Hok Cu dan Hong Lan hanya menonton saja.


 Kini mereka baru melihat bahwa pembesar itu agaknya seorang yang amat penting, karena pasukan pengawal yang berkuda itu sungguh tangguh. Mereka itu pandai menunggang kuda, dan pandai pula menggerakkan pedang mereka dari atas kuda sehingga beasan orang yang mengepung itu menjadi kewalahan dan kocar kacir.


"Ini kesempatan baik," tiba-tiba Hong Lan berkata kepada Hok Cu.


"Selagi para pengawal menghadapi orang-orang itu, kita turun tangan. Kau bebaskan dua orang gadis itu dan aku akan mengambil peti itu! Dan kita bunuh saja pembesar korup tukang makan sogokan itu!" seru Hong Lan.


"Jangan............!" Tiba-tiba Hok Cu berkata agak ketus sehingga mengejutkan hati Hong Lan.


"Tidak boleh membunuhnya!" Memang semenjak menjadi murid Biksu Hek Bin, selama lima tahun Hok Cu sudah mendapat gembleng batin dari Biksu itu sehingga ia tidak merasa tega untuk membunuh orang.


Gurunya itu menanamkan perasaan kasih sayang di dalam hatinya terhadap semua orang, dan yang ia tentang hanyalah perbuatan jahat, bukan orangnya. Maka, ia mau memberi hajaran kepada orang jahat agar orang itu bertobat dan tidak berani melakukan kejahatan lagi, bukan membunuhnya karena benci kepada orangnya.


Hong Lan tersenyum, dan mengangguk. Dia mulai mengenal watak gadis itu. Gagah perkasa, cantik jelita, riang jenaka, pemberani akan tetapi juga berbudi luhur.

__ADS_1


 "Mari kita bergerak!" seru Hong Lan setelah menganggukkan kepala untuk menyetujui.


Bagaikan dua ekor burung garuda, Hong Lan dan Hok Cu meloncat seperti melayang saja, menuju ke arah kereta yang kini tidak terlindung karena tiga belas orang pengawal sibuk menghadapi pengeroyokan belasan orang itu.


Akan tetapi pada saat itu, dari lain jurusan berkelebat pula bayangan orang yang tidak kalah cepat dan ringannya dibandingkan dua orang muda itu. Baru saja Hok Cu dan Hong Lan tiba di dekat kereta, terdengar bentakan nyaring


"Perampok-perampok jahat!"


Dan muncullah seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar, kokoh kuat dan tampan gagah. Mendengar bentakan ini dan melihat munculnya seorang pemuda yang gagah perkasa, Hok Cu dan Hong Lan terkejut.


Saat itu dipergunakan oleh pemuda tinggi besar untuk berseru kepada kusir kereta.


"Kenapa kau tidak cepat melarikan kereta ini, menyingkir dari sini, menyelamatkan majikanmu dan minta bantuan pasukan? Hayo cepat larikan kereta, biar aku menahan para perampok!" seru orang itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2