Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 31


__ADS_3

Dengan cepat para pengawal keluarga Siok itu melaporkan kunjungan panglima itu kepada majikan mereka yaitu Tuan Siok Cheng.


Siok Chen adalah seorang saudagar kaya raya Han yang menjadi pemasok utama segala macam bahan kebutuhan di daerah Cin-yang sampai kota raja di Kerajaan Mongol.


Karena itu dia merasa perbuatan Lim Mao dan Kun Cie pada kedua putrinya adalah perbuatan yang sangat keterlaluan, mengingat dirinya adalah orang paling kaya di daerah Cin Yang.


Tapi kali ini yang dihadapinya adalah Panglima Lim Bao yang merupakan seorang panglima perang yang tentu saja memiliki kekuasaan dan kekuatan yang jauh lebih besar daripada dia.


Maka mendengar kunjungan Panglima Lim Bao, dengan cepat Siok Cheng mengenakan pakaian kebesarannya dan menyambut panglima Lim Bao berserta putranya Lim Mao.


"Ah, kiranya Panglima Besar Lim Bao yang datang berkunjung! Mari, silakan duduk, panglima!" seru Saudagar Siok Cheng yang menyambut dengan sikap hormat di ruangan depan gedung yang dia tinggali itu.


"Siok Cheng! Aku datang bukan untuk duduk denganmu. Aku datang mau bertanya, kenapa kau berani mati menyuruh seorang gadis pemberontak untuk menghina puteraku Lim Mao beberapa bulan yang lalu! Lekas jawab!" bentak Lim Bao dengan mata melotot karena marah.


"Panglima Lim Bao, harap Panglima bersabar dan saya dapat memberi penjelasan tentang peristiwa itu. Saya sama sekali tidak mengenal gadis itu dan apa yang ia lakukan terhadap putra anda sama sekali tidak saya ketahui dan tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Mestinya kemarahan Panglima itu ditujukan kepada gadis itu, bukan kepada saya karena saya tidak pernah berurusan dengan putra anda, apalagi menghinanya." jelas Saudagar Siok Cheng yang berusaha untuk tetap tenang.


"Apa! kau mau lempar batu sembunyi tangan ya? pendekar kecapi itu tinggal digedung ini dan kalian menjamunya. Apa kamu masih mengelak juga!" seru Lim Mao membentak dengan marah.


"Panglima Lim Bao dan tuan muda Lim Mao, dengarlah penjelasan saya yang jujur dan apa adanya. Saya sama sekali tak ada hubungan apa-apa dengan pendekar kecapi itu!" seru Saudagar Siok Cheng yang berusaha meyakinkan panglima Lim Bao.


"Hua Li si Pendekar kecapi itu adalah seorang gadis pemberontak!" bentak Panglima Lim Bao dengan geram.


"Terserah apa kata panglima Lim Bao! Yang jelas saya berterima kasih pada nona pendekar itu, karena dia kedua putriku tidak menjadi korban ke brutalan putra anda panglima Lim Bao!" seru Saudagar Siok Cheng yang mulai berani menghadapi panglima Lim Bao.


"Saudagar Siok Cheng! Kau telah bersama gadis itu biarpun engkau tidak langsung menjadi pemberontak, berarti kau sudah bersekongkol dengan pemberontak! Puteraku telah dihina, berarti akulah yang dihina! Hayo cepat berlutut dan minta ampun, baru aku mungkin dapat mengampunimu!" bentak Panglima Besar Lim Bao itu dengan geram.


"Kurang ajar!" umpat saudagar Siok Cheng dengan wajah berubah merah dan matanya bersinar penuh kemarahan.

__ADS_1


Dia adalah seorang yang berjiwa patriot, dalam arti kata bukan menentang penjajah Mongol dengan kekerasan, melainkan berusaha mencapai kedudukan agar dengan kekuasaannya dia dapat membela rakyat bangsanya. Dia seorang yang selalu membela kebenaran dan keadilan.


Dalam membela keluarga Siok dia sama sekali tidak merasa bersalah. Maka ketika diancam dan digertak agar dia berlutut minta ampun, tentu saja dia tidak sudi melakukannya.


