
Gadis itu hendak menarik tangannya, tapi tak kuasa menggerakkan tangannya itu dan terasa oleh Hua Li betapa lembut dan mesra tangan Pangeran Leng Song pada saat memegang tangannya.
Tiba-tiba telinganya yang tajam dapat menangkap langkah kaki beberapa orang, maka dengan cepat sekali Hua Li menarik tangannya dan meloncat menghadapi orang yang datang itu.
Alangkah kagetnya dia saat melihat bahwa yang datang adalah Kasim Mo dan empat orang lain dengan senjata di tangan dengan wajah garang.
Melihat hal ini, terkejutlah pangeran Leng Song dan dia segera bertepuk tangan tiga kali. Tapi para pembantunya tidak muncul dan Iblis Bongkok yang ikut dalam rombongan Kasim Mo itu tertawa mengejek.
"Ha....ha...! Kaki tanganmu tak mungkin datang, mereka sendiri sibuk membela diri dan menjaga agar nyawa mereka jangan melayang!" seru si iblis bongkok.
Kemudian si iblis bongkok segera maju dan menggerakkan tongkatnya ke arah pangeran Leng Song.
"Hiaaaaa...!"
Hua Li berseru nyaring dan ia maju menotok iga iblis itu dengan hebat. Terpaksa Si Bongkok menarik kembali tongkatnya dan melayani Hua Li.
Kemudian tiga orang lainnya yang juga bersenjata pedang maju mengeroyok Hua Li, sehingga gadis itu sibuk sekali melayani serangan mereka.
"Pangeran! lekas anda pergi, biar saya yang menahan mereka semua!" seru Hua Li yang khawatir kalau-kalau pangeran itu mendapat celaka, karena gadis itu tahu kalau kepandaian pangeran Leng song masih terlampau rendah untuk melayani para penyerbu yang berkepandaian tinggi ini.
Tapi Pangeran Leng Song tidak mempedulikan teriakan Hua Li, bahkan dia lalu menggunakan tongkat jaring ikan yang terdapat di kolam samping itu dan menggunakan tongkat jaring ikan itu sebagai senjata.
"Nona, jangan takut, saya akan bantu anda!" seru Pangeran Leng Song seraya meloncat menerjang pengeroyok Hua Li
Hal itu membuat Hua Li semakin sibuk sekali karena untuk menjaga diri sendiri dengan tangan kosong terhadap lima pengeroyok saja sudah sukar baginya, apalagi kini dengan ikut campurnya pangeran Leng Song. Gerakan Hua Li semakin kalut karena ia juga harus menjaga pangeran Leng Song dari serangan lawan-lawannya.
"Pangeran Leng Song, sebaiknya anda pergi sekarang pangeran!" teriak Hua Li sekali lagi.
Namun Pangeran Leng Song tak mengindahkannya, bahkan dengan gencarnya menyerang Kasim Mo.
Sedangkan Si Bongkok dengan cepat menangkis dengan tongkatnya sedemikian rupa sehingga timbullah suara tongkat yang beradu dengan tongkat jaring ikan.
"Tekk...tekk....tekk...!'"
"Tekk...tekk....tekk...!'"
Kedua tongkat beda kegunaannya itu terus beradu, dan tongkat jaring milik pangeran patah jadi dua dan pangeran Leng Song yang terpental jauh dan jadug dan tercebur ke dalam kolam.
__ADS_1
"Hah....Apa!" seru Hua Li yang melihat hal itu.
Dengan gerakan yang tak terduga sama sekali oleh lawan-lawannya, tubuhnya bergerak secepat kilat sehingga mata para lawannya kabur dan tahu-tahu seorang pengeroyok kena tertotok pundaknya sehingga tubuhnya menjadi lemas dan roboh.
Pengeroyok yang lain menjadi terkejut dan meloncat mundur, dan kesempatan ini dipergunakan oleh Hua Li untuk meloncat terjun ke dalam kolam.
Kemudian Hua Li menyelam dan memegang tubuh pangeran Leng song yang telah lemas dan hampir saja tenggelam.
