Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 20


__ADS_3

Dan kini mengertilah kini Hua Li bahwa dengan tak disengaja ia telah melibatkan diri sendiri dengan urusan negara yang ruwet.


Maka segera ia minta surat itu, lalu setelah mendapat petunjuk di mana letak gedung Pangeran Leng Cun, ia segera menuju ke sana. Gedung pangeran itu ternyata besar dan mewah sekali, tapi terjaga ketat.


Setelah memberitahu pada para penjaga kalau dirinya datang dari perguruan tengkorak hitam, barulah ia diperkenankan masuk ke dalam sebuah kamar dan menunggu di tempat itu.


Hua Li merasa ada yang mengawasinya dari balik pintu, tapi ia pura-pura tidak tahu dan diam saja. Gadis itu menduga kalau pangeran itu curiga kepadanya.


Tak lama kemudian, masuklah seorang laki-laki yang berpakaian mewah. Dia berusia kurang lebih empat puluh tahun, mukanya licin dan sepasang matanya yang sipit itu hampir-hampir tertutup. Tubuhnya tinggi kurus dan tampaknya lemah sekali. Dialah Pangeran Leng Cun.


Mengetahui kedatangan pangeran Leng Cun berdiri dan memberi hormat sepantasnya, lalu ia menyerahkan surat itu.


Setelah pangeran itu membacanya, dia merasa penasaran. Berkali-kali pangeran itu melihat ke arah gadis muda dan cantik dihadapannya itu, kemudian melihat secara aneh dengan kecapi di punggung Hua Li.


"Apakah gadis ini benar-benar pesilat atau pekerja seni?" gumam dalam hati pangeran Leng Cun yang mengernyitkan kedua alisnya.


"Nona, apakah nona sungguh pesilat atau pekerja seni?" tanya pangeran itu dengan kecurigaannya.


"Menurut anda bagaimana?" tanya Hua Li yang menatap ke arah pangeran itu yang sedikit kesal dengan tingkah lakunya, begitu sombong dan angkuh.


"Baiklah biar para pengawalku sedikit menguji kepandaian mu nona!" seru Pangeran Leng Cun.


"Boleh, silahkan pangeran!" seru Hua Li yang tetap tenang diposisinya.


Kemudian pangeran Leng Cun itu dua kali menepuk tangannya, dan muncullah dua orang prajurit yang melangkahkan kaki mendekati mereka, lengkap dengan pedang ditangannya.


"Serang nona Hua!" perintah pangeran Leng Cun dan kedua prajurit itu sudah mengepung Hua Li.


"Nona, rasakan serangan kami!" seru salah satu prajurit yang kemudian menyerang Hua Li dengan pedangnya.


Sedangkan Hua Li hanya dengan tangan kosong, mengelak kemudian memukul pergelangan tangan prajurit yang memegang pedang, dan seketika pedang terlepas dari tangannya dan dengan cepat gadis itu memukul prajurit itu tepat di ulu hatinya.


"Plakk...!"


''Bugh....bugh....bugh ...!"


"Aarrghh ...!"

__ADS_1


Prajurit itu mengerang kesakitan dan darah segar keluar dari sudut bibirnya, kemudian dia terdorong mundur beberapa meter dari posisinya.


"Sekarang giliran kamu!" seru Hua Li pada prajurit yang ada dibelakangnya, dan gadis itu menggunakan tendangan berputarnya, dan telapak kakinya mengenai pipi bagian kanan prajurit itu.


"Plakk...!"


"Aaaarghh...!"


Prajurit itu mengerang kesakitan dan darah segar muncrat dari mulutnya.


"Nona, tak kusangka kau yang semuda ini telah memiliki kepandaian tinggi sehingga dipercaya oleh Patriak Bao. Nona, kau mendapat kamar di bangunan sebelah kiri dan malam nanti akan kuberi tugas yang pertama padamu. Sekarang beristirahatlah!" seru Pangeran Leng Cun yang sudah mengakui kepandaian silat Hua Li


"Eh, kalau begini aku tak bisa melanjutkan perjalananku! Aku kan masih harus mencari kedua orang tuaku!" gumam dalam hati Hua Li.


Maka dengan terpaksa gadis itu menurut saja, dan pergilah ia ke tempat yang disediakan untuknya itu. Ternyata ia mendapat kamar yang cukup mewah dan menyenangkan.


