Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 292


__ADS_3

Bagaimanapun juga, dia adalah putera mendiang Hong Cu dan memiliki kepandaian yang tinggi. Dia sudah tahu akan kehebatan pemuda tinggi besar itu, akan tetapi tidak ada jalan lain untuk menghindari pertandingan ini.


"Lihat pedangku.....!" bentaknya dengan sikap yang gagah.


Pedangnya menyambar diikuti gerakan suling yang menotok ke arah dada.


"Bagus!" seru Han beng sambil mengelak, kagum juga karena serangan itu selain indah juga berbahaya.


Akan tetapi, baru saja dia mengelak, sinar pedang dan sinar suling itu sudah menyambar-nyambar lagi. Demikian cepatnya gerakan serangan Hong Lan, susul-menyusul dan sambung-menyambung.


Dengan terpaksa Han Beng meloncat ke belakang untuk melepaskan diri dari desakan serangan beruntun itu.


"Han Beng, pakailah pedangku!" seru Hok Cu sambil melemparkan pedangnya ke arah Han Beng. Sebenarnya Han Beng tidak perlu meminjam pedang, akan tetapi karena Hok Cu telah melemparkan pedangnya kepadanya, terpaksa dia menerimanya.


"Terima kasih, Hok Cu." kata Han Beng.


Hong Lan mempergunakan kesempatan selagi Han Beng menyambut pedang yang dilontarkan itu, menyerang dengan sulingnya, menotok ke arah tengkuk Han Beng yang baru menoleh untuk menyambar pedang yang melayang ke arahnya.


Walaupun tidak melihat serangan ini, namun pendengaran Han Beng amat tajam dan dia tahu bahwa tengkuknya berancam, maka dia melempar tubuh ke samping sambil tangannya nenyambar pedang lalu bergulingan dan melompat berdiri lagi dengan pedang tumpul di tangannya.


"Hiaaaaat ...!"


Hong Lan merasa penasaran sekali. Dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan dia sudah menyerang lagi dengan pedang dan suling, gerakannya semakin cepat dan dahsyat. Namun kini Han Beng memutar Seng-kang-kiam dan ada sinar dingin yang menyilaukan mata melindungi tubuhnya.


"Tranggggg........!"


Nampaklah bunga api berpijar dan Hong Lan cepat menarik kembali pedangnya. Untung bahwa yang dipegang juga bukan pedang murahan, melainkan pedang yang terbuat dari baja yang baik sehingga tidak sampai rusak ketika mengalami benturan sedikit tadi.


Namun dia sudah menarik sulingnya dan ia pun tidak berani mengadu pedang secara langsung.

__ADS_1


Sementara itu, ketika melibat Hok Cu meminjamkan pedangnya kepada Han Beng, Mo Li yang berwatak curang dan licik itu melihat kesempatan baik baginya. Kalau ada rasa gentar hatinya terhadap Hok Cu, hal itu terutama sekali disebabkan pedang pusaka tumpul yang amat ampuh itu.


Saat ini gadis itu telah meminjamkan pedangnya yang ia takuti kepada Han Beng, suatu kesempatan yang baik sekali baginya, sekali tubuhnya bergerak, ia telah melompat ke depan, ke dekat Hok Cu dengan pedangnya di tangan kanan dan kipas di tangan kiri!


"Hok Cu murid murtad! kau tadi menantangku! nah, kalau kau memang bukan pengecut, majulah dan terimalah kematianmu di tanganku!" seru Mo Li yang kemudian dengan cepat ia menyimpan pedang dan kipasnya kembali, pedangnya ia masukkan ke sarung pedang di punggung dan kipasnya ia selipkan di ikat pinggangnya.


"Lihat, aku pun tidak menggunakan senjata. Sambutlah seranganku!" lanjut seru Mo Li yang segera menyerang Hok Cu dengan kukunya.


Kuku jari tangan wanita itu mengandung racun yang amat jahat. Hal ini tentu saja diketahui dengan baik oleh Hok Cu, bahkan ia pernah mempelajari ilmu beracun itu.


Kukunya sendiri pun dapat ia pergunakan kukunya serangan beracun, bahkan ludahnya pun dapat ia pergunakan untuk mencelakai orang. Akan tetapi semenjak menjadi murid Biksu Hek-bin, ia tidak mau mempergunakan ilmu sesat itu.


