
Jalan untuk lari sudah terbuka karena Kwe Ong sudah mengamuk lebih dahulu membuka jalan. Larilah mereka, Han Beng memondong tubuh Yi Tiong dan Yi Hui menggandeng dan menarik Cui Siong yang juga sudah terhuyung huyung.
Kwe Ong menghalangi setiap orang yang hendak melakukan pengejaran. Dengan kedua lengan bajunya dia merobohkan lebih dari dua puluh orang, dan sisanya, yaitu perwira pasukan dan beberapa orang pimpinan perkumpulan pengemis sabuk merah masih mengepung dan mengeroyoknya.
Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan yang dahsyat, seperti harimau mengancam, dan belasan orang yang mengeroyok itu terkejut, merasa kaki mereka seperti mendadak lumpuh dan mereka tidak mampu mempertahankan diri ketika kedua lengan baju itu menyambar nyambar.
Mereka berpelantingan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kwe Ong untuk meloncat jauh dan pergi menyusul muridnya dan yang lain lainnya. Dia tahu ke mana Han Beng membawa mereka.
Tentu ke hutan lebat di mana terdapat kuburan kuno yang pernah menjadi tempat tinggal selama dua hari di luar kota raja, sebelum mereka tinggal di kuil terbelengkalai.
Benar saja dugaan Kwe Ong.Han Beng, Yi Hui, Yi Tiong dan Cui Siong memang berada di tempat itu. Akan tetapi ketika Kwe Ong tiba di situ, mendapatkan bahwa dua orang yang terluka parah itu telah meninggal dunia dan Yi Hui memeluki jenazah ayahnya sambil menangis sedangkan Han Beng duduk bersila termangu-mangu.
Kakek ini menarik napas panjang berulang-ulang lalu ikut bersila di dekat Han Beng menghadapi dua jenazah yang rebah terlentang. Melihat kwe Ong, Yi Hui merintih dan berlutut di depan kakek itu.
"Pendekar tua, Ayah dan paman sudah tewas!" Isak tangisnya dan Yi Hui tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tangisnya sudah meledak-ledak, membuatnya sesenggukan.
"Tenanglah,Nona. Nyawa manusia berada di dalam tangan Tuhan, maka setiap kematian memang sudah dikehenki oleh Tuhan. Kita hanya dapat merima kenyataan ini, Nona." kata Kwe Ong yang mencoba menenangkan hati nona cantik itu.
"Nona, semua ini adalah karena kesalahanku!" kata Han Beng yang merasa iba dengan situasi yang menimpa Yi Hui.
"Akulah yang bersalah, kalau aku tidak minta bantuan, mengemis obat kepada Nona, tentu tidak akan terjadi semua ini." kata Han Beng merasa menyesal bukan main.
"Tidak, Pendekar. Kau tidak bersalah! Bahkan kau telah membantu kami sehingga kau dimusuhi oleh pasukan keamanan!" seru Yi Hui diantara tangisnya.
"Sudahlah, tidak perlu mencari kambing hitam dalam suatu peristiwa, yang penting kini kita harus cepat menyempurnakan dua jenazah ini dan mengurus mereka baik-baik. Kebetulan di sini adalah daerah pemakaman kuno. Kalau tidak cepat-cepat dan kita terlambat mereka tentu akan melakukan pengejaran sehingga kita tidak sempat lagi untuk mengurus jenazah-jenazah ini. Kita bicara nanti setelah pemakaman." saran Kwe Ong dan kedua anak muda itu menyetujuinya.
__ADS_1
Mereka bertiga lalu menggali dua buah lubang tak jauh dari makam kuno itu untuk mengubur jenazah Souw Kun Tiong dan Gui Siong. Sambil bekerja menggali tanah kemudian mengubur jenazah ayahnya dan susioknya, tiada hentinya Hui Im menangis, walaupun dara ini sudah menahan diri untuk bersikap tenang. Air matanya tak pernah berhenti mengalir.
Setelah mereka berhasil mengubur kedua jenazah itu, Hui Im berlutut depan makan ayahnya sambil menangis sesenggukan. Han Beng menghiburnya.
