Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 268


__ADS_3

"Saudaraku, tenanglah. Aku bukan musuhmu. Mereka itu sudah melarikan diri." kata Hua Li.


Laki-laki itu mengamati wajah Hua Li dan teringatlah dia bahwa wanita itu yang tadi muncul menyelamatkannya dari sambaran golok.


Akan tetapi ia pun teringat bahwa setelah itu, wanita itu menotoknya sehingga ia roboh dan tidak ingat apa-apa lagi.


"" v masTapi, tapi kenapa kau menotokku dan membuat aku pingsan?" tanya lak itu dengan penuh keraguan dan dengan sikap masih siap untuk menyerang walaupun seluruh tubuhnya terasa nyeri, dan terutama sekali luka di paha kirinya mendatangkan rasa panas bukan main.


"Aku terpaksa, saudaraku. Kalau kau tidak aku buat pingsan, tentu kau akan tetap mengamuk dan hal itu berbahaya sekali karena kau sudah terluka parah, aku berhasil memaksa mereka melarikan diri." jelas Hua Li.


Sepasang mata yang tajam itu mengamati Hua Li dengan penuh perhatian, kemudian ketegangannya melunak dan ia pun terkulai dan jatuh terduduk, lalu terdengar suaranya yang lemah.


"Harap pendekar sudi memaafkan aku. Karena tidak mengenal maka aku tadi mengira kalau pendekar seorang di antara mereka dan aduhhh .....!" seru laki-laki itu yang mengeluh dan kedua tangannya memijat-mijat paha kiri.


"Cukup, jangan banyak banyak bicara dulu saudaraku. Kau terluka parah dan agaknya yang paling parah adalah luka di pahamu. Biarkan aku memeriksanya. Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan." kata Hua Li.


Rupanya Laki-laki itu sudah percaya penuh kepada Hua Li, karena itu Ia hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan pendekar kecapi itu memeriksa luka di paha kirinya.


"Maaf, untuk dapat memeriksa dengan baik, celana ini terpaksa dirobek sedikit di bagian yang terluka. Apakah kau tidak keberatan, Saudaraku?" tanya Hua Li yang sedikit tak enak hati.


"Silahkan pendekar! Saya serahkan kesembuhan saya sepenuhnya pada pendekar!" seru laki-laki itu yang sudah pasrah dengan keadaannya.


Kemudian dengan hati-hati Hua Li merobek sedikit celana itu di bagian paha yang terluka sehingga luka itu pun nampak jelas. Hua Li adalah seorang wanita yang belum menikah yang usianya sudah tiga puluh tahun lebih.


Walaupun sudah bertahun-tahun dia tidak pernah dekat dengan laki-laki namun dia telah mampu menundukkan gejolak nafsunya.


Yang menjadi pusat perhatiannya hanyalah luka itu. Luka tusukan yang tidak berapa lebar, dan dalamnya juga tidak sampai mengenai tulang.


Akan tetapi melihat keadaan luka yang membengkak dan kehitaman itu, dia mengerutkan alisnya.

__ADS_1


"Saudaraku, kau terluka oleh senjata beracun!"seru Hua Li dan laki-laki itu menganggukkan kepalanya.


"Yang melukai aku di paha adalah sebatang pisau yang dipergunakan secara curang oleh seorang di antara kedua pemimpin gerombolan itu. Mungkin pisau itu yang beracun." kata laki-laki itu.


"Aughhh ......! nyeri dan panas rasanya .....!" seru laki-laki itu yang mengeluh.


"Untunglah racun ini hanya racun biasa saja, saudaraku. Belum terlalu jauh menjalar, hanya di sekitar luka. Apakah kau tidak berkeberatan kalau aku menyedot racun itu dan luka di pahamu?" tanya Hua Li yang meminta ijin, dan sejenak mereka saling pandang dan melihat sinar mata tajam yang penuh kejujuran itu, laki-laki itu lalu menganggukkan kepalanya.


Hua Li lalu menundukkan mukanya dan mulai menyedot luka itu dengan mulutnya. Di mengerahkan tenaga dalamya sehingga sedotannya itu kuat sekali.


