Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 193


__ADS_3

"Perlu kau ketahui kalau aku Lui Seng dan dia Mo Li, mohon biksu bisa memperkenalkan diri kepada kami!" sambung Lui Seng seraya mengarahkan tangan kanannya pada Mo Li, sebagai petunjuk.


"He...he..he...! Amithaba....! kiranya kau pun dapat bersikap lembut, walau sikapmu itu meliputi lahir batin. Alangkah baiknya dan tentu tidak aka mudah menyeleweng, Ha...ha...ha! Nama-ku? Lihat wajahku yang, buruk dan hitam dan kau akan mengenal nama-ku biksu Hek Bin, dan orang menyebutku dengan Biksu Muka hitam." jelas Biksu tua itu dengan terkekeh.


Biksu muka Hitam ini adalah seorang yang sakti, akan tetapi dia tidak pernah mencampuri urusan duniawi, maka namanya tidak dikenal di dunia persilatan Seperti telah kita ketahui, biksu Hek Bin ini adalah kakak seperguruan dari mendiang Thian Cu, ketua perguruan Elang Sakti yang membakar diri ketika kuil itu diserbu pasukan pemerintah.


Karena tidak mengenal nama ini, Lui Seng tentu saja memandang rendah. Dia adalah seorang pendekar aliran sesat yang terkenal dan juga mengenal nama-nama orang sakti di dunia persilatan.


Akan tetapi tentu saja dia tidak mengenal Biksu Hek Bin yang merupakan seorang pertapa yang suka merantau di Pegunungan Himalaya dan negara-negara bagian barat.


"Biksu Hek Bin ada? Hm, biarpun mukamu hitam dan mungkin hatimu juga hitam, akan tetapi kau mencukur rambut dan mengenakan jubah seorang biksu. Setidaknya kau tentu tahu akan peraturan, tahu pula bahwa mencampuri urusan orang lain merupakan hal yang amat tercela! Akan tetapi kenapa kau, yang sudah tua dan tentu berpengalaman ini, sekarang lancang mencampuri urusan kami? Kami berurusan dengan seorang murid kami, dan dua orang anggota perkumpulan kami sendiri, harap kau tidak mencampurinya!" seru Lui Seng.


Sepasang mata itu terbelalak dari mulutnya tertawa lebar.


"Ha...ha...ha...! Sungguh lucu sekali, lucu bukan main! Bagaimana mungkin seorang murid berani menentang gurunya? Hal ini hanya ada dua kemungkinan! Si murid itu menjadi jahat dan tidak mentaati perintah gurunya yang baik! Atau, si guru itu jahat akan tetapi muridnya tetap menjaga diri dan berpihak kepada yang benar, sehingga terpaksa ia menentang gurunya yang jahat. Nah, di antara dua kemungkinan ini, mana yang benar? Aku tadi mendengar bahwa Nona Cilik itu menentang gurunya yang hendak membunuh dua orang yang tidak berdosa! Berarti bahwa Nona itu, biarpun bergaul dengan para tokoh sesat, tetap ia bersih dan murni seperti setangkai bunga teratai di antara lumpir, tetap bersih! Karena itu, apa anehnya kalau aku membelanya?" jawab Biksu Hek Bin dengan tawa khas yang mengiringinya.


Lui Seng menjadi marah sekali, kiranya biksu tua renta ini berbeda dengan para biksu yang lainnya. Para biksu biasanya pendiam dan suka mengalah, tidak pandai bicara. Akan tetapi biksu tua muka hitam ini ternyata tukang ngobrol dan pandai berdebat.


Baru beberapa kali tukar bicara saja dia sudah terdesak dan sukar untuk menjawab.


"Biksu Hek Bin...! kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah Lui Seng pemimpin penganut penyembah patung sesembahan. Lihat aku, pandang mataku, dan berlututlah kau! Aku perintahkan kau, demi nama patung sesembahan yang sakti, berlututlah kau wahai biksu tua!" seru Lui Seng yang dalam suara itu terkandung getaran yang amat hebat dan kuat, yang membuat Hok Cu merasa lututnya gemetar.


