Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 175


__ADS_3

Seperti seorang anak kecil, ia pun berlompatan masuk kedalam tokonya, wajahnya riang gembira namun kadang-kadang jantungnya berdebar dan mukanya berubah merah ketika teringat kepada wajah Han Beng.


Kwe Ong memang jatuh sakit. Tubuhnya seperti menjadi medan perang antara panas dan dingin. Kadang-kadang dia merasa tubuhnya panas seperti dibakar, kadang-kadang dingin seperti akan membeku, dan kalau sudah datang batuknya, maka batuknya itu susul menyusul dan terus menerus membuat dadanya terasa sesak.


Akhirnya dengan terpaksa dia dan muridnya yang tiba di kota raja, menghentikan perantauan mereka dan Kwe Ong tinggal di sebuah kuil tua yang telah terbelengkalai, di sebuah bukit di sebelah barat kota raja.


Siang hari itu, terdengar dia terbatuk-batuk sehingga dia tidak tahu bahwa muridnya dan dua orang laki-laki memasuki kuil tua itu.


"Guru...!" panggil Han Beng sambil berlutut di depan gurunya yang terbaring miring menghadap ke arah dinding.


"Oh, kau sudah datang, Han Beng! ukh-ukh-uhh....!" balas Kwe Ong yang masih terbatuk-batuk.


"Guru, murid datang bersama dua orang yang ingin menghadap guru." kata Han Beng yang mengutarakan kedatangannya.


Kemudian Kwe Ong bangkit dan memutar tubuhnya, melihat dua orang yang lah duduk bersila di situ dengan sikap hormat. Yi Tiong dan Cui Siong segera memberi hormat kepada pengemis tua itu.


"Pendekar tua saya Yi Tiong, adalah seorang murid luar dari perguruan Elang Sakti." kata Yi Tiong yang memperkenalkan diri.


"Saya adik seperguruannya pendekar tua, nama saya Cui Siong dan saya pernah berjumpa dengan pendekar tua ketika bersama-sama membela penduduk Ki-nyan-tung. Saya salah seorang murid dari perguruan Elang Sakti." kata Cui Siong yang memperkenalkan dirinya juga.


Walaupun kelihatan kalau Kwe Siong sedang menderita sakit, dan wajahnya pucat dan mukanya penuh keringat, tapi dia nampak gembira ketika mendengar pengakuan mereka itu.


"Ah, kiranya orang-orang gagah dari perguruan Elang Sakti yang datang! Selamat datang, selamat datang! Hei Han Beng, bagaimana kau sampai dapat bertemu mereka dan membawa mereka ke tempat kita yang kotor ini?" tanya Kwe Ong pada muridnya.


Han Beng lalu menceritakan tentang peristiwa ketika dia minta obat kepada puteri Yi Tiong tadi selanjutnya pertemuannya dengan Yi Tiong dan Cui Siong.


Mendengar cerita Han Beng ini, Kwe Ong mengerutkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Ah, bagaimana mungkin itu? perkumpulan pengemis sabuk merah adalah perkumpulan pengemis di kota raja yang dipimpin oleh Sin Kai, bukan?" tanya Kwe Ong yang penasaran.


"Benar sekali, pendekar tua. Sin Kai adalah ketua perkumpulan pengemis sabuk merah." jawab Yi Tiong.


"Nah...! Aku sudah mengenal baik orang itu! Dan dia bukan orang jahat


karena dia menjunjung tinggi kebenaran dan bahkan menentang segala penindasan. Bagaimana dua orang anak muridnya dapat bersikap seperti itu?" tanya Kwe Ong yang penasaran.


"Memang benar sekali apa yang pendekar tua katakan. Memang dahulu perkumpulan pengemis sabuk merah terkenal sebagai perkumpulan yang baik. Biarpun anggota-anggotanya mengemis, akan tetapi tidak pernah melakukan kejahatan, bahkan suka membantu kalau rakyat diperas dan ditekan oleh mereka yang berkuasa." jawab Yi Tiong.


"Akan tapi akhir-akhir ini, sudah kurang lebih setahun lamanya, mereka berubah. Banyak anggauta baru dan mereka ini bersikap tidak lagi sebagai pengemis, melainkan lebih mirip penodong, perampok dan tukang-tukang pukul. Tak ada yang berani menentang karena selain di antara mereka terdapat banyak orang lihai, juga mereka dekat dengan para pembesar yang berpangkat tinggi." jelas Cui Siang yang menambahkan jawaban Yi Tiong.


