
"Adik Hua, lihat....!" seru Liu Ceng yang tiba-tiba sehingga membuyarkan renungan gadis si pendekar kecapi itu.
Hua Li memandang pemuda yang duduk di sebelah kirinya itu dan melihat Liu Ceng memandang dengan penasaran ke depan sana.
"Memang indah sekali pemandangannya kakak Ceng. Aku juga sudah mengaguminya sejak tadi." kata Hua Li seraya mengulas senyumnya.
"Bukan itu maksudku, adik Hua. Lihat puncak bukit di sana, yang sebelah kanan itu!" seru Liu Ceng seraya menudingkan telunjuk jari tangan sebelah kanannya ke arah yang dimaksudkan.
Hua Li mengikuti arah itu dengan pandang matanya. Di sana terdapat sebuah puncak bukit yang tampak hitam bermandikan cahaya keemasan yang sangat mengagumkan.
"Bukit itu juga indah, merupakan bagian dari semua keindahan ini, kakak Ceng." kata Hua Li yang memberi pendapat
"Sadarlah sejenak, adik Hua. Keluarlah dari pesona keindahan itu dan pandang dengan akal pikiranmu. Seperti apakah bentuk puncak yang hitam itu!" seru Liu Ceng yang menatap Hua Li dan kemudian kembali menatap bukit yang keemasan itu.
Hua Li memandang dengan penuh perhatian ke arah puncak bukit yang ditunjuk, memperhatikan bentuk lekuk-lengkung garis puncak bukit yang hitam itu.
"Ah, bukankah bentuknya seperti seekor naga? Memanjang dan berlekuk-lekuk, itu yang di kiri seperti ekornya dan kepalanya di sebelah kanan......" kata Hua Li yang kemudian dipotong oleh Liu Ceng.
"Benar, dan sekarang lihat bukit di kanan itu, lihat puncaknya seperti tadi......" kata Liu Ceng seraya menunjuk kearah yang dia maksudkan.
Suara pemuda itu agak gemetar sehingga Hua Li menjadi tertarik sekali, juga merasa heran. Dia cepat memandang bukit yang di kanan, bukit yang sejajar dengan bukit pertama dan mencurahkan perhatiannya memandang ke puncak bukit kedua itu.
Mula-mula memang hanya tampak puncak yang hitam dengan garis-garis lengkung yang berbeda dengan yang pertama. Kalau yang pertama memanjang seperti naga, yang kedua ini hanya bergerombol di tengah, mencuat di sana-sini.
"Kakak Ceng, yang kedua itu merupakan bentuk seekor ayam, ayam jantan karena ekornya menjulang ke atas dan memanjang......" kata Hua Li yang kembali dipotong oleh Liu Ceng.
"Bukan ayam, melainkan Burung Hong...!" seru Liu Ceng yang kini semakin gemetar seolah dalam keadaan tegang dan terharu.
Mendengar suara itu Hua Li mengalihkan perhatiannya kepada wajah pemuda itu yang tampak terlongong memandang puncak kedua bukit itu berganti-ganti. Mulutnya agak terbuka dan wajahnya tampak tegang.
__ADS_1
"Burung Hong? kenapa kakak Ceng tampak begini tegang? Apa yang terjadi?" tanya Hua Li karena penasaran dan khawatir Hua Li menjulurkan tangannya memegang lengan Liu Ceng.
Seperti tanpa disadari Liu Ceng membalas, memegang tangan gadis itu dan meremasnya dengan kuat sehingga Hua Li terpaksa mengerahkan tenaga agar tangannya tidak cidera.
"Adik Hua, apakah kamu tidak ingat dengan peta itu. Ada gambar naga dan burung Hong, bukankah ini cocok sekali dengan keadaan dua buah bukit di sana itu?" bisik Liu Ceng.
"Astaga...!" seru Hua Li yang teringat dan kembali tentang peta harta Karun itu, dan dia kemudian mengamati dua buah bukit itu.
Memang tepat seperti yang tertera di peta. Kedua puncak itu merupakan gambar naga dan burung Hong dan tempat penyimpanan harta karun itu tentu berada di sebelah selatan kedua bukit itu, di antara bukit-bukit yang lain.
