Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 121


__ADS_3

Tentu saja nyali mereka seperti terbang melayang dan tanpa banyak cakap lagi keduanya meninggalkan tempat itu dengan muka pucat dan keduanya gemetaran.


Mereka kembali ke tepi sungai dimana mereka meninggalkan keluarga mereka tadi tanpa membawa sedikitpun makanan karena mereka sudah ketakutan untuk tinggal lebih lama lagi di perkampungan itu.


"Kita harus cepat meninggalkan tempat ini, melanjutkan perjalan kita," kata Hok Gi yang masih ketakutan.


"Memang benar," kata Kian Si.


"Akan tetapi kita harus berhati-hati. Sekarang, didepan sana masih banyaknya mereka sekali perahu berseliweran dan agaknya mereka adalah orang-orang jahat yang mudah membunuh orang. Sebaiknya kita menanti sampai malam menjadi sunyi, diam-diam kita melanjutkan perjalanan dan lolos dari daerah yang berbahaya ini." lanjut kata Kian Si.


Hok Gi membenarkan pendapat Kian Si dan mereka pun menanti sampai malam menjadi larut. Karena ayah mereka tidak membawa makanan, Kian Beng dan Hok Cu, dua orang anak dua Keluarga itu, segera mencoba untuk memancing ikan. Hok Cu sejak tadi mengomel terus karena perutnya terasa lapar dan ayahnya yang sejak tadi dinanti-nanti, datang tanpa membawa makanan. Dan lebih sial lagi, sejak tadi ia mengail, tidak ada ikan yang menyambar umpannya.


Hok Cu yang baru berusia sepuluh tahun itu sudah memperlihatkan tanda yang jelas bahwa kelak ia akan menjadi seorang wanita yang cantik jelita.


Akan tetapi, sebagai puteri tunggal seorang kepala dusun, ia amat manja. Biarpun manja, Hok Cu adalah seorang anak yang tidak malas dan cerdik, juga nakal. Berbeda dengan Hok Cu, Kian Beng lebih pendiam dan biarpun usianya baru dua belas tahun, Kian Beng tidak kekanak-kanakan, bahkan seperti seorang yang sudah dewasa saja.


Hal ini adalah karena sejak kecil dia hidup dalam keluarga yang tidak mampu, memaksanya sejak kecil ikut bekerja membantu ayahnya, baik mencari ikan sebagai nelayan atau bekerja di sawah ladang sebagai petani.


Tubuhnya juga tinggi besar dan kuat karena sudah terbiasa bekerja berat sejak kecil. Wajahnya tampan, mewarisi wajah ibunya yang termasuk wanaita cantik walaupun orang dusun.


Suasana di daerah Pusaran Maut itu makin malam menjadi semakin sunyi. Agaknya, ketegangan terasa diantara para tokoh kang-ouw yang hendak memperebutkan anak nag. Ketegangan menanti munculnya anak naga, ditambah dengan ketegangan karena terjadinya perkelahian dan pembunuhan besar-besaran yang terjadi sore tadi, mencekam hati semua orang dan banyak diantara mereka yang kini bersiap-siap saja di tepi sungai.


Mereka percaya akan berita atau dongeng bahwa anak naga itu muncul pada tengah malam, maka mereka pada siap di tepi sungai dengan perahu mereka, menanti datangnya malam.

__ADS_1


Bulan sudah muncul, bulan purnama yang membuat permukaan air sungai nampak keemasan. Malam telah larut biarpun tengah malam masih dua tiga jam lagi, sudah mulai ada perahu yang bersiliweran di luar daerah Pusaran maut. Menurut dongeng, anak naga akan muncul di tengah pusaran itu dan berenang keluar dari arus pusaran, karena anak naga itu ingin mencari ikan di air yang tenang. Ikan tidak terdapat di air yang terseret arus pusaran. Karena tidak dapat menentukan, di bagian mana dari luar pusaran yang akan didatangi oleh anak naga, maka perahu-perahu itu hanya berseliweran di sekitar daerah pusaran.


