
Matahari belum terbenam dan cuaca masih terang, apalagi waktu itu langit pun bersih tidak ada mendung.
"Hei, kenapa pintu dan jendela rumah itu tertutup semua dan tidak tampak seorang pun manusia di luar rumah?" gumam Sin Lan yang merasa heran.
"Iya kak Lan, saya juga merasa heran. Apakah dusun ini tidak ada penghuninya?" tanya Sin Lin ikut mengomel.
"Sstt...! dengar. Kukira di dalam semua rumah itu ada penghuninya, tapi kenapa masih terang begini mereka sudah menutup pintu dan jendela. Seperti tidak berani keluar!" bisik Sin Lan yang menebarkan pandangannya kesekitarnya.
Sin Lin diam dan memperhatikan dengan pendengarannya. Ia menangkap juga gerakan dari dalam rumah-rumah itu. Mereka berjalan sampai ke tengah dusun dan tetap saja tidak melihat seorang pun di luar rumah.
Tiba-tiba mereka mendengar suara tangis lirih sekali. Hanya isak yang ditahan-tahan, tangis seorang wanita yang agaknya menutupi mulutnya dengan kain agar suara tangisnya tidak terdengar orang. Lalu ada suara laki-laki berbisik lirih menyuruh wanita itu menghentikan tangisnya.
"Anakku, aku mau mencari anakku...!"
Suara kaki berlari dan pintu sebuah rumah terdekat terbuka. Tampak seorang wanita muda berlari keluar dengan sanggul rambut terlepas.
"Istriku...... kembalilah....!" Seru seorang laki-laki berlari mengejar.
"Brugh...!"
Wanita itu menubruk Sin Lan, dan dengan cepat Sin Lan berusaha berdiri dan membantu wanita itu berdiri.
Pada saat itu, laki-laki yang tadi mengejar sudah sampai di situ
"Siluman jahat, jangan ganggu isteriku!" seru laki-laki itu yang kemudian menerjang dan menyerang Sin Lan.
Serangan itu tidak ada artinya bagi Sin Lan karena hanya serangan seorang laki-laki biasa tanpa didukung jurus silat dan tenaga dalam.
Dengan mudah Sin Lan mengelak dan sebelum laki-laki itu menyerang lagi, Sin Lin telah mendorongnya dari samping sehingga tubuh laki-laki itu terpelanting dan terguling-guling.
Biarpun tubuhnya nyeri karena terbanting-banting, laki-laki itu bangkit kembali dan dengan nekat menyerang sambil memaki.
"Siluman jahat, kembalikan anakku dan jangan ganggu isteriku!" seru laki-laki itu yang maju lagi menerjang dan memukul.
Sin Lan cepat bergerak menotoknya sehingga dia roboh terkulai lemas, tak mampu menggerakkan kaki tangan lagi. Wanita yang tadi lari menangis itu kini menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Lan dan Sin Lin.
__ADS_1
"Ampunkan suami saya, ampunkan kami! mohon dikembalikan anak kami!" racau wanita itu yang meratap.
"Hei, kalian ini apa sudah gila!" seru Sin Lin yang membelalakkan kedua matanya melihat kejadian itu.
"Masa kami dituduh menjadi siluman jahat yang menculik anak kalian!" lanjut seru Sin Lin dengan garang.
"Kalian tenanglah dan hentikan tangismu. Sebetulnya apakah yang telah terjadi? Kami berdua hanya kebetulan lewat saja di dusun ini, mengapa kalian menganggap kami menculik anak kalian?" ucap Sin Lan dengan sopan dan memberi tanda pada wanita yang berlutut dihadapanny untuk berdiri.
Agaknya suami isteri itu baru menyadari bahwa mereka salah sangka pada kedua pemuda dihadapannya.
"Ma'afkan kami yang salah sangka tuan-tuan muda. Tolonglah kami tuan-tuan, selamatkanlah kami." kata wanita itu yang kemudian menangis.
"Apa yang terjadi? Katakanlah apa yang terjadi?" tanya Sin Lin yang tak sabar.
"Sebaiknya tuan-tuan masuk ke rumah kami, di dalam saja kita bicara dan kami akan menceritakan semua. Kalau di luar sini berbahaya sekali!" seru laki-laki yang merupakan suami dari wanita itu.
