
Tentu saja biksu Hek Bin itu tidak tega begitu saja dan diam-diam kakek ini membayangi perjalanan Hok Cu dan dua muda-mudi itu dari kejauhan.
Hok Cu bukan gadis yang tanpa perhitungan, tapi dia cerdik sekali. Kalau ia berani mengantar dua orang muda itu kembali ke dusun tanpa khawatir akan dihadang oleh gurunya, bukan karena ia berani menghadapi ancaman bahaya itu.
Melainkan karena ia sudah memperhitungkan bahwa gurunya dan Lui Seng yang baru saja menerima hajaran hebat dari Biksu Hek Bin, sudah pasti tidak akan berani sembarang-an keluar dan melakukan kejahatan lagi untuk sementara waktu ini.
Mereka tentu menjadi jerih, maklum bahwa kepandaian mereka sama sekali tidak mampu menandingi kesaktian Biksu Hek Bin. Selain ini, juga gadis cerdik ini memperhitungkan bahwa tidak mungkin suhunya yang baru itu akan membiarkan saja ia terancam bahaya, la sudah hampir merasa yakin bahwa suhunya tentu akan membayanginya dan melindunginya.
Hok Cu disambut dengan gembira oleh para penduduk dusun ketika ia mengiringkan dua orang muda yang lenyap diculik "iblis" seperti yang dipercaya oleh para penduduk dusun itu.
Gadis itu menasihati mereka agar bekerja sama dan bersatu padu untuk menghadapi ancaman bahaya dari orang-orang jahat. Setelah itu, ia pun meninggalkan mereka dan kembali ke dalam hutan di mana ia mendapatkan gurunya yang masih duduk bersila dalam samadhinya.
Biar dalam samadhi, tetap saja mulut gurunya itu tersenyum lebar, dan Hok Cu tidak berani mengganggu suhunya, melainkan seger duduk bersila tak jauh dari situ dan ikut bersamadhi.
Hok Cu bersamadhi seperti biasa, seperti diajarkan oleh gurunya. Bersamadhi degan satu tujuan tertentu, yaitu untuk menghimpun kekuatan batin dan membangkitkan tenaga sakti dari pusar.
Akan tetapi tiba-tiba saja, selagi ia hampir tenggelam dalam samadhi, ia mendengar suara yang besar dan dalam dari gurunya Biksu Hek Bin.
"Semedhi berarti memasuki keheningan jiwa raga. Buang semua pamrih dan tujuan, biarkan diri kosong dan curahkan semua kesadaran kepada penyerahan diri lahir batin kepada Tuhan, Kekuasaan yang terdapat di luar dan di dalam dirimu. Kosong tenang hening."
Hok Cu mentaati petunjuk ini, membuang semua keinginan mencapai suatu tujuan dan ia tenggelam ke dalam keheningan, membiarkan dirinya diseret arus yang amat halus, yang menghanyutkannya dan ia membiarkan dirinya dengan pasrah, pasrah kepada Tuhan dan andaikata pada saat itu nyawanya dicabut sekalipun, karena ia sudah menyerahkan diri, maka ia pun tidak merasa takut.
__ADS_1
Kurang lebih sejam kemudian, suara panggilan yang lapat-lapat menyadarkan Hok Cu dari samadhinya.
"Tenaga sakti dari pusar selalu dihamburkan keluar melalui sembilan lubang dalam tubuh kita. Karena itu, perlu kita melatih diri untuk menutup lubang-lubang itu dari dalam. Sekarang kita melatih diri untuk menutup lubang yang paling bawah, lubang *****. Tarik napas sedalam mungkin, sampai sepenuhnya, lalu tahan sekuatnya, tanpa paksaan, sesudah itu, keluarkan napas perlahan-lahan dan pada saat keluarkan napas, tutuplah lubang *****, pertahankan dan tutup terus sampai napas habis dikeluarkan, lalu tahan dalam keadaan tanpa napas, lubang ***** terus ditutup rapat-rapat. Setelah bernapas kembali, baru buka lubang ***** dan ulangi seperti tadi. Cukup tujuh kali setiap kali latihan." ucap biksu Hek Bin.
Hok Cu mentaati semua petunjuk gurunya dan mulailah ia menerima latihan pernapasan dan semadhi yang jauh berbeda dengan latihan yang diterima dari gurunya Mo Li.
