Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 40


__ADS_3

"Adik Lin, diam dan dengarkan cerita ayah!" Sin Lan menegur adiknya.


 Sin Yang tersenyum mendengar pertanyaan Sin Lin walaupun sinar matanya masih membayangkan kesedihan.


"Memang benar, ketika itu aku dan Siauw Eng dulu saling mencinta. Mencinta bukan hal yang buruk, bukan hal yang tidak pantas atau patut disembunyikan. Memang pada waktu itu, aku dan Siauw Eng menganggap kita menjadi calon jodoh masing-masing. Akan tetapi, kemudian kota raja diserbu pasukan musuh dan Kaisar dilarikan mengungsi ke selatan. Di antara mereka yang membela dan menyelamatkan Kaisar adalah Siauw Eng. Ketika Kaisar tewas terjun ke laut, dan banyak perwira dan pendekar yang ikut tewas ketika membela Kaisar, tersiar berita bahwa Siauw Eng juga tewas. Selama setahun aku berkabung, sama sekali tidak mengira bahwa Siauw Eng menghilang karena dia menjadi buruan kerajaan musuh sehingga terpaksa menyembunyikan diri menyamar sebagai wanita penghibur dengan menggunakan kecapi yang biasa kami mainkan saat brsama. Nah, ketika itulah aku bertemu dengan Kim Xie yang juga seorang pendekar. Kami menikah dan mempunyai dua orang anak, yaitu Sin Lan dan Sin Lin yang terlahir berbeda.Satu cebol dan satunya kurus. Baru kemudian aku mendengar bahwa Siauw Eng belum mati dan menjadi penyanyi.":cerita Sin Yang, laki-laki itu menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.


Hua Li dan kedua putra Sin Yang menyimak dengan seksama seraya memakan makanan kecil dihadapan mereka. Setelah tenag kembali, Sin Yang menceritakan kembali apa yang dia tahu.


"Akan tetapi aku tidak menyesal karena aku sudah menjadi suami orang lain, bahkan merasa bersyukur bahwa Siauw Eng masih hidup. Mungkin dia juga mendengar bahwa aku telah menikah dengan Kim Xie dan dia sengaja tidak pernah datang menjengukku. Aku mengenal betul akan wataknya yang bijaksana. Nah, demikianlah, anak-anakku dan engkau juga Li'er, riwayatku sehingga tentu saja aku terkejut sekali ketika melihat kecapi itu." ucap Sin Yang yang mengakhiri ceritanya.


"Saya dapat mengerti kenapa paman menikah dengan orang lain karena mengira bahwa mendiang ibuku yang menjadi calon istri paman telah tewas. Kalau boleh saya bertanya, di mana adanya istri paman yang bernama Kim Xie itu?" tanya Hua Li yang penasaran.


Sin Xie menghela napas panjang.


"Memang nasibku yang buruk. Ketika Sin Lan dan Sin Lin berusia sepuluh tahun, ibu mereka tewas ketika melawan pasukan Mongol. Dia ada di antara para pendekar yang dianggap pemberontak dan dimusuhi Kerajaan Mongol. Dia berhasil menewaskan banyak perajurit, akan tetapi akhirnya tewas. Aku sempat menyelamatkan anak-anak dan kami melarikan diri sampai disini." jelas Sin Yang.


 "Ayah tidak pernah mau menceritakan siapa panglima yang memimpin pasukan yang telah menewaskan ibu!" Sin Lin berkata dengan nada penasaran.


"Kuceritakan juga, apa yang dapat kalian lakukan? Panglima itu membunuh ibu kalian bukan karena urusan permusuhan pribadi. Dia mewakili Kerajaan Mongol maka yang membunuh ibu kalian adalah Kerajaan Mongol." jelas Sin Yang.


"Ayah berkata benar," kata Sin Lan.


"Akan tetapi ada baiknya kalau kami mengetahui namanya." lanjut laki-laki cebol itu.


"Panglima itu adalah seorang yang berkepandaian tinggi, juga dia seorang panglima besar yang memimpin ratusan ribu perajurit. Namanya Panglima Lim Bao."


"Ahhh......!" seru Hua Li yang demikian kaget sehingga tanpa disadarinya dia mengeluarkan seruan itu.


Sin Yang dan kedua orang puteranya itu kini memandang kepadanya dengan tajam karena penasaran.