Dengan hati-hati sekali Hua Li memeriksa jendela dan pintu kamar itu, tapi ternyata tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Setelah yakin keadaan aman, maka ia beristirahat di atas pembaringan yang indah dan bersih itu.


Malamnya, setelah keadaan di luar gelap, ia dipanggil ke ruang dalam di mana Pangeran Leng telah menantinya.


"Duduklah, Nona. Sebetulnya aku mempunyai sesuatu yang sangat penting dan rahasia untuk disampaikan ke luar kota dan kaulah yang telah dipilih untuk melakukan tugas berat ini. Ketahuilah bahwa banyak sekali orang menghendaki barang yang kuserahkan padamu itu dan mungkin kau akan mendapat rintangan di jalan. Maka agar hatiku tenteram, dan untuk mengujimu, lebih dulu kau malam ini harus melakukan sesuatu untukku. Kau pergilah ke gedung Pangeran Leng Song di sebelah timur kota. Dia ini adalah musuhku yang paling besar, kau harus dapat membunuhnya! Dan kalau bisa malam ini juga!" ucap pangeran Leng Cun dengan berbisik.


"Celaka sekali aku telah memasuki urusan yang kotor dan ruwet. Datang-datang disuruh membunuh orang begitu saja!" gerutu dalam hati Hua Li yang sedang kesal.


Dan sikap pangeran ini demikian tinggi, seakan-akan ia memang budak yang setiap waktu diperintah sesukanya.


Sebelum Hua Li sempat membantah, tiba-tiba dari atas terdengar seruan orang.


"Pangeran, awas, gadis itu adalah mata-mata musuh!" seru suara laki-laki yang berbarengan melayang dari atas tiga batang golok terbang menyambar ke arah Hua Li.


"Hopp hiaaa...! ha...ha...ha...!"


Gadis itu loncat menyingkir dan tertawa geli.


"Sudahlah, kalian orang-orang rendah! Aku tak perlu mencampuri urusan kalian yang kotor!" seru Hua Li yang kemudian meloncat keluar dari ruangan itu.


"Tangkap perempuan penjahat itu!" perintah pangeran Leng Cun dan seketika para prajurit berlomba-lomba mencari keberadaan Hua Li yang telah keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Muncullah Patriak Bao dan seprang laki-laki tua yang bongkok dengan memegang sebatang tongkat, serta di punggungnya yang bongkok tampak tempat golok-golok kecil.


Kini pahamlah Hua Li, siapa yang telah melepas golok terbang tadi yang tak lain adalah Si Bongkok itu.


"Setan perempuan, berhenti!" seru patriak Bao yang sudah berada didepan Hua Li.


Gadis itu diam saja tapi tetap dengan kewaspadaannya.


"Mengakulah terus terang, siapakah kau dan apa maksud kamu memalsukan surat dari Kasim Mo!" seru patriak Bao dengan geram.


"Aku sudah mengaku tadi dan namaku sudah kuterangkan pula. Tentang memalsu, aku tidak memalsukan. Aku hanya menyampaikan surat yang ku temukan dari seorang maling pakaian!" seru Hua Li yang menatap ke arah si bongkok.


"Hemm, jadi kau yang telah melukai muridku!" seru Si Bongkok itu yang menuding ke arah Hua Li.


"Oh, jadi kau yang disebut Iblis bongkok itu ya! Pantas saja, pantas saja tubuhmu bongkok! ha..ha...ha....!" seru Hua Li yang diiringi tawanya.


"Dasar lancang mulutmu itu bocah ingusan! rasakan tanganku!" seru kakek bongkok itu yang mulai marah dan maju menyerang dengan tongkatnya.


Sambaran tongkat Iblis bongkok itu demikian hebatnya, sehingga Hua Li terkejut sekali. Dia kali ini tahu kalau sedang menghadapi seorang lawan yang benar-benar perkasa.


Gadis itu dengan cepat berkelit dan meloncat mundur sambil mencabut pedang dari salah satu prajurit yang tadi terjatuh saat Hua Li melawannya.


"Trang....Trang...Trang...Trang...!''


"Trang....Trang...Trang...Trang...!''


Mereka berdua lalu bertempur seru sekali, disaksikan oleh Pangeran Leng Cun, patriak Bao dan para prajuritnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2