
Ketika Hok Cu yang berlari meninggalkan tempat pesta itu, diam-diam ada dua orang pemuda yang juga ikut pergi meninggalkan pesta.
Hal ini tidak diketahui oleh semua orang, karena memang pesta sudah mulai kacau dan orang-orang bergerak ke sana-sini dengan bebasnya.
Dua orang pemuda itu bukan lain adalah San Bo dan Tek Su, dua orang pemuda yang sejak tadi sudah dibakar nafsu berahi. Pertama kali ketika melihat Hok Cu di pantai bersama Siang Koan, kemudian melihat gadis yang dijadikan korban.
Melihat peristiwa keributan di pesta, di mana Hok Cu hendak melepaskan dua orang korban kemudian dirobohkan Lui Seng dan dimarahi gurunya, kemudian melihat betapa gadis itu lari meninggalkan ruangan pesta, dua orang pemuda ini pun diam-diam keluar dan mencari Hok Cu.
Pada saat Hok Cu yang sudah kelelahan itu tertidur di atas pasir, telentang dalam keadaan pulas, dua sosok bayangan orang menghampirinya dengan hati-hati sekali.
Kaki mereka melangkah perlahan-lahan, sedikit pun tidak menimbulkan suara tehingga gadis remaja yang sedang pulas itu sama sekali tidak mendengar apa-apa dan masih enak saja tidur nyenyak dengan napas lembut dan panjang.
Akan tetapi ternyata Hok Cu itu memiliki kepekaan yang melebihi orang-orang dewasa atau orang-orang tua. Bahaya besar yang mengancam dirinya itu seolah-olah menggerakkan sesuatu di dalam tubuhnya yang menyembunyikan tanda bahaya sehingga tiba-tiba saja Hok Cu seperti orang tergugah dan terkejut, membuka matanya.
Namun ternyata terlambat sudah, sebuah totokan membuat tubuhnya menjadi lemas dan tenaganya hilang. Gadis itu mampu terbelalak saja ketika mengenal dua buah wajah di bawah sinar bulan purnama.
Wajah San Bo dan Tek Su, dua orang murid perguruan di Liong-san yang menjadi tamu gurunya. Dan dua buah wajah itu kini dalam penglihatan Hok Cu amat menakutkan.
Dua buah mulut itu menyeringai lebar di nafsu mereka mendengus panas, mata mereka juga beringas seperti mata bintang buas kelaparan.
Hok Cu yang belum berpengalaman itu tidak dapat menduga apa yang mereka kehendaki, namun naluri kewanitaannya mengisaratkan ancaman bahaya besar bagi dirinya, membuat ia mengerahkan seluruh kekuatan dalam tubuhnya untuk membebaskan diri.
Namun percuma saja karena totokan yang di lakukan oleh San Bo itu membuat kedua kaki dan kedua tangannya menjadi seperti lumpuh.
Tingkat kepandaian dan tenaga dari dua orang pemuda itu tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri. Jika saja Hok Cu tidak dicurangi dengan ditotok selagi tidur gadis itu tidur, tentu ia mampu melawan dua orang ini dan ia tidak gentar walaupun dikeroyok oleh dua orang macam murid Lui Seng itu.
"Kurang ajar kalian...!" maki Hok Cu yang hanya mampu memaki dengan suara yang lemah.
__ADS_1
San Bo si pemuda kurus kering yang bermuka pucat itu, mendekatkan mulutnya dengan menyeringai dan hidungnya hampir menyentuh pipi Hok Cu.
Gadis remaja ini sedapat mungkin memutar lehernya menjauhkan mukanya dan dengan jijik ia merasa betapa napas pemuda itu meniup ke leher Hok Cu.
"A..apa yang kalian lakukan...!" gerutu Hok Cu dengan suara yang masih lemah.
"Ha....ha....ha...! Apa yang kami lakukan? Hok Cu yang manis, kau tentu mengerti sendiri. Jangan hanya memperhatikan Siang Koan seorang. Kami pun dua orang pemuda yang gagah perkasa, murid seorang guru, penguasa Pegunungan Liong-san." jawab San Bo dengan terkekeh.