Bulan purnama sudah naik tinggi ketika nampak dua buah perahu di dayung perlahan-lahan dan dengan hati-hati sekali, dengan tenang meluncur di luar daerah pusaran berbahaya. Itu adalah perahu yang ditumpangi keluarga Kian Si dan Keluarga Hok Gi. Perahu Kian Si didayung oleh Kian Si sendiri, dibantu oleh Kian Beng, sedangkan perahu Hok Gi didayung oleh seorang pembantunya dan oleh Hok Gi sendiri.


Mereka mendayung perahu perlahan-lahan sambil mata mereka memandang kearah beberapa buah perahu yang berseliweran di daerah itu dengan mata takut-takut.


Bulan purnama cukup terang sehingga para penumpang dua buah perahu ini dapat melihat betapa daerah ini dikelilingi oleh banyak sekali perahu.


Tiba-tiba terdengar suara rebut dan banyak perahu yang tadinya diam itu bergerak semua. Hal ini mengejutkan dan menakutkan Kian Si dan Hok Gi. Mereka menghentikan perahu mereka yang dibiarkan berhimpitan, takut kalau sampai ketahuan perahu-perahu lain dan terlibat dalam keributan itu. sejak tadi Hok Cu masih enak-enakan memancing ikan, tidak peduli akan semua itu dan mencurahkan perhatiannya ke ujung tangkai pancingnya.


Keributan terjadi di dekat daerah pusaran ketika seorang diantara para tokoh kang-ouw melihat adanya benda yang mengeluarkan cahaya di permukaan air.


Cahaya itu berkilau seperti beberapa ekor binatang laut kalau muncul di tengah malam dan mengeluarkan semacam sinar dari tubuhnya, seperti udang dan beberapa macam ikan lainnya.


"Anak... anak naga....!" teriaknya di luar kesadarannya saking kaget, girang dan tegangnya.


Kalau saja dia tidak panic, tentu dia diam saja agar jangan ada orang lain mendengarnya dan akan diam-diam berusaha menangkap binatang yang ditunggu-tunggu itu.


Dia mendayung perahunya, meluncur dekat binatang yang seperti ular itu. akan tetapi ketika dia menjulurkan tangan hendak menangkapnya, binatang itu mengelak dan berenang kembali ke pusaran.


Tokoh dunia persilatan itu mengejar dengan perahunya, tidak sadar bahwa binatang itu terus berenang ke tengah. Dia baru tahu ketika tiba-tiba perahunya terseret oleh arus yang amat kuat dan binatang itu lenyap. Dia terbelalak melihat perahunya meluncur cepat tanpa dapat dikuasainya lagi. Dia mencoba untuk mendayung sekuat tenaga, namun tetap saja tenaganya tidak mampu menahan kekuatan arus yang menyeret perahunya dan mulailah dia panik


 "Tolooooooooong....!"

__ADS_1


Tanpa malu-malu dia berteriak ketika perahunya terseret pusaran air, dibawa berpusing oleh pusaran air, makin lama makin cepat dan makin menyempit garis lingkarannya.


Karena takutnya, diapun melompat dari perahunya, mencoba untuk berenang. Akan tetapi sia-sia saja, tubuhnya terseret dan beberapa kali terdengar dia menjerit minta tolong, juga perahunya, disedot oleh pusat pusaran air.


Teriakannya tentang anak naga tadi sudah menarik perhatian semua tokoh. Mereka ini sama sekali tidak peduli akan nasib orang yang tersedot pusaran air itu. perhatian mereka seluruhnya ditujukan kepada benda berkilau yang tadi berenang dan kemudian lenyap.


Tiba-tiba, dua buah perahu yang ditumpangi oleh delapan orang gagah, para anggota perkumpulan Perkumpulan Tujuh Bintang di Cin-an nampak sibuk. Dua orang diantara mereka mempergunakan jala yang bergagang bambu yang panjang dan mereka agaknya telah berhasil menjala anak naga yang menghebohkan itu.


Di dalam jala mereka itu nampak benda panjang yang mengeluarkan sinar berkeliuan bergerak-gerak hendak lepas.


   


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2