 "Panglima Lim Bao!" seru Saudagar Siok Cheng itu dengan sikap tegak dan gagah.


 "Saya tidak pernah melakukan kesalahan apa pun terhadap kalian. Kenapa saya harus berlutut minta maaf? Berlutut minta ampun berarti mengakui kesalahan, padahal saya tidak bersalah apa-apa!" seru Saudagar Siok Cheng dengan kesal.


"Apa k Nenek nwau tidak mau berlutut minta ampun?" bentak Panglima Lim Bao dan kini kemarahannya memuncak.


"Saya tidak mau melakukan-nya Panglima Lim Bao!' seru Saudagar Siok Cheng itu dengan geram.


"Siok Chen! kau bersekongkol dengan pemberontak! Itu berarti kalian berani menentang dan melawan aku!" seru panglima Lim Bao denga kedua mata yang nanar menatap saudagar Siok Cheng.


"Saya tidak menentang anda panglima Lim Bao! tapi saya menjaga kehormatan keluarga saya!" seru Saudagar Siok Cheng itu yang bangkit dari duduknya.


"Bangsat...!" umpat Lim Bao yang bergerak dengan cepat, tangan kanannya memukul dengan telapak tangan ke arah dada Siok Cheng.


Pukulan itu cepat sekali datangnya dan mengandung tenaga dalam yang amat dahsyat.


"Syuuuuttt...... desss!!"


Tubuh tinggi kurus Saudagar terkaya di Cin Yang itu terlempar ke belakang, menabrak dinding dan roboh menelungkup, tewas seketika. Darah mengucur dari mulut, hidung dan telinganya.


Setelah memukul Saudagar Siok Cheng itu hingga tewas, kemarahan Lim Bao sudah mereda.


"Ayo kita pulang!" seru Lim Bao sambil membalikkan tubuh dan melangkah lebar keluar dari gedung itu.

__ADS_1


Dia tidak mempedulikan ratap tangis istri saudagar Siok Cheng yang segera terdengar riuh rendah di ruangan depan itu, memeluk tubuh suaminya yang sudah tak bernyawa lagi itu.


Setibanya di halaman gedung, Panglima Lim Bao hendak memberi isyarat kepada pasukannya untuk kembali pulang.


"Ayah, aku minta pinjam sepuluh perajurit untuk memberi hajaran kepada keluarga Siok yang lainnya!" pinta Lim Mao yang menghentikan langkah mereka.


"Hm...! ambil saja!" seru Panglima Lim Bao yang kemudian pergi diikuti dua puluh prajurit karena yang sepuluh prajurit bersama Lim Mao.


Dengan bangga dan girang, Lim Mao lalu memimpin sepuluh orang prajurit pilihan itu, kemudian dia duduk di atas punggung kudanya dengan wajah berseri dan dada dibusungkan.


Dia mengajak sahabat Kun Cie untuk "membalas dendam" kepada keluarga Siok yang lainnya. Tentu saja Kun Cie, seorang putera tunggal Kepala Pengadilan Kun Hok itu merasa gembira sekali, apalagi Saudagar Siok Cheng sudah dibunuh oleh Panglima Lim Bao.


Kun Cie menunggang kuda dengan sikap angkuh di samping Lim Mao yang dikawal sepuluh orang perajurit pilihan, menuju ke rumah Siok Kung.


Siok Kung adalah paman Siok Eng dan Siok Hwa, yang berarti kakak laki-laki kandung ayah mereka Siok Cheng.Kedua gadis itu memang bersembunyi di rumah paman mereka.


Penduduk kota Cin-yang yang berada di jalan dan melihat dua orang pemuda itu, mengerutkan alis dan mereka heran melihat dua orang yang terkenal sebagai penjahat wanita itu berani muncul kembali setelah setahun lebih tak pernah tampak di tempat umum.


"Pasti akan terjadi sesuatu yang gawat di sekitar kita!" bisik salah satu penduduk yang melihat Lim Mao dan Kun Cie melewati mereka dengan perasaan khawatir.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2