
Ketua Kui mengerti maksud dari Liu Ceng, kemudian mereka melangkahkan kaki untuk pulang dan menanti kembalinya Liu Hong dan Yauw Lie di perkampungan perkumpulan pengemis tongkat merah.
...****...
Setelah menanti sehari semalam Liu Hong dan Yauw Lie belum juga kembali ke perkampungan itu, Ketua Kui dan Liu Ceng mulai merasa gelisah. Bagaimanapun juga, Liu Hong dan Yauw Lie adalah tamu perkumpulan pengemis yang telah membela mereka sehingga mereka terlibat permusuhan dengan perguruan tengkorak hitam.
"Saya mohon Ketua untuk tetap tenang. Aku percaya sepenuhnya kepada adik Hong dan adik Yauw. Mereka pasti mampu menjaga diri dengan baik. Tentu ada sesuatu yang sedang mereka selidiki maka mereka belum kembali ke sini." ucap Liu Ceng yang berusaha menenangkan ketua Kui, walau dalam hatinya dia juga gelisah.
"Tapi bagaimana kalau ada yang mengancam keselamatan mereka? Aku merasa tidak enak sekali karena mereka terlibat karena membela kami." ucap ketua Kui yang terlihat sangat khawatir.
"Baiklah, ketua Kui. Aku akan menyusul mereka." ucap Liu Ceng.
"Aku akan menemanimu saudara Ceng!" pinta ketua Kui yang penuh harap.
"Tidak usah ketua, ketua sangat dibutuhkan disini. Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri!" seru Liu Ceng yang kemudian berpamitan dan melesat meninggalkan perkampungan itu dan dengan jurus meringankan tubuhnya, menuju kearah pertempuran kemarin.
Sementara itu dengan penuh kemarahan Liu Hong melakukan pengejaran terhadap laki-laki yang memakai kalung berliontin tengkorak hitam dan juga laki-laki yang berambut putih, yang melarikan diri ke dalam hutan.
Dua orang itu telah berani menghinanya, karena itu ia tidak akan merasa puas sebelum dapat membunuh mereka. Sebetulnya, dalam hal ilmu berlari cepat, Liu Hong masih lebih unggul dibandingkan lawannya.
Akan tetapi kelebihannya ini tidak ada artinya karena ia sama sekali tidak mengenal daerah itu. Maka terkadang ia kehilangan bayangan dua orang yang dikejarnya.
Liu Hong tidak mau menghentikan pengejarannya dan mencari terus kedua laki-laki yang menantak perkumpulan pengemis tongkat merah itu.
Setelah mendapatkan jejak mereka, ia mengejar terus dengan penuh semangat. Saking semangatnya, ia tidak menyadari bahwa ia telah melakukan pengejaran setengah hari lebih, juga tidak menyadari bahwa ia telah jauh meninggalkan tempat pertandingan.
Kini pemuda itu telah keluar masuk beberapa hutan, naik turun beberapa bukit dan masih terus ia membayangi dua orang itu, seperti seorang pemburu sedang mengejar dua ekor binatang buruannya.
Perubahan cuaca tidak disadarinya. Perlahan-lahan cuaca menjadi kurang cerah karena matahari telah condong ke barat. Baru setelah ia memasuki sebuah hutan lebat di sebuah lereng gunung, pemuda itu menyadari bahwa cuaca mulai gelap.
__ADS_1
Liu Hong menyadari keadaannya dan ia menjadi bingung juga. Ia berada di tengah hutan lebat, tidak akan mudah mencari jalan pulang ke perkampungan perkumpulan pengemis tongkat merah. Ia juga menyadari bahwa tidak ada gunanya lagi melanjutkan pengejaran karena sebentar lagi tentu gelap dan tak mungkin ia melanjutkan pengejaran.
Saat ini Liu Hong berdiri di tengah hutan, menghentikan pengejarannya, mengepalkan kedua tangannya.
"Biarlah! Hari ini kalian dapat melarikan diri. Tunggu, aku akan mendatangi sarangmu dan di sana aku akan membunuh kalian!" gerutu Liu Hong yang kesal.
Kemudian dia mulai mencari jalan untuk kembali ke perkampungan perkumpulan pengemis. Namun ia menjadi bingung karena di dalam hutan lebat itu ia kehilangan arah.