"Benar sekali kakak seperguruan!" seru Tek Su, si muka yang tampan akan tetapi bopeng itu pun mendekat dan tangannya mulai merenggut lepas pakaian yang menutupi tubuh Hok Cu.
"Mari kita bertiga bersenang-senang di pantai ini, di atas pasir, di bawah sinar bulan purnama. Alangkah indahnya, alangkah asyik dan nikmatnya!" seru San Bo dengan riangnya.
Kini jantung dalam dada Hok Cu berdegup penuh rasa ngeri dan ketakutan. Baru sekali ini ia benar-benar merasa takut membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya.
Dua orang pemuda itu seperti berlumba merenggut lepas semua pakaiannya. Ia berusaha untuk meronta, memberontak, memekik, menjerit, akan tetapi hanya dalam batin saja karena kaki tangannya tetap tidak mampu digerakkan dan suaranya hanya keluar dengan lemah saja.
Hok Cu merasa muak dan jijik mau muntah rasanya. Akan tetapi rasa takut mengatasi semua rasa jijik ini matanya terbelalak, jiwanya meronta, tahu bahwa ia sama sekali tidak berdaya dan sebentar lagi tentu ia akan diperkosa.
Dua orang pemuda itu seperti dua ekor ikan merebutkan makanan, menciumi wajah dan mulut Hok Cu dan tangan mereka meraba dan membelai wajah Hok Cu.
"Tunggu dulu...! dengarkan omonganku...!" seru Hok Cu yang sedapat mungkin diantara ciuman-ciuman mereka yang semakin panas.
Ia pun mulai merasa ngeri mengingat akan tanda tahi lalat merah kecil di bawah siku lengan kirinya. Dahulu gurunya pernah memberitahu kepadanya bahwa kalau keperawanannya hilang tanda itu akan lenyap dan dalam waktu sebulan ia akan mati.
Ia akan diperkosa kehilangan kehormatannya secara hina sekali, kemudian ia akan mati.
"Nanti dulu, dengarkan aku...!" kembali Hok Cu berseru dan berusaha membujuk.
__ADS_1
Dua orang pemuda itu sambil menyeringai menghentikan ciuman dan rabaan mereka.
"Hm, aduh cantikku! kau sungguh cantik dan panas! kau mau bicara apa, sayang?" tanya Tek Su yang penasaran.
Hok Cu mengulas senyumnya yang membuat dua orang pemuda itu terpesona dan merasa girang.
Mereka berpikir kalau gadis itu tersenyum kepada mereka itu karena ciuman dan belaian mereka tadi membuat gadis itu pun mulai menikmati permainan cinta mereka.
"Kalian ini sungguh dua orang laki laki yang bodoh sekali. Bagaimana kita dapat menikmati permainan cinta kalau aku tertotok seperti ini? Kalian sama saja bermain cinta dengan sesosok mayat, aku merasa tidak leluasa dan tidak dapat menikmati cinta kalian dalam keadaan tidak mampu bergerak begini. Kalau kalian membebaskan totokan ini, tentu kita akan dapat bermain cinta lebih asyik lagi!' bisik Hok Cu dengan masih mengulas senyumnya yang manis.
Dua orang pemuda itu saling pandang dan kemudian tertawa gembira.
"Ha....ha.....ha...! dia benar sekali saudaraku! Kita bebaskan totokannya dan kita bergiliran bermain cintanya!" seru Tek Su yang memberi saran.
"Nanti dulu saudaraku. Kita harus yakin benar bahwa ia tidak menipu kita. Ikat dulu kaki dua lengannya dengan ikat pinggangnya itu." ucap San Bo yang biarpun sudah diamuk nafsunya sendiri, ternyata dia lebih cerdik daripada adik seperguruannya itu.
Mereka menelikung kedua tangan Hok Cu ke belakang, lalu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan kuat-kuat, menggunakan ikat pinggang Hok Cu sendiri yang tadi mereka renggut lepas.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...