
"Bahkan kaki tangan pemerintah sendiri yang melakukan penyelewengan menambah beban rakyat dengan adanya kerja paksa dan korupsi. Jadi tugasmu adalah membantu kaum lemah dan memberantas para penindas rakyat." pesan Biksu Hek Bin.
"Baik guru." ucap Hok Cu dengan hormat.
"Hok Cu, kalau engkau bertemu dengan para murid perguruan Elang sakti, bantulah mereka. Biarpun mereka memusuhi pemerintah, akan tetapi Aku tahu bahwa para murid perguruan Elang Sakti adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan pembela rakyat tertindas." pesan Biksu Hek Bin.
"Iya guru, murid akan ingat itu." kata Hok Cu.
Demikianlah akhirnya Hok Cu turun gunung seorang diri, meninggalkan gurunya dengan siapa ia telah hidup selama hampir lima tahun.
Kota Pei-shen terletak di Lembah Sungai Kuning, di Propinsi Shantung. Kota ini cukup besar dan ramai, bahkan terkenal sebagai kota yang banyak menjual rempah-rempah.
Banyak pedagang rempah-rempah yang kaya di kota ini dan satu di antara pedagang rempah-rempah yang juga memiliki sebuah toko cita di sebelah toko rempah-rempah, adalah Sang Gu, seorang pedagang berusia lima puluh tahun.
Sang Gu it bukan hanya dikenal se bagai seorang pedagang yang hidup kaya raya, akan tetapi dia dikenal sebag seorang ahli silat yang pandai.
Oleh karena itu, di kota Pei-shen, dia disegani karena dua hal, pertama karena dia kaya raya dan juga dermawan, dan kedua karena dia lihai dalam ilmu silat. Pernah seorang diri pedagang ini melumpuhkan segerombolan perampok terdiri dari belasan orang yang berani mengacau di pinggiran kota, dan sejak itu namanya semakin terkenal dan keamanan kota Pei-shen, sebagian disebabkan oleh nama besarnya sebagai seorang jago silat yang tangguh.
Karena dia memiliki dua buah toko vang cukup besar dan sibuk, maka Sang Gu mempunyai belasan orang pegawai yang bekerja di kedua toko itu. Rumah keluarganya yang cukup besar berada di belakang kedua toko itu.
Di sini hanya tinggal dia, isterinya dan putera tunggalnya yang bernama Sang Ciok, seorang pemuda yang usianya sudah dua puluh lima tahun akan tetapi belum menikah.
Tentu saja ada beberapa orang pelayan keluarga itu yang juga tinggal di situ, di beberapa buah kamar di bagian belakang bangunan. Sebuah taman yang luas dan penuh bunga indah dan kolam ikan penuh teratai berada di belakang rumah.
Pendeknya, keluarga itu hidup serba kecukupan dan nampaknya berbahagia. Memang sesungguhnya demikian, akan tetapi ada satu hal yang menjadi pikiran bagi Sang Gu, yaitu tentang pernikahan puteranya.
Puteranya itu Sang Ciok yang sejak kecil sudah ia tunangkan dengan
puteri tunggal adik perempuannya, Yi Hu yang kini sudah berusia delapan belas tahun dan tinggal bersama ayahnya yang sudah menjadi duda di kota raja.
__ADS_1
Karena dia merasa bahwa usia ke dua orang muda itu sudah lebih dari cukup, yaitu puteranya sendiri berusia dua puluh lima tahun sedangkan calon mantunya itu sudah delapan belas tahun, maka beberapa hari yang lalu, dia bersama beberapa orang pengikutnya membawa kereta berkunjung ke kota raja untuk menentukan hari pernikahan mereka.
Tentu saja dia membawa segala macam hadiah yang cukup mewah sebagaimana mestinya, hampir sekereta penuh! Akan tetapi, setelah tiba di rumah adik iparnya itu, yaitu Yi Tiong yang membuka toko obat di kota raja, dia mendengar malapetaka yang menimpa keluarga adik iparnya.
