Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 309


__ADS_3

"Inilah buku seribu Racun itu! Untunglah dia tidak termakan api tadi. Sekarang kau terima lah buku ini! Kuwariskan dia kepadamu. Rawatlah baik-baik! Jangan sampai terlihat orang lain,karena buku ini banyak yang mengincarnya." kata Kakek tua itu.


"Pendekar Tua..." kata Yui Lan yang menatap wajah Kakek itu dengan wajah terharu.


"Dan mustika ini juga kuwariskan kepadamu!" lanjut kata orang tua itu yang kemudian dia menggigit benjolan daging yang tumbuh di tengah-tengah telapak tangannya, dan dikeluarkannya sebutir mutiara putih yang berlepotan darah dari dalamnya.


"Mustika ini sengaja aku tanam di dalam daging agar tidak dapat terlepas dari tanganku. Mustika ini dinamakan orang Merah Delima. Khasiatnya bisa menawarkan segala macam racun. Betapapun hebatnya sebuah racun, dia akan segera tawar bila tersentuh mutiara ini." jelas kakek itu.


"Kalau mustika itu bisa menawarkan racun, kenapa anda masih juga terkena Racun?" sela Yui Lan. Orang tua itu menghela napas.


"Aku belum memilikinya ketika murid-muridku itu meracuni aku. Dan ketika pusaka ini berada di tanganku, hati dan jantungku sudah terlanjur rusak oleh Racun." jelas Kakek itu.


"Tapi anda tadi bilang bahwa orang-orang dari kalangan berdarah bening itu kebal terhadap racun?" tanya YuiLan yang ingat akan perkataan si kakek tadi.


"Ya! Tapi tidak semuanya. Kita tetap tidak akan tahan melawan racun, sejenis Hok-hiat-tok." kata orang itu menerangkan seraya memberikan mustika yang dipegangnya itu kepada Yui Lan. Yui Lan menerima mutiara itu dan memasukkannya ke dalam saku.


"Hati-hati! Jangan sampai hilang! Dan nanti sepeninggalku nanti kalau ada seorang kakek berambut hitam legam datang, kau beritahukan saja kalau aku sudah mati, Niscaya dia takkan mengganggumu!" pesan kakek itu.


"Kakek berambut hitam? Siapakah dia...?" tanya Yui Lan yang penasaran.


"Bedebah itu adalah guruku!" orang yang mau mati itu menggeram penuh dendam.


Yui Lan tercengang. Sungguh aneh benar orang-orang yang ia hadapi kali ini. Guru mendiang iblis-iblis Ban-kwi-to ini ternyata masih mempunyai guru. Dan seperti halnya iblis-iblis penyebar maut itu pula, sang guru ini ternyata juga bermusuhan dengan gurunya. Betapa anehnya perguruan mereka, dan Yui Lan melihat orang tua itu meringis kecut.


"Kau jangan heran! Guruku itu memang tidak layak untuk dihormati. Meskipun sudah tua bangka dia suka main perempuan. Sampai isteriku, isteri muridnya sendiri dilahapnya pula tanpa malu. Gila tidak itu...!" seru Orang tua itu dengan geram

__ADS_1


"Ahh...!" Yui Lan berdesah dengan pipi merah padam.


Tapi tiba-tiba gadis itu tersentak kaget. Guru orang tua ini mahir menggunakan racun, berkepandaian tinggi dan senang main perempuan pula.


"Mungkinkah guru orang tua ini adalah si Iblis Penyebar Maut itu?" tanya dalam hati Yui Lan yang mencengkeram lengan orang tua itu.


Tapi betapa terkejutnya dia tatkala dilihatnya orang itu sudah mulai tersengal-sengal pernapasannya.


"Pendekar tua,, tunggu..! Apakah guru anda itu bergelar Si Iblis Penyebar Maut?" teriaknya keras sambil mengguncang-guncang lengan orang tua itu. Orang tua yang sudah mau mati itu berusaha membuka matanya, namun tak berhasil. Tampaknya urat-uratnya sudah mulai kaku.


"A-apa ka-katamu heh? Aku... a-aku ti-tidak... mende...mendengarmu." Gumam orang tua itu yang sudah tak jelas.


