
Setelah yakin dan siap, keduanya segera beraksi sesuai rencana mereka.
Munculnya Han Beng di depan markas perkumpulan pengemis sabuk merah tentu saja menimbulkan keributan lagi pada perkumpulan itu. Para anggota perkumpulan pengemis sabuk merah sudah menyambut dengan senjata di tangan, mengepung Han Beng.
Mereka merasa heran dan penasaran bagaimana pemuda ini berani muncul lagi seorang diri, kemudian mereka bersiap untuk mengeroyok Han Beng dengan mengepung pemuda itu.
"Saudara-saudara, dengarlah baik baik. Aku Han Beng, datang untuk menantang ketua perkumpulan pengemis sabuk merah untuk keluar dan mengadu kepandaian denganku! Aku merasa berdosa kepada keluarga Yi karena aku yang menjadi biang keladi sehingga keluarga itu dimusuhi dan diserbu oleh perkumpulan pengemis sabuk merah. Maka, aku ingin membalaskan penasaran mereka, dan aku tantang ketua kalian untuk keluar dan melawan aku kalau memang dia seorang pendekar!" seru Han Beng dengan lantang.
"Cih....! Kau tidak pantas dilayani ketua kami! Pemuda jembel dari luar kota seperti itu menantang ketua mereka yang lihai? sungguh merendahkan sekali!" seru salah satu anggota perkumpulan pengemis sabuk merah itu yang memandang rendah pada Han Beng.
"Bunuh anjing busuk ini!"
"Keroyok dan bunuh dia!"
Seru satu persatu dari anggota perkumpulan pengemis sabuk merah itu dan kemudian belasan orang itu menyerbu dan mengeroyok Han Beng, sedangkan dari dalam dan luar markas itu datang berlarian lebih banyak lagi para anggota perkumpulan pengemis sabuk merah lainnya.
Selain para pembantu ketua palsu itu yang memang terdiri dari orang-orang sesat, para anggota perkumpulan pengemis sabuk merah adalah orang-orang pendekar aliran hitam .
Melihat betapa belasan orang anggota perkumpulan pengemis sabuk merah itu dengan segala macam senjata, menerjangnya berbagai penjuru. Han Beng mengamuk dan berhasil merampas sebatang tombak lalu mematahkan ujungnya yang runcing sehingga tombak itu berubah menjadi sebatang tongkat dan dia pun mengamuk dengan memainkan ilmu tongkat yang dipelajarinya dari Kwe Ong.
Memang hebat sekali ilmu tongkat ini, karena dalam pandangan para pengeroyoknya, tubuh Han Beng seolah-olah menjadi banyak, dan tongkatnya pun menjadi puluhan banyaknya, menyambar-nyambar dan kadang-kadang berubah menjadi gulungan sinar yang setiap kali menyambar senjata lawan tentu membuat senjata itu terlepas dari tangan pemegangnya dan terpental jauh.
Melihat kehebatan gerakan pemuda ini, para anggota perkumpulan pengemis sabuk merah yang tadinya hanya menonton, segera terjun ke dalam pertempuran dan semakin banyak yang kini mengeroyok pemuda itu.
Hal ini memang sesuai dengan siasat gurunya, dia ingin memancing keluar semua orang yang berada di dalam asrama itu. Sambil terus memutar tongkatnya ke sana-sini, merobohkan para pengeroyok dengan sapuan tongkatnya, tamparan tangan kiri atau tendangan-tendangan kedua kakinya, dia tiada hentinya berteriak menantang kepada ketua mereka.
__ADS_1
"Mana ketua kalian? kalau kau memang bukan pengecut, keluarlah dan lawan aku!" teriak Han Beng dengan nyaring dan terdengar sampai ke dalam.
Teriakan bukan saja untuk mengejek sehingga ketua perkumpulan pengemis sabuk merah itu akan keluar, akan tetapi juga untuk memberi isyarat kepada gurunya yang dia percaya sudah berada di dalam, isyarat bahwa agaknya para anggota perkumpulan pengemis sabuk merah telah keluar semua mengeroyoknya, kecuali ketuanya
.
