Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 258


__ADS_3

Ilmu mengubah diri dengan penyamaran yang amat rapi ini dia pelajari dari ayahnya, berikut ilmu sihir dan penggunaan obat paLang yang mengeluarkan asap tebal.


Keterangan yang diberikan petugas kuil kepada Hong Lan itu memang benar. Aliran Bumi dan Langit yang urusan luarnya dilaksanakan oleh perkumpulan Aliran Bumi dan Langit, akan mengadakan perayaan ulang tahun dari ketua perkumpulan aliran itu. Ketua Aliran Bumi dan Langit adalah Lui Seng dan kalau semua anggota mengenakan pakaian biasa walaupun para petugas kuil berseragam kuning putih, namun ketuanya ini kalau bertemu dengan orang luar atau kalau kebetulan keluar dari kuil selalu mengenakan jubah longgar berwarna kuning walaupun rambutnya tidak dicukur.


Tiga tahun yang lalu, setelah bersama Mo Li berhasil mengembangkan Aliran Bumi dan Langit, Lui Seng secara resmi, disaksikan semua anggauta dan para tamu undangan, menyatakan dirinya sebagai ketua aliran dari aliran Bumi dan Langit.


Sedangkan Mo Li diangkat sebagai wakil ketua Aliran Bumi dan Langit.


Karena kedua orang ketua ini dapat bekerja sama dengan amat baiknya dan keduanya memang merupakan tokoh-tokoh yang berkepandaian tinggi, maka Aliran Bumi dan menjadi perkumpulan yang besar dan berpengaruh, sedangkan aliran Bumi dan Langit juga menarik banyak orang menjadi anggautanya.


Kedua orang tokoh ini tidak bodoh. Mereka tidak mau lagi sembarangan melakukan upacara korban kepada patung dewa iblis dengan darah pemuda dan perawan.


Kalau hal ini mereka lakukan, maka mereka melaksanakannya dengan sembunyi dan hanya untuk kepentingan mereka memperkuat ilmu hitam mereka saja.


Bagi para anggauta dan penganut, korban berupa sumbangan barang berharga atau uang.


Untuk menyambut perayaan peringatan ulang tahun yang ke tiga, semua anggauta Aliran Bumi dan datang berkumpul. Jumlah mereka tidak kurang dari tiga ratus orang.


Dan mereka juga mengundang sahabat-sahabat mereka yang terdiri dari tokoh-tokoh dunia persilatan para tokoh sesat yang biarpun tidak menjadi anggauta Aliran Bumi dan Langit dan bukan penganut aliran Bumi dan Langit, namun merupakan sahabat dari Mo Li atau dari Lui Seng.


Sejak pagi, sudah berdatangan para anggota dari luar daerah Ceng-touw utusan dari cabang-cabang, dan berdatangan pula para undangan, yaitu tokoh-tokoh dunia persilatan yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang.

__ADS_1


Di antara mereka yang mendapat tempat kehormatan di panggung bersama dua orang ketua itu adalah para sahabat lama seperti Siang Bok dengan puteranya Siang Tek, Kok Sian dengan muridnya San bo dan masih banyak lagi. Dua orang murid utama Aliran Bumi dan Langit Lui Seng, yaitu Siok Boan dan Kian So menjadi penyambut para tamu undangan itu dan mereka berdua mempersilakan para tamu yang terpilih untuk duduk di panggung kehormatan.


Yang lainnya duduk di kursi sebelah bawah bersama utusan dari cabang-cabang, kemudian paling belakang duduk para anggota Aliran Bumi dan Langit.


Di atas panggung yang luas itu, selain kursi para pengurus dan para undangan yang mendapat tempat kehormatan juga terdapat sebuah meja sembahyang besar penuh dengan hidangan sembahyang dan di belakang meja berdirilah sebuah patung yang menyeramkan, yaitu patung Raja Iblis yang mereka sembah dan puja.


Dengan sikap ramah ketua dan wakil ketua yang duduk sebelah menyebelah di atas panggung menyambut para tamu yang sebelum dipersilakan duduk lebih dahulu memberi hormat kepada mereka sambil mengucapkan selamat.


Sebagai wakil ketua Mo Li nampak anggun dan berwibawa. Dalam usianya yang sudah hampir enam puluh tahun itu, wanita ini masih nampak mu dan cantik. Hal ini dibantu sekali ole wataknya yang pesolek, dengan pakai serba indah terbuat dari sutera ya mahal, rambutnya yang disanggul ke atas dihiasi perhiasan emas permata dan sambil tersenyum-senyum manis nenek itu duduk mengipasi dirinya dengan sebuah kipas yang dipegang di tangan kirinya.


Setiap kali menerima kehormatan dari tamu yang baru tiba, ia menutup kipas itu dan membalas penghormatan dengan merangkap kedua tangan di depan dada. Dilihat begitu saja, ia merupakan seorang nenek yang masih cantik dan pesolek, dan kipas itu nampaknya seperti perlengkapan pakaian saja atau untuk bergaya.


Akan tetapi, bagi yang sudah, mengenal siapa Mo Li, akan memandang kipas yang indah itu dengan hati ngeri dan gentar. Mereka tahu bahwa kipas di tangan wanita itu merupakan sebuah senjata yang ampuh dan berbahaya sekali.


 Dengan sikap yang dibuat-buat seperti sikap seorang alim, dia menyambut para tamu yang datang mengucapkan selamat kepadanya.


Akhirnya tibalah saatnya upacara dimulai. Pertama-tama akan diadakan sembahyangan besar-besaran. Seorang di antara murid-murid Aliran Bumi dan Langit sudah membakar ujung hio-swa dan kedua orang ketua itu sudah bangkit dari tempat duduk mereka.


Akan tetapi pada saat itu, di depan tempat perayaan, tepat di tengah-tengah lorong yang menuju ke situ, nampak asap tebal mengepul setelah terdengar suara ledakan keras.


Tentu saja semua orang menjadi kaget, tidak terkecuali dua orang ketua itu. Mereka sudah berloncatan menuju ke halaman itu. Akan tetapi, setelah asap tebal itu perlahan-lahan buyar tertiup angin dan akhirnya terbang ke udara, di situ tidak nampak sesuatu.

__ADS_1


Semua orang bertanya-tanya siapa gerangan yang menimbulkan ledakan yang diikuti asap tebal itu. Tidak nampak seorang pun di situ yang asing bagi mereka. Lui Seng saling pandang dengan Mo Lim


Kedua orang ketua ini terkejut dan heran. Akan tetapi diam-diam Lui Seng merasa ngeri. Asap tebal itu mengingatkan dia akan gurunya, yaitu Hong Cu.


Akan tetapi, tidak mungkin gurunya muncul seperti itu, apalagi sekarang tidak nampak seorang pun manusia di dalam asap tebal itu. Semenjak gagal dalam usahanya mengadu domba antara para pendekar dan para biksu, Hong Cu melarikan diri dan tak pernah pula Lui Seng mendengar tentang gurunya itu, apalagi bertemu.


Dan dia pun segera melegakan hatinya. Andaikata benar gurunya yang datang, dia tidak perlu takut karena bukankah selama ini dia berjasa dengan mengembangkan aliran Bumi dan Langit yang didirikan oleh Hong Cu.


Setelah masing-masing menerima segenggam dupa biting dan menyaksikan oleh semua tamu dan juga para anggota aliran Bumi dan Langit.


Dimana mereka yang sudah menjatuhkan diri berlutut dan menghadap ke arah patung intuk ikut menghormati patung itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2