
"Awas, kakak Ceng!" seru Hua Li namun terlambat.
Ekor ular yang panjang itu telah membelit-belit tubuh Liu Ceng dan pemuda ini terkejut, namun belum dia sempat menggerakkan kedua tangannya, tubuh ular yang besar dan panjang itu telah membelit kedua lengannya sehingga menempel pada tubuhnya dan tidak dapat digerakkan lagi.
Hua Li berusaha membebaskan diri, namun sia-sia. Dia mengerahkan tenaga dalamnya, namun tubuh ular itu ulet dan dapat melar sehingga tenaga dalamnya juga tidak mampu membuat ular itu mengendurkan libatan tubuhnya.
Padahal, ular itu kini sudah mendekatkan moncongnya pada kepala Liu Ceng, siap untuk mencaplok kepala pemuda itu.
Sejak tadi Hua Li yang merasa jijik dan geli melihat ular besar itu, hanya berdiri menjauh. Akan tetapi kini melihat Liu Ceng yang terancam bahaya, ia cepat melompat ke depan dan dua kali tangan kanannya menggerakkan tongkat menusuk ke arah mata ular yang hendak mencaplok kepala Liu Ceng itu.
"Cres....! Cres....!"
Darah mengucur dari sepasang mata ular yang agaknya kesakitan sekali sehingga libatan tubuhnya pada Liu Ceng mengendur.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Liu Ceng untuk meronta lepas dan dia cepat menggerakkan pedangnya, sekali ini yang dijadikan sasaran adalah leher ular itu.
"Crakk....!"
Sekali sabet saja, leher ular itu putus dan tubuh yang panjang menggeliat dan melingkar-lingkar. Liu Ceng menggunakan kakinya hendak menendang tubuh ular itu keluar goa.
"Tahan kakak Ceng....!" seru Hua Li yang walaupun merasa jijik, namun mencoba memeriksa ular kobra yang besar itu.
Liu Ceng mengurungkan niatnya dan memandang Hua Li dengan heran, pada gadis itu memperhatikan kepala ular itu.
"Lihat kakak Ceng. Ular itu sudah mati akan tetapi kepalanya masih mengeluarkan cahaya kehijauan! Yang lebih hebat, pedangku tadi tidak dapat melukai kepala ular itu! Kukira tentu ada sesuatu di dalam kepala ular itu!" seru Hua Li yang menunjuk ke arah kepala ular itu.
__ADS_1
"Aih, aku adik Hua! bukankah di peti harta Karun itu ada ukiran ular kobra. Apakah mungkin yang dimaksudkan ukiran itu adalah ular ini?" tanya Liu Ceng yang menatap Ulat itu dengan penasaran.
"Sepertinya memang begitu!" seru Hua Li yang kemudian keduanya memeriksa ular besar tersebut.
Hua Li kemudian berjongkok memeriksa kepala ular. Dilihatnya sepasang mata yang sudah terluka oleh tusukan ranting itu pun sudah kehilangan sinar hijaunya yang tadi mencorong ketika ular itu masih hidup.
Akan tetapi kepalanya masih mengeluarkan cahaya seperti tadi. Dengan hati-hati, menggunakan pedangnya Liu Ceng menoreh kulit kepala ular. Ternyata kulit itu dapat terkelupas, menandakan bahwa setelah ular itu mati, kepalanya kehilangan kekebalannya.
Dengan hati-hati dia membelah kepala ular itu dan tampaklah sebuah benda sebesar telur ayam, mengkilap dan mencorong mengeluarkan cahaya kehijauan.
Liu Ceng memungut benda itu dan memeriksanya.
"Adik Hua, kurasa inilah yang disebut Mustika Ular yang konon benda ini selain amat kuat dan tidak dapat tergores senjata tajam mana pun, juga dapat mengisap segala macam racun, merupakan obat yang mujarab sekali terhadap orang yang keracunan. Kita beruntung sekali menemukan mustika ini!" seru Liu Ceng yang menyerahkan mustika Ular itu kepada Hua Li, akan tetapi Hua Li tidak mau menerimanya.
