
Suami isteri itu memandang dengan hati terharu sekali. Sepasang mata Cu Ming pada saat ini menjadi basah karena air mata.
"Adik-adikku yang budiman, aku percaya kepada kalian. Dan andaikata kalian terlupa dan sampai membunuh Ibuku sekalipun, aku tidak akan menyesal karena memang apa yang telah dilakukan Ibuku terhadap Adik Hok Cu sudah melewati batas. Nah, Adik-adikku, tak jauh dari sini terdapat biksuni yang tinggal di kuil. Mari aku antar kalian." Cu Ming yang kemudian bangkit berdiri.
"Aku juga ikut." kata pula Coa Siang yang juga bangkit dari duduknya.
Mereka berempat lalu keluar dari rumah itu. Cu Ming yang mencari puteranya, akan tetapi anak itu tidak nampak di luar.
"Tentu dia bermain di rumah tetangga." kata Coa Siang, yang menduga-duga.
"Kalau begitu sebaiknya kita berangkat saja!' kata Cu Ming yang sudah menutup semua pintu rumahnya.
Karena menghadapi urusan penting, mereka berempat lalu pergi mendaki bukit yang berada di luar dusun itu. Dari bawah bukit sudah nampak tembok kuil itu. Tak lama kemudian, tibalah mereka di kuil itu, disambut oleh seorang biksunini muda.
"Beritahukan kepada biksuni Li yang bertapa di ruangan belakang bahwa kami ingin datang berkunjung," kata Cu Ming.
Tanpa menjawab, biksuni muda itu hanya menganggukkan kepalanya dan memberi hormat dengan membungkuk lalu pergi ke dalam kuil. Tak lama kemudian ia kembali sikapnya yang lembut dan hormat.
"Guru Li mempersilakan Anda Sekalian untuk segera masuk saja. Beliau sedang berada di taman belakang." kata biksuni muda itu dengan ramah.
Dengan jantung berdebar Hok Cu dan Han Beng mengikuti suami isteri itu yang agaknya sudah mengenal baik tempat itu. Mereka memasuki taman dan melihat seorang biksuni tua duduk diatas bangku, memangku seorang anak kecil laki-laki.
"Coa Ki! Engkau sudah berada disini?" seru Coa Siang yang terkejut.
Anak itu melompat turun dari atas pangkuan biksuni tua, lalu berlari menghampiri ayah dan ibunya.
"Habis, Ayah dan Ibu tidak memperkenankan aku masuk menemui tamu, maka aku lari ke sini untuk bermain dengan nenek!" jawab Coa Ki dengan polosnya.
__ADS_1
"Mari kita keluar, Coa Ki. Biarkan Nenek bicara dengan Paman dan Bibi.' kata Coa Siang sambil memondong anaknya.
Isterinya juga ikut keluar setelah mengangguk ke arah biksuni tua itu yang masih duduk dengan sikap tenang sekali.
Kini tinggal mereka bertiga di situ, di taman yang sunyi. Han Beng dan Hok Cu berdiri di depan biksuni tua yang masih duduk di atas bangku. Seorang pendeta wanita gundul yang berwajah cantik dan masih nampak manis walaupun usianya sudah mendekati enam puluh tahun.
Dan sekali pandang, Han Beng dan Hok Cu mengenal wajah itu. Wajah Mo Li tanpa bedak dan gincu. Sungguh menggelikan, juga mengherankan melihat tokoh sesat yang baru saja menjadi wakil ketua aliran Bumi dan Langit, kini tiba-tiba saja telah menjadi seorang biksu wanita yang gundul, dengan sikap demikian tenang dan lembut.
"Mo Li.....!" Hampir berbareng Han Beng dan Hok Cu menyebut nama itu, dan biksuni itu tersenyum dan merangkap kedua tangan di depan dadanya.