Matahari sudah condong ke barat ketika biksu Hek Bin mengajak muridnya meninggalkan tempat itu. Mulai hari itu, Hok Cu menjadi murid Hek Bin, meninggalkan rumah Mo Li berikut seluruh pakaiannya. Ia mengembara bersama biksu Hek Bin, mempelajari ilmu-ilmu, hidup sederhana seperti pertapa, mengunjungi Himalaya dan tempat-tempat lain yang selama ini hanya didengarnya seperti dongeng saja.
Selama lima tahun kurang lebih ia menerima gemblengan biksu Hek Bin dan kini Hok Cu telah berubah sama sekali. Bukan lagi gadis remaja yang berwatak keras dan ganas, bahkan dapat bersikap kejam terhadap musuh-musuhnya, tidak mengenal ampun.
Saat ini Hok Cu telah menjadi seorang gadis dewasa, berusia kurang lebih dua puluh tahun yang cantik manis namun sederhana dan yang masih tinggal hanyalah sikapnya yang riang gembira dan jenaka walaupun di balik kejenakaannya itu terdapat watak yaraj mendalam dan seperti watak orang yang telah matang dalam gemblengan pengalaman hidup.
Gurunya yang sudah amat tua itu menyatakan bahwa sudah tiba saatnya Hok Cu turun gunung dan tiba saatnya mereka berpisahan karena Hek-bin Hwesio ingin bertapa sampai maut da tang menjemputnya.
Kelihatannya saja gadis cantik manis ini tidak bersenjata, akan tetapi sesungguhnya, di balik bajunya, terselip dipinggangnya, ia mempunyai sebatang pedang. Pedang yang amat aneh! Sarung dan gagang itu cukupi indah, dengan ukir-ukiran burung Hong, dengan ronce-ronce merah.
Pedang itu pemberian biksu Hok Bin kepada muridnya.
"Jagalah baik-baik pedang ini, Hok Cu, pedang ini memang sengaja dibuat tidak tajam dan tidak tumpul untuk mengingatkan pemakainya bahwa senjata ini bukan dibuat untuk membunuh orang. Gagang dan sarungnya indah akan tetapi terbuat dari tembaga disepuh emas, pedangnya sendiri jelek sekali namun terbuat dari baja yang sukar dicari bandingnya. Ini untuk mengingatkan bahwa yang amat indah di luar itu hanyalah palsu, yang terpenting adalah dalamnya. Lebih baik jelek sederhana namun bermanfaat daripada gemilang dan mewah namun tidak ada gunanya." pesan biksu Hek Bin.
Hok Cu berlutut di depan kaki gurunya pada saat akan turun gunung. Ia memang telah berubah sama sekali, bukan hanya karena gemblengan ilmu-ilmu silat yang tinggi melainkan terutama sekali gemblengan batin dari gurunya.
__ADS_1
"Kenapa murid tidak boleh tinggal bertapa di sini dan hidup di kuil? murid melihat betapa dunia ini penuh dengan dosa. Kalau murid memasuki dunia ramai, bagaimana murid dapat mencegah terjadinya perbuatan dosa? murid tentu akan terseret hanyut dalam arus pertentangan antara baik buruk, dan kalau murid berpihak kepada yang baik, dengan sendirinya murid akan menentang dan berlawanan dengan yang jahat. Murid ingin membaktikan diri kepada Tuhan dan hidup tenang tentram di pegunungan, dalam sebuah kuil atau gua." kata Hok Cu.
"Ha....ha....ha....!" Biksu Hek Bin yang tertawa bergelak.
"Itu akan menyalahi garis hidupmu, Hok Cu. Tidak, kau tidak berbakat menjadi biksuni. Tugasmu sebagai orang yang memiliki ilmu silat amatlah banyaknya dan juga amat penting. Kini, kejahatan merajalela, rakyat hidup sengsara karena pemerintah yang lemah tidak mampu melindungi mereka." kata Biksu Hek Bin.
"Bahkan kaki tangan pemerintah sendiri yang melakukan penyelewengan menambah beban rakyat dengan adanya kerja paksa dan korupsi. Jadi tugasmu adalah membantu kaum lemah dan memberantas para penindas rakyat." pesan Biksu Hek Bin.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1