"Sudahlah, Nona. Saya kira tidak perlu lagi Nona menyiksa diri, karena Ayahmu dan paman nona sudah dipanggil kembali oleh Tuhan Yang Maha Kuasa." kata Han Beng yang mencoba menghibur Yi Hui.
Nona cantik itu tetap saja menangis, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya.
"Nona Hui, yang kau tangisi itu Ayahmu ataukan dirimu sendiri?" tiba-tiba Kwe Ong bertanya, biarpun mulutnya tersenyum-senyum namun bicaranya bersungguh-sungguh.
Han Beng sendiri kaget mendengar pertanyaan yang aneh dan dianggapnya menyinggung perasaan itu. Mendengar pertanyaan ini, Yi Hui menghentikan tangisnya, memandang kepada kakek itu dengan mata merah agak membengkak.
"Bagaimana anda dapat bertanya seperti itu? Tentu saja saya menangisi Ayahku!" jawab Yi Hui dengan menyeka air matanya.
Han Beng yang mendengarkan itu merasa heran. Selama lima tahun gurunya lebih banyak bersikap seperti orang yang kurang waras, selalu bergurau dan nyaris jarang sekali gurunya itu bersikap sungguh-sungguh seperti sekarang ini, dan hal ini menimbulkan kekhawatiran dari hatinya karena dianggapnya tidak wajar.
Yi Hui yang tadinya menjadi merah mukanya karena penasaran akan tetapi ketika ia mengingatkan dan mengamati diri sendiri, nampak lah olehnya betapa tepatnya ucapan kekek itu.
Memang ia menangisi diri sendiri yang ditinggal ayahnya, sehinga kini ia hidup sebatang kara, dan melihat keadaan, tentu ia tidak akan dapat kembali lagi ke rumahnya yang akan disita oleh pasukan keamanan. Ia kehilangan segala-galanya.
Satu-satu keluarganya adalah ayahnya. Ia kehilangan ayahnya, susioknya, dan seluruh harta bendanya, bahkan rumahnya. Ia menjadi yatim piatu yang sebatangkara, tidak memiliki lagi tempat tinggal dan harta benda.
"Tapi saya merasa kasihan kepada Ayah. Gara-gara perbuatan saya maka Ayah sampai menderita, dikeroyok sehingga tewas!" seru Yi Hui.
"Ketika Ayahmu dikeroyok dan menderita luka-luka, memang dia sengsara dan sepatutnya kalau engkau iba kepadanya. Akan tetapi sekarang? Ayahmu sudah tidak menderita apa-apa lagi, setidaknya tubuhnya tidak lagi merasakan apa-apa, tidak menderita. Tentang jiwanya, siapa yang tahu? Kalau kita tidak tahu bagaimana keadaannya, bagaimana mungkin kita merasa kasihan? Siapa tahu dia sekarang berbahagia, mudah-mudahan saja begitu." jelas Kwe Ong.
__ADS_1
Yi Hui yang mempergunakan pikiran untuk mempertimbangkan ucapan kakek itu, tanpa disadarinya sendiri lah berhenti menangis.
"Saya dapat mengerti apa yang anda maksudkan sekarang. Memang saya menangisi diri sendiri, akan tetapi apa salahnya pendekar tua? Baru saja saya kehilangan segalanya. Ayah dan paman yang telah tewas, saya tidak mungkin pulang ke rumah yang tentu disita pemerintah. Saya kehilangan segala-galanya, hidup yatim piatu dan sebatangkara tidak memiliki apa-apa. Siapakah orangnya yang tidak akan berduka?" kata Yi Hui yang mengungkapkan penderitaannya.
"Ha....ha.....ha....!"
Tiba-tiba kakek itu tertawa dan Han Beng mengerutkan alisnya.
"Wah, nampaknya guru sedang kambuh kembali, datang lagi penyakit lamanya!" gumam dalam hati Han Beng yang takut kalau-kalau gadis itu akan tersinggung.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1