Akan tetapi ia tidak mau kemalaman dalam hutan lebat itu dan melangkah terus untuk dapat keluar dari dalam hutan.
Senja telah masuk ke dalam hutan. Cuaca mulai remang-remang. Liu Hong mulai merasa khawatir, kalau ia tidak mampu keluar dari dalam hutan sebelum malam tiba, berarti ia harus melewatkan malam di dalam hutan lebat dan gelap itu.
Ketika ia melangkah di bawah sebatang pohon besar, ia menginjak tanah berumput, tiba-tiba kedua kakinya terperosok ke sebuah lubang, disambut sebuah jala dan ia pun terangkat ke atas di dalam sebuah jala hitam yang kuat.
"Keparat...!"
Liu Hong meronta dan meraba gagang pedangnya di punggung. Karena jala itu kuat dan ketat membungkus tubuhnya, agak sukar baginya untuk mencabut pedangnya guna membabat putus jala itu.
Tiba-tiba, sebelum ia berhasil mencabut pedangnya, sesosok bayangan berkelebat dalam keremangan cuaca itu, lalu cepat sekali bayangan itu memukul tengkuk Liu Hong yang masih rebah telentang dalam jala dan tergantung. Liu Hong tidak mampu menghindarkan diri dan begitu tengkuknya ditepuk, ia pun pingsan dan tidak tahu apa-apa lagi.
Ketika siuman dari pingsannya, Liu Hong mendapatkan dirinya berada dalam pondongan seorang laki-laki tinggi besar. Tubuhnya telungkup di pundak orang itu dan ketika dengan marah ia hendak mengerahkan tenaga untuk meronta dan melepaskan diri, dengan kaget ia mendapatkan bahwa kaki tangannya tidak mampu digerakkan.
Ternyata ia telah tertotok secara lihai sekali sehingga tubuhnya menjadi lemas dan tidak dapat mengerahkan tenaga.
Laki-laki tinggi besar yang tak dapat dilihat wajahnya dengan jelas karena cuaca sudah gelap itu, melangkah lebar dan di sebelah kirinya terdapat orang kedua yang berjalan. Orang kedua ini pun tinggi besar dan mereka berjalan tanpa mengeluarkan suara. Tak lama kemudian, mereka sudah keluar dari dalam hutan itu dan berjalan di atas jalan umum yang kasar berbatuan.
Tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah gubuk yang berada di tepi jalan, di luar sebuah hutan lagi. Pemanggul tubuh Liu Hong berkata dengan suara yang kasar, dalam logat bahasa orang Mongol, kepada temannya.
"Buka pintunya dan nyalakan lampu!" serunya seraya memindahkan tubuh Liu Hong dari pundak kiri ke pundak kanan.
__ADS_1
"Suamiku, kamu bawa siapa? bisakah..." tanya wanita setengah baya itu yang belum selesai, tapi sudah dipotong oleh laki-laki tinggi besar itu.
"Enak saja engkau! aku akan menjadikannya sebagai makananku!" seru laki-laki itu yang terlihat garang.
"Baiklah kalau begitu, mari masuk," kata wanita setengah baya itu yang mengalah.
Mereka masuk ke gubuk dan sebuah lampu dinyalakan. Si Pemanggul itu lalu melepaskan tubuh Liu Hong ke atas sebuah dipan kayu yang kasar.
Tubuh pemuda itu rebah telentang. di atas dipan dan kini ia dapat melihat agak jelas wajah kedua suami istri otu dan diam-diam ia merasa ngeri.
Mereka itu ternyata merupakan dua orang yang berpakaian kasar seperti para pemburu. Wajah mereka pun tampak bengis dan kasar, dengan mata, hidung dan bibir serba besar.
Sepasang suami istri itu usianya sekitar empat puluh tahun dan sang suami memandang kepada Liu Hong dan tampaknya terkejut.
Agaknya laki-laki itu tidak pernah membayangkan bahwa tangkapannya ternyata seorang pemuda yang demikian tampan, dan dia khawatir sekali jika istrinya akan mengambil tangkapannya itu.
Mata laki-laki itu melotot seperti hendak menelan dan melahap tubuh yang terbujur di hadapannya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1