Tidak salah perhitungan Han Ben Ketua itu memang sejak tadi mengintai dan diam-diam ketua palsu itu terkejut melihat sepak terjang Han Beng. Tahulah dia bahwa para pembantunya bukan tandingan pemuda lihai itu dan dia sendiri yang harus turun tangan.
"Pemuda sombong, mampuslah!" bentak Sin Kai palsu dan dia pun sudah meloncat keluar dari tempat pengintaiannya dan dengan sebatang tongkat yang panjang dan bentuknya seperti seekor ular, ketua Sin Kai palsu itu menerjang Han Beng dengan dahsyatnya.
"Tukk....tukk.....tukk....!"
"Dess.....!"
Pertemuan tongkat ular dan tongkat di tangan Han Beng mendatangkan getaran hebat, dan keduanya merasakan betapa lengan mereka tergetar dan tubuh terguncang.
Sebaliknya Sin Kai palsu itu pun memandang dengan mata terbelalak, dia tadi telah mengerahkan tenaga dalam pada ayunan tongkatnya, namun selalu dapat ditangkis oleh tongkat pemuda itu dengan kekuatan yang tidak kalah dahsyatnya.
Dengan marah dan penasaran, ketua Sin Kai palsu itu memberi isyarat kepada para pembantunya untuk mengeroyok.
"Bunuh bocah sombong ini!" teriak Sin Kai palsu dan ketika para pembantunya sudah mengepung dan mengeroyok lagi, dia pun menggerakkan tongkatnya dan ikut pula mengeroyok.
Jika tadi dikeroyok oleh puluhan orang anggota perkumpulan pengemis sabuk merah Han Beng masih dapat menahan diri dan mengamuk, kini setelah ketuanya maju sendiri ikut mengeroyok, Han Beng mulai terdesak hebat.
Ketua itu sendiri sudah amat lihai, merupakan seorang lawan yang harus dihadapinya dengan pengerahan tenaga dan perhatian, maka pengeroyokan banyak sekali lawan itu saja membuat perhatian dan tenaganya terbagi dan beberapa kali serangan dahsyat yang dilakukan ketua Sin Kai palsu itu membuatnya terhuyung kebelakang.
__ADS_1
Namun, dengan permainan tongkat yang dipelajarinya dari Kwe Ong, ditambah lagi dengan gerakan jurus meringankan tubuh dari Hua Li yang membuat tubuhnya dapat melompat seringan mungkin di antara sambaran senjata-senjata lawan.
Han Beng mengamuk dan melakukan perlawanan secara mati-matian. Akan tetapi, dia selalu berlompatan menjauhi ketua Sin Kai palsu yang amat lihai itu. Sementara Sin Kai yang palsu itu terus mengejarnya dan mendesaknya.
Permainan tongkat dari Sin Kai yang palsu itu memang hebat dan diam-diam Han Beng harus mengakui permainan tongkatnya benar-benar amat hebat.
Andaikata dia harus melawan kakek itu satu lawan satu, dia merasa yakin takkan terdesak dan agaknya masih mampu untuk mengalahkannya. Namun, dia dikeroyok banyak sekali orang, dan belasan orang pembantu Koai-tung Sin-kai juga rata-rata miliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi sedangkan puluhan anggauta perkumpulan pengemis itu pun semua masing-masing memiliki kepandaian silat.
Pengeroyokan yang sangat ketat itu membuat Han Beng lelah dan beberapa kali tubuhnya telah menerima hantaman tongkat dan bacokan golok yang membuat pakaiannya robek-robek dan sedikit kulit tubuhnya lecet karena dia sudah melindungi tubuh dengan tenaga dalam yang membuat kebal.
Pada saat itu, terdengar teriakan Melengking nyaring yang mengejutkan semua orang.
"Tahan, semua senjata! Saudara-saudara para anggota perkumpulan pengemis sabuk merah, tahan senjata dan dengarkan kata-kataku!"
Semua orang terkejut karena suara itu mengandung getaran kuat dan mereka semua menengok ke arah suara itu. Kiranya seorang kakek telah berdiri diatas wuwungan sehingga nampak oleh mereka semua.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...