"Amitabha.....! akhirnya kalian dapat juga menemukan aku. Kalau Tuhan sudah menghendaki, aku juga tidak akan menghindar lagi. Akan tetapi jangan kalian memaksa aku untuk menjadi orang tahanan karena hal itu akan mencemarkan agama. Kalau kalian ingin membunuh aku saja. Nah, lakukanlah aku tidak akan melawan, bahkan akan menerimanya dengan gembira sebagai penebusan sebagian dari dosa aku yang lalu." kata Biksuni itu yang tak lain adalah Mo Li.
Hok Cu melangkah maju dan memberi hormat.
"Guru.....!" panggil Hok Cu.
"Hok Cu, engkau masih suka menyebut aku dengan sebutan itu?" tanya biksuni tua itu dengan wajah tersenyum dan wajahnya membayangkan kelembutan hati.
"Bagus, makin banyak yang dapat kulakukan untuk menolongrnu, makin baik, Hok Cu, karena hal itu pun berarti akan meringankan dosa-dosaku! Nah, katakanlah, apa yang dapat aku lakukan untukmu?" tanya biksuni tua itu.
Hok Cu menyingsingkan lengan bajunya dan memperlihatkan bintik merah itu kepada Mo Li yang kini dikenal dengan sebutan biksuni Li saja.
"Guru, murid hanya mohon agar Guru suka memberi obat pemusnah untuk bintik merah ini." kata Hok Cu.
Biksuni itu memandang ke arah bintik merah itu, kemudian kepada wajah Hok Cu dan ia menahan ketawanya, tersenyum lebar dan seperti orang yang merasa geli hati.
"Ehhh? Kenapa? Itu tanda keperawananmu. Kalau kau menikah akan hilang sendiri!" seru biksuni tua itu.
__ADS_1
"Memang kami hendak menikah, guru. Mohon doa restu Guru," kata Hok Cu.
"Amitabha.....! Kiong-hi, kiong-hi, semoga Tuhan memberkahi kalian dengan keturunan yang baik seperti Cucuku Coa Ki!" kata Biksuni tua itu.
"Tapi Guru. Bagaimana mungkin murid mendapatkan keturunan kalau setelah menikah, dalam waktu sebulan murid akan mati karena racun di lengan ini?" tanya Hok Cu yang penasaran.
"Amitabha! Siapa yang bilang begitu?" tanya biksuni itu yang heran.
"Guru sendiri! Dahulu ketika sepuluh tahun yang lalu dan Guru menusukkan jarum sehingga timbul bintik merah ini, Guru mengatakan bahwa kalau keperawanan teecu hilang, maka bintik merah ini akan lenyap pula, akan tetapi akibatnya sebulan kemudian teecu akan mati dan tidak ada obat yang akan mampu menolong murid." jelas Hok Cu yang mencoba mengingatkan.
"Amitabha.....semoga Sang Buddha mengampuni hambanya." kata biksuni tua itu menutupi mulut dengan lengan bajunya yang lebar untuk menyembunyikan tawanya.
Ia nampaknya geli sekali. kemudian, setelah tawanya yang disembunyikan itu mereda, ia memandang pada Hok Cu dengan sinar mata lembut.
"Muridku, anak yang baik. Maafkanlah. Dosa gurumu ini yang memang bertumpuk-tumpuk. Apa yang gurumu ini katakan dahulu semuanya bohong belaka. Aku memberimu tanda merah dan mengancam dengan kematian itu karena aku merasa kecewa dengan perginya Kakak perempuan-mu Cu Ming yang menjadi isteri Coa Siang. Aku tidak ingin kehilangan kau, maka aku sengaja memberi tanda keperawanan itu dengan ancaman agar kau tidak berani menikah sebelum ada ijin dari aku. Memang aku jahat sekali, Hok Cu. Aku menyesal sekali. Akan tetapi, mengenai ancaman kematian pada tanda keperawanan itu aku hanya berbohong. Kalau kau ingin menikah, lakukanlah dengan restu aku, dan jangan khawatir. Kau tidak akan kehilangan nyawa, hanya akan kehilangan tanda bintik merah saja!" jelas biksuni Li.
"Ahh.....!"
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
__ADS_1
...Bersambung...
... ...