"Apakah guru anda itu bergelar... bergelar Si Iblis Penyebar Maut?" tanya Yui Lan yang berteriak sekali lagi.


"Aaapa...? Dia... d-dia.. Ouhhhhhh, se-se-selamat ting-tinggal...!" Orang tua itu mencoba bertahan, tapi gagal. Kepalanya tersentak kemudian terkulai di atas bahunya.


Orang tua itu telah pergi. Dan keberangkatannya tadi tampaknya telah dilakukannya dengan penuh keikhlasan dan kedamaian hati. Dan gadis itu juga merasa bangga pula, karena kedamaian itu tampaknya berasal atau bersumber dari dirinya.


Inilah yang tidak disadari oleh guru atau orang-orang lain di dunia ini. Ketentraman dan kedamaian dunia itu sebetulnya terletak di dalam diri pribadi masing-masing orang. Apabila orang itu dengan tulus ikhlas dan penuh kasih sayang mau berjalan di atas rel kebenaran, niscaya hidupnya akan selalu damai, tentram dan sejahtera. Apa yang kualami ini tadi merupakan bukti yang tak dapat dibantah lagi.


"Sungguh buas dan kejamnya guru kakek ini, tapi dia tetap seorang manusia juga. Dia bukan hewan atau binatang yang tak punya budi dan pikiran. Kasih sayang dan ketulusan hati yang kuperlihatkan kepadanya ternyata masih dapat dilihat pula oleh mata batinnya," gadis itu berkata di dalam hatinya.


Iseng-iseng Yui Lan membuka buku pemberian orang tua itu. Di halaman pertama tertulis huruf tertera nama penulisnya atau penyusunnya, yaitu " RAJA RACUN TAMPAN.


Yui Lan lalu membuka halaman selanjutnya. Di sana tertulis segala macam hal tentang racun. Mengenai macamnya, bentuknya, rupanya, warnanya, dan lain sebagainya.

__ADS_1


Di dalam buku itu juga diterangkan cara bagaimana mengenalinya, memperolehnya, dan bagaimana cara penggunaannya, serta bagaimana cara menghindari atau mengobatinya. Di halaman terakhir diterangkan pula cara bagaimana semua racun-racun ini dipergunakan oleh seorang jago silat untuk menambah kesaktian atau kedahsyatan ilmunya.


Semakin banyak gadis itu membaca isi buku itu, semakin bergidik dan ngeri hatinya. Di dalam buku itu banyak disebutkan macam-macam racun yang khasiatnya benar-benar mendirikan bulu-romanya.


Akhirnya gadis itu tidak tahan membacanya. Buku itu lekas-lekas ditutupnya dan dimasukkannya ke dalam sakunya. Kalau menuruti kata hatinya ingln benar rasanya Yui Lan memusnahkan buku itu.


Tapi bila mengingat betapa susah-payahnya Giok Bin tersebut menyusunnya, hatinya menjadi tak tega. Untuk menyimpan atau menyembunyikannya di suatu tempat, Yui Lan juga tak berani.


"Siapa tahu buku itu diketemukan atau diambil oleh orang-orang yang tak bertanggung-jawab nanti?" gumam dalam hati Hua Li yang saat ini bernama Yui Lan.


"Biarlah buku ini kusimpan di dalam saku bajuku bersama-sama dengan mutiara anti racun itu," gadis itu berkata di dalam hatinya.


Tak terasa larut malam telah lewat. Embun pagi telah mulai turun membasahi jurang itu. Keempat lilin juga telah terbakar sampai di pangkalnya. Yui Lan bergegas menggantinya dengan yang baru, karena dia harus menggali tanah untuk menguburkan mayat dan bangkai keledainya. Karena tak ada pacul, YuiLan terpaksa mempergunakan pedangnya untuk menggali tanah.


Celakanya, tak ada tanah yang empuk di dasar jurang itu. Semuanya terdiri dari padas dan karang. Oleh karena itu mayat dan bangkai keledai itu terpaksa ditanam dalam lubang yang tak terlalu dalam. Dan pekerjaan itupun telah menyita waktu sampai fajar menyingsing.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2