"Ambillah, kakak Ceng. mustika ular itu lebih pantas menjadi milikmu karena kamu adalah seorang ahli pengobatan." kata Hua Li.
Hua Li menghela napas panjang.
"Baik, kakak Ceng. Terima kasih. Kau memang baik sekali." ucap Hua Li yang kemudian memasukkan mustika ular itu ke dalam ikat pinggangnya.
"Nah, sekarang aku tahu. Tentu delapan orang ini mencari harta karun di sini akan tetapi mereka semua tewas oleh ular besar tadi. Mari kita tinggalkan saja tempat menyeramkan ini." kata Liu Ceng seraya memandang ke arah delapan buah kerangka manusia itu.
"Nanti dulu, kakak Ceng. Mustika ular ini memang amat berharga, akan tetapi batu kemala ini hanya untuk kita, untuk aku karena telah kauberikan kepadaku. Akan tetapi bagaimana dengan harta Karun itu?" tanya Hua Li yang menatap wajah Liu Ceng.
"Akan tetapi, ke mana lagi kita akan mencari, adik Hua?" tanya Liu Ceng yang sedikit berputus asa.
__ADS_1
"Kakak Ceng, kukira pendapatmu tentang delapan orang yang mati di sini tidak begitu cocok. Lihat, alat-alat menggali itu berada di dekat masing-masing, berarti mungkin mereka tewas terbunuh ketika masih memegang alat menggali itu. Dan lihat alat-alat cangkul dan sekop juga linggis itu. Pada mata alat itu masih terdapat gumpalan tanah. Ini berarti bahwa mereka sedang atau habis menggali tanah ketika mereka terbunuh. Juga, kurasa mereka tidak dibunuh ular tadi. Kalau dibunuh ular, tentu mayat mereka sudah habis dimakan ular itu dalam waktu sekian lamanya. Pula, delapan orang yang semua memegang alat seperti cangkul, sekop dan linggis itu, tentu akan melakukan perlawanan terhadap ular yang menyerang mereka. Sebelum mereka semua terbunuh, mereka tentu dapat pula melarikan diri keluar guha. Bagaimana pendapatmu, kakak Ceng?" jelas sekaligus tanya Hua Li.
"Kamu memang hebat, adik Hua. Semua perkiraanmu itu tepat sekali dan sungguh bodoh aku tidak dapat melihat semua tanda itu. Lalu kesimpulannya bagaimana?" tanya Liu Ceng.
"Menurut pendapatku, kesimpulannya begini. Mungkin ketika mereka memasuki goa ini, belum ada ular besar itu dan belum ada pula semak belukar depan goa. Agaknya mereka menggali di sini dan sebelum kita menarik kesimpulan lebih lanjut, baiknya kita buktikan dulu apakah perkiraanku itu benar. Mungkin mereka menggali di lantai goa ini, menggali bukan untuk mengambil sesuatu, melainkan untuk menyimpan sesuatu! Bagaimana?" jelas sekaligus tanya Hua Li.
"Apa mungkin harta karun itu berada di lantai goa ini?" tanya Liu Ceng seraya menunjuk ke bawah.
"Sebaiknya kita buktikan, kakak Ceng!" seru Hua Li mengulas senyum tipis.
Mereka lalu bekerja yang memulainya dengan memindahkan kerangka delapan orang itu ke luar goa Kemudian mereka mempergunakan cangkul dan sekop untuk menggali lantai goa.
Hati mereka gembira dan jantung mereka berdebar tegang ketika mendapat kenyataan betapa lantai guha itu tidak keras, berarti lantai itu bukan dari tanah berbatu, melainkan tanah lunak. Hal ini memperbesar kemungkinan bahwa tempat itu memang pernah digali orang.
Keduanya menjadi tambah bersemangat dan menggali dengan cepat. Akhirnya cangkul mereka bertemu dengan benda keras dan setelah tanah di atasnya dibersihkan, tampaklah sebuah peti besi.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...