Lalu YibTiong menawarkan diri pada Kwe Ong, untuk beristirahat saja di rumahnya agar lebih terawat dan dekat dengan ahli dan obat-obatannya.


Pada awalnya Kwe Ong tak mau, tapi setelah Cui Siong ikut membujuk, akhirnya Kwe Ong menerima undangan ini dan pergilah mereka berempat ke rumah Yi Tiong.


Bukan main girangnya rasa hati Yi Hui ketika menerima dua orang tamunya itu. Sinar matanya yang bening itu kadang-kadang menyambar ke arah Han Beng, sinar matanya yang tajam bersinar akan tetapi kalau bertemu pandang.


Yi Hui pun menunduk dan sikapnya malu-malu. Han Beng sendiri kagum bukan main kepada gadis itu, kagum dan juga suka karena gadis cantik itu selain gagah perkasa, lihai dan pemberani, juga berhati lembut dan suka menolong.


Yi Tiong yang duda itu menjamu Kwe Ong dan muridnya dengan hati gembira. Dia telah memeriksa keadaan tubuh kakek gembel itu dan dengan lega mendapatkan bahwa penyakitnya tidaklah berbahaya, penyakit biasa yang suka mengganggu orang lanjut usia.


Dengan istirahat dan pengobatan yang cepat, dalam waktu beberapa hari saja kakek itu akan pulih kembali kesehatannya, apalagi dia memiliki tubuh yang amat kuat.


Selagi pihak tuan rumah menjamu Han Beng dan gurunya, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di luar toko yang sudah ditutup pada sore hari itu. Seorang pelayan berlari memasuki ruangan makan dengan muka pucat dan melapor kepada Yi Tiong dengan suara gagap.


"Celaka, tuan....! orang-orang perkumpulan pengemis sabuk merah dan pasukan perajurit keamanan! Mereka berada di depan rumah!" seru pelayan itu.

__ADS_1


Mendengar hal ini Yi Tiong bangkit dari duduknya dan cepat keluar, diikuti oleh Yo Hui juga Cui Siong. Han Beng dan gurunya saling pandang, kemudian Yi Tiong yang sudah mendengar keterangan muridnya tentang peristiwa dengan perkumpulan pengemis sabuk mereh itu menyatakan kekhawatirannya.


"Aduh, kalau sampai keluarga Yi tertimpa malapetaka yang disebabkan oleh kita, sungguh akan membuat hatiku merasa tidak enak sekali. Kita harus turun bertanggung jawab, Han Beng. Mari kita keluar!" seru Kwe Ong pada muridnya.


"Guru benar, ayo kita keluar dari sini!" balas Han Beng dan keduanya keluar dari rumah itu dengan melangkahkan kaki keteras rumah.


Ketika guru dan murid ini keluar, ternyata bagian depan rumah itu telah dikepung oleh belasan orang yang berpakaian pengemis sabuk merah, juga ada dua puluh orang lebih perajurit keamanan yang dipimpin seorang perwira.


Mereka mendengar perdebatan antara Yi Tiong dan para pimpinan pengemis juga terdengar suara perwira itu membentak pada Yi Tiong.


"Yi Tiong! kau berani sekali menyembunyikan mata-mata pemberontak! Hayo keluarkan orang itu dan berikan kepada kami, dan kalian sekeluarga juga harus ikut ke benteng untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian!" seru salah satu ketua rombongan itu.


 "Tuan-tuan sekalian, harap tidak mendengarkan fitnah yang keji itu. Selama bertahun-tahun, kami keluarga Yi tinggal dengan aman dan damai di sini, tidak pernah membuat kekacauan dan siapakah yang tidak mengenal kami sebagai ahli pengobatan yang sudah banyak tak menolong orang sakit? Bahkan di antara para perwira dalam benteng sudah banyak yang Kami sembuhkan!" jelas Yi Tiong yang membela diri.


"Dasar pembohong! Kau adalah murid dari perguruan Elang Sakti!" seru seseorang yang tiba-tiba muncul di antara para pimpinan pengemis itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


...   ...


__ADS_2