Kemudian semua lawan Hua Li mengepung kolam itu dengan senjata yang mereka siapkan dari tangan mereka yang langsung mengarah pada kolam dimana Hua Li dan pangeran Leng Song ada di dalamnya.
Hua Li denga sekuat tenaganya menggunakan jurus meringankan tubuhnya keluar dari kolam itu dengan mbawa Sera pangeran Leng song, melompat setinggi-tingginya dan turun tepat di depan teras gedung besar itu.
Kemudian dengan cepat Hua Li membawa pangeran Leng song ke kamarnya dan dia merebahkan tubuh pangeran ke atas pembaringan.
Setelah itu Hua Li mengambil kecapinya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
Berapa kagetnya dia saat melihat Kasim Mo, si iblis bongkok, patriak Bao dan yang lainnya berada di depan kamar dengan senjata yang menghunus ke arahnya.
Hua Li melihat ada sela jarak diantara barisan mereka, setelah mengunci pintu kamarnya dengan cepat Hua Li melesat meliwati jarak diantara kedua lawannya. Dan gadis itu kembali menuju ke taman tadi.
"Teng....teng....teng...!"
"Teng....teng....teng...!"
Patriak Bao, Kasim Mo dan yang lainnya, sangat terkejut dan saling pandang, dengan apa yang dilakukan oleh Hua Li.
Mereka secara bersama-sama menyerang Hua Li yang masih duduk dengan memetik senar kecapi.
Tiba-tiba saja telinga mereka mengeluarkan darah segar di segar dan keluar dari mulut mereka.
"Aaaghh.... !" suara erangan mereka yang hampir bersamaan
Tubuh Hua Li kemudian dengan berputar lambat dal lama-kelamaan menjadi cepat dan mengeluarkan ledakan-ledakan yang dahsyat.
"Darr...darr....darr...!"
Beberapa orang langsung terkapar dan tak bangun lagi, dan kesempatan itu digunakan Hua Li kembali ke kamarnya. Untuk melihat keadaan pangeran Leng song.
__ADS_1
"Pangeran....pangeran Leng Song!" panggil Hua Li pada saat sudah membuat pintu kamarnya dan masih mendapati pangeran yang tampan itu masih terbaring diatas tempat tidurnya.
Hua Li bingung menggoyang-goyang tubuh pangeran Leng song, tapi pemilijh itu tidak bergerak dan wajahnya pucat sekali.
Hua Li tidak tahu bahwa kedua musuhnya yang belum roboh masing-masing memondong seorang kawan yang terluka dan telah meninggalkan tempat itu.
Dengan bingung dan sedih gadis itu lalu kembali ke kamarnya. dan lihat pangeran Leng song masih terbaring diatas tempat tidur dengan kedua mata yang masih tertutup itu.
Gadis itu membuka pakaian atas pangeran Leng song dan dia bernapas lega karena dada itu hanya mendapat luka di kulit saja sehingga mengeluarkan sedikit darah dan menjadi matang biru.
Yang membuat pangeran Leng Song adalah pingsan adalah tenggelam ke dalam air tadi.
"Pelayan...!'
Hua Li memanggil-manggil pelayan tapi tak seorang pun muncul, karena semua pelayan agaknya telah lari bersembunyi.
Kemudian gadis itu melenyapkan semua perasaan malu dan menggunakan kain tilam pembaringan yang dirobeknya untuk membalut dada pemuda itu. Ia bingung sekali karena pakaian pemuda itu dan pakaiannya sendiri basah kuyup.
Pada saat itu pangeran Leng Songng beberapa siuman dari pingsannya. Dia heran dan bingung sekali, tapi dia segera teringat akan kejadian tadi.
Cepat sekali dia meloncat bangun dan melihat ke arah dadanya yang telanjang dan yang kini telah dibalut. Lalu memandang Hua Li yang juga masih basah kuyup, sama dengan pakaiannya sendiri.
"No...nona... Nona... kau... kau telah menolong nyawaku!" seru Pangeran Leng song yang terbata-bata.
"Sudahlah jangan dipaksakan bangun dulu, anda perlu istirahat," kata Hua Li dengan wajah merah dan mendekati Pangeran itu yang segera ia pegang pundaknya untuk didorong agar tidur kembali.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1