__ADS_1


"Nona, apakah engkau mengenal Lim Bao?" tanya Sin Yang yang mengerutkan kedua alisnya.


"Sangat mengenalnya, paman! bahkan sudah beberapa kali saya bermusuhan dan bentrok dengan dia dan kaki tangannya. Bagi saya, Lim Bao adalah seorang yang keji dan licik jahat akan tetapi juga berbahaya. Kalau diberi kesempatan, saya ingin sekali membunuhnya. Belum lama ini saya pernah menjadi tawanannya. Masih untung saya dapat menyelamatkan diri." jawab Hua Li.


 "Wah, menarik sekali!" teriak Sin Lin.


"Nona Hua, ceritakanlah apa yang kau alami ketika bermusuhan dengan Lim Bao, si pembunuh Ibuku itu!" lanjut Sin Lin yang sangat tertarik dengan cerita Hua Li.


Hua Li lalu menceritakan pengalamannya ketika membunuh putra Lim Bao dan putra hakim pengadilan Kun Hok, kemudian dia bersama Liu Ceng berhadapan dengan Lim Bao dan kaki tangannya dalam memperebutkan harta karun Kerajaan Sung.


"Peta harta karun itu adalah peninggalan Panglima Liu Bok yang juga terbunuh oleh Lim Bao dan Cui beng. Peta itu ditinggalkan kepada puteranya yang bernama Liu Ceng." ucap Hua Li.


"Ah, aku pernah mendengar nama besar Liu Bok yang dulu menjadi panglima Kerajaan Sung. Aku masih ingat bahwa ilmu toyanya jarang menemui tandingan," kata Sin Yang.


"Lagi-lagi Lim Bao yang membunuhnya. Panglima yang satu ini agaknya memang ingin membasmi semua pendekar yang berjiwa patriot." lanjut Sin Yang.


"Nona Hua, lalu bagaimana dengan peta itu?" tanya Sin Lan.


"Nona Hua, apakah engkau dan Liu Ceng ingin mendapatkan harta karun itu?" tanya Sin Lin.


"Adik Lin, jangan lancang!" tegur Sin Lan dan adiknya Sin Lin cemberut.


Hua Li tersenyum.


"Sama sekali tidak, saudara Lin. Kami mencari harta itu dengan niat kalau sudah ditemukan akan kami serahkan kepada yang berhak seperti dikehendaki mendiang Panglima Liu Bok." jelas Hua Li.


"Siapa yang berhak menerima harta karun itu?" tanya pula Kui Lin.


"Menurut Liu Ceng, Ayahnya menghendaki agar harta karun itu kelak dipergunakan untuk biaya pasukan pejuang yang berusaha menumbangkan pemerintah penjajah Mongol." jawab Hua Li.

__ADS_1


"Bagus sekali! Sampai matinya Liu Bok tetap seorang pendekar patriot, bahkan jiwa kependekarannya diturunkan kepada puteranya!" Sin Yang memuji.


"Lalu bagaimana, nona Hua? Apakah kalian berhasil menemukan harta karun itu?" tanya Sin Yang yang penasaran.


"Sebelum kami menemukan tempat harta karun itu menurut petunjuk peta, kami telah terjatuh ke tangan Lim Bao dan anak buahnya dan kami tertawan." jawab Hua Li.


"Ah, keparat Lim Bao!" seru Sin Lin sambil mengepal tinjunya karena marah.


"Adik Lin, biarlah nona Hua melanjutkan ceritanya," Sin Lan mencela adiknya.


"Karena Lim Bao mengancam akan membunuh Adik sepupu Liu Ceng yang bernama Liu Hong, maka Liu Ceng terpaksa menyerahkan peta itu kepada Lim Bao untuk menyelamatkan Liu Hong adik sepupu Liu Ceng itu yang telah ditawan sebelumnya." jelas Hua Li.


"Aih, sungguh pantas menjadi putera Pendekar Liu Bok!" kata Sin Yang, gembira mendengar orang-orang gagah yang memang ia kagumi sejak dulu.


 "Akan tetapi, siapa Liu Hong itu, siapakah dia Li'er? Apakah ia juga seorang pendekar?" tanya Sin Yang yang penasaran.


"Benar, paman. Liu Hong adalah seorang pendekar yang lihai juga. Ia adalah murid dari Ban tok, si majikan Pulau Ular." jawab Hua Li.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


   


__ADS_2