Kini bekas guru yang ternyata menjadi pembunuh ayah bundanya itu menyerangnya dengan pukulan beracunnya, maka ia dengan cepat bergerak mengelak dan mengandalkan kegesitannya untuk melawan Mo Li.


Hok Cu tidak menduga akan kelicikan Mo Li yang sengaja menyimpan senjatanya dan menyerangnya dengan tangan kosong. Hal ini untuk memancing agar Hok Cu menerima serangannya. Kalau perlu, setiap saat ia dapat mempergunakan pedang dan kipasnya, sedangkan Hok Cu tetep bertangan kosong.


Han Beng melihat betapa Hok Cu yang diserang secara hebat oleh Mo Li. Kalau Mo Li menyerang dengan tangan kosong, dia tidak khawatir gadis itu akan kalah. Akan tetapi Mo Li memiliki senjata yang lengkap, sedangkan Hok Cu telah meminjamkan pedangnya kepada dirinya.


Pada saat lawan menusukkan suling ke arah dadanya, dia tidak mengelak melainkan menyambut dengan tangkapan tangan kirinya. Sekali dan mengerahkan tenaga memutar pergelangan tangan, suling itu telah dapat dirampasnya dan kakinya menendang. Hong Lan terkejut dan cepat melompat ke belakang pada saat tendangan melayang karena dia merasa betapa pedangnya yang tadi menempel di pedang lawan dapat ditariknya lepas.


"Hok Cu, pergunakan pedangmu!" seru Han seraya melempar pedang tumpul ke arah Hok Cu.


Mendengar suara Han Beng, Hok Cu meloncat ke belakang dan menyambar pedang yang dilontarkan oleh Han Beng.


Bukan main marahnya Mo Li ketika melihat gadis itu telah memegang kembali pedangnya. Akan tetapi ia menyembunyikan rasa jerihnya dan ia pun mencabut pedang dan kipasnya.


"Bagus, kau hendak bertanding menggunakan senjata! Lebih cepat engkau mampus di ujung senjataku!" seru Mo Li yang segera menyerang. Hok Cu.


Saat ini pedang Mo Li mengeluarkan sinar merah ketika digerakkan, namun sinar merah itu tertahan oleh sinar kehijauan dari pedang di tangan Hok Cu.

__ADS_1


"Sit....sittttt..........!"


Jarum-jarum lembut menyambar dari gagang kipas. Akan tetapi akal ini merupakan permainan kanak-kanak bagi Hok Cu yang sudah mengenal benar penggunaan jarum-jarum teracun dari kipas itu, maka dengan mudah ia mengelak ke kiri dan pedangnya sudah membalas dengan serangan kilat yang membuat Mo Li harus cepat melempar diri ke belakang sambil memutar pedang.


Sementara itu, Hong Lan yang kehilangan sulingnya, menjadi marah dan menyerang Han Beng dengan pedangnya.


Hatinya agak besar melihat HanBeng tidak lagi memegang pedang tumpul ampuh itu, melainkan hanya memegang suling yang dirampas darinya. Akan tetapi, begitu Han Beng menggerak sulingnya, Hong Lan terkejut bukan main dan tahu-tahu suling itu telah rnenghantam punggungnya.


"Plakkk!"


Dia terhuyung dan sangat terkejut, rupanya Han Beng dapat menarik suling itu sebagai senjata tongkat yang luar biasa anehnya.


Hal ini sebetulnya tidak aneh bagi Han Beng, karena pemuda itu telah menguasai ilmu tongkat yang dia pelajari dari Kwe Ong, yaitu ilmu Tongkat Dewa Mabuk.


Gerakannya yang aneh, akan tetapi lihai bukan main kelihatannya kacau balau akan tetapi tahu-tahu ujung suling yang dimainkan sebagai tongkat itu telah mencuri gerakan dan menyelonong ke punggung lawannya.


Misalnya saja Han Beng hanya mempelajar ilmu silat dari Hua Li saja, belum tentu dia akan mampu menandingi Hong Lan yang amat lihai itu. Akan tetapi, Han Beng telah digembleng oleh Kwe Ong, seorang kakek yang sakti, oleh karena itulah tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi dibandingkan Hong Lan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...

__ADS_1


...   ...


__ADS_2