"Hemm, berbahaya apa? Siapa yang mengancam kalian? Biar kuhancurkan kepalanya!" teriak Sin Lin dengan geram.
"Ayo kita bicara di dalam rumah kalian." ucap Sin Lan seraya menatap si suami itu.
Mereka berempat lalu memasuki rumah, dan dengan cepat daun pintu segera ditutup oleh si Suami. Cuaca di Iuar masih terang, akan tetapi karena semua jendela dan pintu ditutup, cuaca dalam rumah itu agak gelap.
"Nyalakan lampu!" pinta Sin Lin.
"Kami takut tuan!" bisik wanita itu.
"Tidak perlu takut. Siapa mengganggu kalian, akan kami hajar!" seru Sin Lin.
Biarpun takut dan gugup, suami itu menyalakan sebuah lampu meja dan cuaca menjadi lebih terang.
"Nah, ceritakan, apa yang terjadi di dusun ini dan mengapa semua orang menutup pintu?" tanya Sin Lan dengan ramah.
Biarpun masih tampak pucat, namun kehadiran dua orang gadis cantik jelita yang tampak pemberani itu membuat suami isteri itu agak tenang. Si Suami kini menceritakan dengan suara lirih seperti takut kalau terdengar orang luar rumah.
"Ketahuilah tuan pendekar berdua, bahwa sekitar lima hari yang lalu, dusun kami kedatangan siluman yang suka menculik anak-anak bayi. Sudah dua orang bayi yang ia culik, dan yang terakhir anak kami yang baru berusia tiga bulan juga diculiknya." cerita si suami itu dengan lirih, tapi masih bisa didengarkan oleh yang lainnya.
__ADS_1
"Siluman macam apa itu?" tanya Sin Lin yang penasaran.
"Kami sedusun tidak ada yang pernah melihatnya. Pertama-tama, lima hari yang lalu, pada malam itu hanya terdengar suara wanita seperti menangis atau tertawa, aneh sekali dan menyeramkan. Lalu terdengar suaranya yang serak dan menakutkan. Ia minta agar disediakan seorang bayi. Tentu saja kami menjadi marah dan belasan orang laki-laki tua muda di dusun ini keluar untuk melawan siluman itu. Akan tetapi kami tidak melihat adanya orang, hanya suara tawa setengah tangis itu dan tiba-tiba ada angin menyambar-nyambar dan kami roboh berpelantingan. Kemudian, seorang anak bayi yang baru sebulan usianya, terdengar menangis dan ketika keluarga dalam rumah itu memasuki kamar, anak bayi itu telah lenyap!"cerita si Istri.
"Siluman keparat!" Kui Lin memaki marah dengan mengepalkan jari tangannya.
"Selanjutnya bagaimana?" tanya Sin Lan yang penasaran.
"Selama tiga hari ini siluman itu tidak muncul, kemudian kemarin malam siluman itu muncul dengan suaranya yang meminta seorang bayi. Semua laki-laki dalam dusun kami, dipimpin oleh kepala dusun, berjumlah lima puluh orang, keluar untuk melawan. Akan tetapi kemudian tampak sesosok wanita baju putih, gerakannya demikian cepat sehingga kami tidak dapat melihat jelas wajahnya, berkelebatan dan kami semua roboh. Untung bahwa kami hanya menderita luka tidak parah, akan tetapi anak kami yang berusia tiga bulan telah hilang setelah kami mendengar bunyi tangisnya." cerita si suami.
"Hiks.....hiks.....!"
Si Isteri menangis terisak-isak, teringat akan anak bayinya yang diculik siluman.
"Lanjutkan ceritamu!" kata Sin Lan.
"Sejak kemarin malam, kami seluruh penduduk dusun ketakutan, apalagi ketika terdengar suara siluman itu bahwa malam ini kami harus menyediakan seorang bayi yang usianya kurang dari tiga bulan. Kalau kami tidak menyediakan bayi itu, dusun ini akan dibakar dan penduduknya akan dibasmi. Karena itu, kami ketakutan dan tidak berani membuka pintu dan jendela." ucap si suami dengan wajah sedih dan takut.
"Siluman keparat! Aku akan membunuhnya!" bentak Sin Lin sudah bangkit berdiri dan mengamangkan tinju ke arah pintu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1