Adik iparnya itu bersama seorang sutenya telah tewas ketika rumah itu diserbu pasukan pemerintah dengan tuduhan pemberontak. Sedangkan puterinya, Yi Hui dikabarkan orang hilang tak tentu rimbanya.
Tentu saja Tang Gu sangat terkejut setengah mati, akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya, bahkan tidak berani lama-lama tinggal di kota raja, takut kalau-kalau dia akan tersangkut.
Bagaimanapun juga, dia mengenal adik iparnya dan tahu bahwa Yi Tiong memang seorang murid perguruan Elang Sakti yang oleh pemerintah dianggap sebagai pemberontak. Adik iparnya itu dituduh pemberontak tentu ada hubungannya dengan perguruan Elang sakti, pikirnya dengan hati tidak enak.
Dengan hati yang gelisah Tang Gu pulang ke Pei-shen, membawa kembali barang-barang hadiah yang tadinya akan diserahkan kepada adik iparnya. Dia merasa amat gelisah memikirkan nasib Yi Hui yang calon mantunya.
Tidak ada yang mampu memberitahu karena dia tidak berani banyak bertanya di kota raja. Setelah tiba di rumah, dia pun menceritakan tentang pengalamannya di kota raja kepada isteri dan puteranya.
"Ayah, kalau begitu, biarlah aku pergi mencari Adik Yi Hui!" seru Sang Ciok seorang pemuda yang berwajah tampan dan bersikap gagah dan tinggi hati itu.
"Jangan lakukan itu, Sang Ciok!" cegah ayahnya.
"Kalau kau pergi sendiri, atau aku, hal itu berbahaya sekali. Mereka itu dibasmi pemerintah karena menjadi anggota atau murid perguruan Elang Sakti. Jangan mengkhawatirkan nasib calon isterimu, aku tidak akan tinggal diam dan akan menyebar orang-orang untuk mencari dan menyelidiki ke mana ia pergi." kata ayah Sang Ciok.
"Ayah aku ingin mencari Yi Hui bukan karena ia calon isteriku saja. Terutama sekali karena bagaimanapun juga, ia itu adik misanku, puteri mendiang Bibiku. Tentang perjodohanku dengannya, andaikata tidak jadi pun tidak mengapa, Ayah. Masih banyak gadis yang akan suka menjadi isteriku."kata Sang Ciok.
"Benar sekali!" kata Ibunya.
"Memang sejak dulu aku pun kurang setuju dia menikah dengan adik misan sendiri. Kata orang tua, hal ini hanya akan mendatangkan bencana. Dan lihat saja, bencana telah menimpa keluarga Yi!" seru Sang Gu.
Mendengar ucapan putera dan isterinya, Sang Gu mengibaskan tangannya dan berkata dengan nada jengkel,
"Sudahlah, sudahlah, jangan ribut. Urusan ini gawat sekali, dan dapat saja kita tersangkut. Kalian diam saja dan menanti, aku akan menyuruh orang untuk melakukan penyelidikan ke kota raja." Sang Gu.
__ADS_1
Apa yang dikhawatirkan Sang Gu memang terjadi. Dua hari kemudian, pada suatu hari di tokonya muncul orang laki-laki tinggi kurus, berusia kurang lebih enam puluh tahun.
Pakaiannya ringkas seperti pakaian orang di dunia persilatan, apalagi di punggungnya terdapat sebatang pecut ekor sembilan dan sikapnya serius sekali.
Dia membawa sebuah guci dari besi yang bermulut lebar dan guci yang cukup besar itu ditempelkan tulisan bahwa dia adalah seorang pengumpul derma.
Biasanya, yang mengumpulkan derma seperti itu hayalah para pendeta dan pengurus perkumpulan sosial, akan tetapi laki-laki ini tidak memperlihatkan bahwa dia seorang pendeta, juga tidak ada tanda-tanda bahwa dia seorang pengurus perkumpul tertentu yang mengharapkan bantuan sukarela dan para hartawan.
"Krek....!"
Kaki meja di toko itu mengeluarkan bunyi hampir patah-patah ketika dia meletakan guci itu di atas meja.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
... ...
__ADS_1