Setelah menyedot dia meludahkan darah bercampur racun yang tersedot, lalu mengulangi lagi. Sampai lima kali dia menyedot dan setiap kali disedot, laki-laki itu merasakan kenyerian yang menusuk jantung namun dia berusaha untuk tetap mempertahankan diri dan tidak mau mengeluh, karena itulah dia hanya menggigit bibir sendiri.


"Nah, sekarang kurasa racun itu sudah keluar semua," kata Hua Li sambil menyusut bibirnya, dan memeriksa luka itu.


"Dengan obat luka tentu akan cepat sembuh." lanjut kata Hua Li yang kemudian mengeluarkan obat bubuk dari saku bajunya dan menaburkan obat itu ke dalam luka dan membalut paha itu dengan kain bersih robekan sabuknya.


Setelah itu, dia memeriksa luka-luka lain, akan tetapi hanya luka biasa saja yang tidak berbahaya.


"Sudahlah, Saudaraku. Kau tidak perlu banyak sungkan dan tidak boleh terlalu banyak bicara. Jawab saja secara pendek hal-hal pokok yang ingin kuketahui. Gerombolan apakah mereka tadi?" tanya Hua Li yang penasaran.


"Mereka tadi adalah perampok-perampok." jawab laki-laki itu.


"Bagaimana kau bisa bentrok dengan mereka? Jelaskan secara singkat saja." tanya Hua Li.


"Ketika aku lewat di sini aku melihat mereka itu merampok sebuah keluarga yang lemah. Aku menolong keluarga itu dan berhasil mengusir para perampok. Akan tetapi mereka itu datang lagi membawa dua orang yang lihai tadi dan aku terdesak." cerita laki-laki itu yang nampak semakin lemah.


"Cukup, saudaraku. Aku melihat kalau kau lemah kali, kalau bicara kau menjadi pucat dan nampak kesakitan. Apakah ada sesuatu yang terasa sakit?" tanya Hua Li yang sebelumnya memberi kode dengan mengangkat tangan.


"Dalam dadaku terasa sangat nyeri dan kalau bicara! ah, semakin nyeri!" jawab Laki-laki itu yang sangat lenah.

__ADS_1


"Coba aku memeriksanya," kata Hua Li dan dia pun berdiri di belakang laki-laki itu, lalu berlutut sedangkan laki-laki itu duduk bersila. Hua Li menempelkan telapak tangannya pada punggung itu seraya menekan-nekannya.


"Ah, ternyata selain luka beracun pahamu,, juga engkau menderita luka dalam oleh pukulan yang cukup kuat saudaraku!" jelas Hua Li.


"Tadi, Si Muka Hitam itul. Dia berhasil memukul punggungku." kata Laki-laki itu


"Hm, sekarang ke manakah kau hendak pergi?" tanya Hua Li yang kini sudah berada kembali di depan laki-laki itu sambil memperhatikan wajah yang bulat berkulit putih dan bermata tajam itu.


"Aku akan melanjutkan perjalanan mungkin ke kota raja. Aku sedang mencari Pamanku!" ⁷ juga ga Laki-laki itu lirih dan hati-hati karena kalau dipakai bicara, dadanya seperti ditusuk rasanya.


Hua Li menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau perlu mengaso dan perlu perawatan. Keadaanmu tidak memungkinkan, Apakah melakukan perjalanan, apalagi yang jauh dan seorang lain diri pula. Kau seorang laki-laki muda, itu akan menghadapi banyak rintangan di jalan dan dalam keadaan seperti ini, kalau itu akan berbahaya sekali." kata Hua Li seraya menatap ke arah wajah laki-laki itu.


"Kalau mau kau bisa ikut bersamaku. Aku akan melanjutkan perjalanan dengan berperahu sehingga tidak melelahkan dan kalau tiba di tempat tinggalku, aku akan merawatmu sampai sembuh dan Kalau kau sudah sembuh dan sehat kembali, baru kau dapat melanjutkan perjalananmu. Sekarang tidak perlu banyak bicara. Kalau kau mau, marilah." lanjut kata Hua Li yang mengajak.


Laki-laki itu nampak ragu-ragu dan bingung, ucapan wanita itu memang benar.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...

__ADS_1


   .


__ADS_2