Tadi dengan tenaga setengahnya saja, Lui Seng hampir berhasil menyuruh Hok Cu tunduk dan menuruti kehendaknya. Kini dia mempergunakan hampir seluruh kekuatan sihirnya, bahkan menggunakan nama patung sesembahan sebagai ilmu hitam, untuk menyerang dan menundukkan Biksu tua muka hitam.

__ADS_1


"Ha...ha...ha...! Amitabha...! aku tidak tidak memerintah, akan tetapi kalau kau memang ingin berlutut, silakan Lui Seng!" seru Biksu Hek Bin yang, diserang dengan ilmu hitam itu yang hanya terkekeh saja.


Sungguh aneh karena tiba-tiba saja Lui Seng menjatuhkan diri berlutut menghadap biksu itu. Melihat ini tentu saja Hok Cu menjadi terheran-heran. Penglihatan itu sedemikian lucunya sehingga mau tidak mau ia pun tertawa.


"Ha...ha...ha....!"


Mendengar gadis itu tertawa biksu Hek Bin menengok sambil tertawa pula, senang karena gadis yang tak disangkanya jahat akan tetapi yang ternyata gagah perkasa dan berbudi mulia itu ternyata juga memiliki watak periang.


Karena dia menengok, maka Lui Seng yang tadinya terpukul oleh kekuatan sihirnya sendiri yang kembali menjadi sadar, apalagi karena Mo Li sudah mengguncang pundaknya dengan kesal.


"Hei, kau ini apa-apaan!" bentak Mo Li yang ikut merasa malu melihat kawannya bertindak seperti seorang badut.


Lui Seng meloncat berdiri dan dia sudah mencabut golok besarnya, mukanya berubah merah karena marahnya. Mo Li juga sudah mencabut senjata yang ampuh, yaitu sebuah kipas di tangan kiri dan sebatang pedang di tangan kanan.


Tanpa banyak cakap lagi dua orang ini sudah maju menyerang Biksu Hek Bin dengan ganas sekali. Mo Li menggerakkan kipasnya dan dari kedua ujung gagang kipasnya meluncur jarum-jarum beracun yang amat berbahaya, yang mendahului serangan totokannya dengan gagang kipas, disusul tusukan-tusukan pedangnya.


"Kakek...! awas senjata rahasia jarum beracun!" seru Hok Cu yang tiba-tiba.


Gadis itu tentu saja mengenal kipas dari girunya dan tahu betapa berbahayanya jarum-jarum kipas itu yang dilepas dari jarak dekat dan tidak nampak saking lembut dan cepatnya.


"Ha...ha...ha...! ia yang menabur benih, ia yang menuai!" seru Biksu Hek Bin yang mengebutkan lengan bajunya dan jarum-jarum halus itu disambar angin dan membalik, kini menyerang ke arah pemiliknya.


Tentu saja Mo Li sangat terkejut bukan main. Dengan cepat ia melempar diri ke belakang dan bergulingan di atas tanah, tidak peduli betapa perbuatan itu membuat pakaiannya menjadi kotor.

__ADS_1


Ia bergidik dan tidak berani lagi mempergunakan senjata rahasia yang dapat membalik dan "makan nyonya" itu. Ia menyerang dengan gagang kipas dan pedangnya, membantu Lui Seng mengeroyok Biksu tua muka hitam.


Terjadilah perkelahian yang seru dan menegangkan hati Hok Cu. Inilah saat yang ditakutinya.


"Mampukah kakek itu menahan dua orang lawan yang demikian tangguhnya?" gumam dalam hati Hok Cu.


Terjadi hal yang lucu. biksu tua itu hanya memegang sebatang tongkat yang butut dan rapuh, sebatang dahan atau ranting pohon yang sudah rapuh, dan selanjutnya hanya menjaga diri dengan kebutan lengan bajunya yang lebar.


Akan tetapi, tiga macam senjata lawan itu sama sekali tidak mampu menyentuhnya, selalu menyeleweng, atau bahkan membalik kena sambaran angin kebutan ujung lengan baju, sedangkan tongkat bututnya beberapa kali hampir menusuk hidung Lui Seng dan mata Mo Li.


Tentu saja Hok Cu menjadi kagum bukan main dan juga hatinya girang karena kini ia tidak khawatir lagi. Dua orang muda itu tentu akan dapat bebas dari ancaman maut di tangan gurunya dan Lui Seng.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


... ...


   


__ADS_2