"Ah kau benar, kakak Ceng! Kalau begitu, mungkin sekali harta karun itu memang disimpan di sini. Peti kosong yang berada di Bukit Sorga itu memang sengaja ditanam oleh pejabat Bong untuk mengelabuhi para pencari harta dan ukiran ular kobra itu merupakan petunjuk bahwa hartanya berada di sini. Bukan dicuri orang perguruan ular kobra seperti yang kita semua kira." kata Hua Li yang bersemangat.
"Iya, mudah-mudahan saja benar demikian, adik Hua! Menemukan harta karun itu amat penting artinya bagiku, karena hal itu berarti aku telah menaati dan melaksanakan pesan Ayah." kata Liu Ceng yang menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua tidak bicara lagi, akan tetapi sampai jauh lewat tengah malam mereka masih duduk dan memandang ke arah dua buah bukit itu. Di dalam hati, mereka kini merasa gembira dan timbul harapan baru.
Kemudian mereka tidur bergilir. Seorang tidur dan yang lain berjaga sambil duduk di dekat api unggun dan menjaga agar api tetap menyala.
"Kakak Ceng, lihatlah...!" seru Hua Li yang memandang ke arah bukit yang mereka lihat semalam.
Liu Ceng memandang ke arah dua bukit yang dipandang Hua Li, dan dia terkejut karena puncak dua buah bukit yang semalam di bawah sinar bulan purnama tampak jelas membentuk naga dan burung Hong, kini gambaran itu hilang sama sekali.
Di kedua puncak itu kini hanya tampak gerombolan pohon yang mencuat ke sana-sini, sama sekali tidak tampak sebagai naga dan burung Hong.
"Eh, mana naga dan burung Hong itu, adik Hua?" tanya Liu Ceng yang penasaran.
"Aku tidak tahu, kakak Ceng. Mungkin di bawah sinar bulan, gerombolan pohon itu tampak seperti bentuk naga dan burung Hong," kata Hua Li yang terlihat sangat kecewa.
"Ataukah kita terlalu terpengaruh gambar di peta sehingga membayangkan dua gambar itu?" kata Liu Ceng yang mengernyitkan kedua alisnya.
__ADS_1
Mendengar suara itu seperti orang kecewa dan menyesal, juga ada nada sedih, Hua Li merasa iba dan tiba-tiba dia teringat akan gambar pada peta itu.
"Ah kakak Ceng, coba ingat baik-baik isi peta yang telah dirampas Lim Bao itu. Bukankah di bawah gambar naga dan burung Hong itu ada bulatan besar? Nah, bukankah bulatan itu dimaksudkan bulan purnama? Jadi, puncak dua buah bukit itu hanya berbentuk naga dan burung Hong kalau ada bulan purnama!" kata Hua Li yang mencoba mengingatkan Liu Ceng.
Wajah pemuda itu berseri dan seolah baru melihat wajah itu untuk pertama kalinya, hal itu membuat Hua Li terpesona.
Melihat gadis yang dicintainya itu memandangnya seperti orang terkesima atau hilang ingatan, kulit wajah Liu Ceng berubah kemerahan dan tersipu.
"Aih, aku mau cuci muka...... eh, mandi dulu, adik Hua!" kata Liu Ceng sambil bangkit dan memutar tubuhnya.
"Di sebelah sana ada sumber air, di balik batu besar itu, kakak Ceng!" kata Hua Li seraya menunjukkan tempat dimana dia tadi mencuci muka.
"Terima kasih adik Hua," kata Liu Ceng yang segera menuju ke batu besar sambil membawa buntalan pakaiannya.
"Aku ikut kak! aku juga mau mandi! he...he...!" seru Hua Li sambil mengulas senyumnya dan Liu Ceng juga membalas senyum pujaan hatinya itu.
Mereka berdua melangkahkan kaki menuju ke tempat yang mereka tuju dan secara bergantian mandi dan bertukar pakaian sambil mencuci pakaian kotor. Setelah itu mereka kembali duduk di tepi jurang.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1