
Tung Hai ditugaskan oleh gurunya, karena gurunya sudah berusia tujuh puluh tahun dan merasa betapa usia tua menggerogoti tubuhnya dan kekuatannya. Karena itu, dia ingin sekali mempermuda gurunya dan memperpanjang usianya.
Karena ternyata dia mencintai gurunya yang merupakan pendekar wanita aliran hitam yang nomor satu kala itu.
Dua orang itu terlalu tangguh untuknya. Maka, begitu melihat Mo Li turun tangan, dan juga Hua Li yang melindungi anak laki-laki, dia melihat betapa perhatian orang semua ditujukan kepada anak laki-laki dan seakan melupakan anak perempuan yang hampir roboh karena lemas itu.
Karena itu dia berpikir bahwa kalau tidak bisa mendapatkan keduanya, memperoleh anak perempuan itu pun sudah cukup berharga.
Tung Hai lalu mempergunakan jurus meringankan tubuhnya untuk melompat, menyambar tubuh Hok Cu dan melarikan anak perempuan itu.
Dia merasa ketika dia menyentuh tubuh anak itu, terasa amat panas dan hawa panas yang luar biasa menyerangnya. Namun, dia cukup pandai dan memiliki tenaga dalam yang kuat untuk melindungi dirinya dari serangan hawa panas itu, dia berhasil memondong lalu mengempit tubuh anak perempuan itu dan dibawanya lari secepat kilat.
Belum begitu lama dia berlari, tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali melewatinya dan ada angina menyambar kearah kepalanya.
Dia mengelak kesamping dan ketika dia memandang, ternyata Mo Li telah berada dihadapannya
Tung Hai sudah mengenal baik siapa wanita di depannya maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu mencabut pedang samurainya dan melintangkan pedang panjang itu didepan dada.
"Dasar pendekar sesat tak tahu diri! Apakah kau lebih mementingkan anak perempuan itu dari pada nyawamu? Hayo berikan anak itu atau terpaksa kuambil nyawamu lebih dulu!" bentak Mo Li dengan sikap garang.
"Bukan urusan kamu! karena saya amat membutuhkan anak ini, disana masih ada anak laki-laki itu yang akan lebih berguna bagimu daripada anak ini!" balas Tung Hai dengan geram.
"Persetan denganmu, yang terpenting adalah kau harus Serahkan anak itu...!" seru Mo Li.
"Tidak, guruku yang lebih membutuhkannya!" seru Tung Hai seraya menggeleng kepalanya.
"akurang ajar, mampuslah kau...!" bentak Mo Li yang sudah menggerakkan tangannya dan tahu-tahu ada sinar kilat menyambar ke arah leher pendekar muda itu.
Sekiranya wanita cantik itu telah mencabut pedang dan sambil terus melakukan serangan kilat.
Karena cepatnya gerakan wanita ini sehingga mengejutkan hati Tung Hai, dengan cepat dia memutar pedang samurai di tangan kanannya dengan pengerahan tenaga. Pedang itu besar dan berat dia menangkis dengan sekuatnya dengan maksud membuat pedang wanita itu terpental dan terlepas.
Tapi buat Mo Li yang merupakan seorang pendekar aliran hitam yang selain amat lihai ilmu silatnya, juga cerdik bukan main. Ia tidak mau mengadu tenaga dengan lawan pendekar muda ini, apalagi pedang di tangan lawan itu berat dan besar. Biarpun ia tidak takut kalau tenaga dalamnya kalah kuat, setidaknya ia kuatir kalau-kalau pedangnya akan rusak.
__ADS_1
Kemudian dengan cepat ia mengelebatkan pedangnya menghindarkan pertemuan dengan samurai lawan dan tangan kirinya sudah menggerakkan kipas. Kipas itu menutup dan gagangnya menotong ke arah pundak sebelah kanan Tung Hai.
Pemuda itu terkejut bukan main, namun dia masih dapat melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik sampai lima kali membuat salto. Gerakannya cepat dan indah membuat Mo Li kagum juga.
"Pemuda ini ternyata masih gesit bukan main." gumam dalam hati Mo Li.
Sementara itu, ketika dibawa jungkir balik, Hok Cu yang sudah lemas dan hampir pingsan itu, tiba-tiba menjadi sadar kembali.
Begitu sadar dan melihat dirinya dikempit oleh seorang pemuda dan wanita cantik itu menyerang penawannya, iapun berpendapat bahwa lebih baik terjatuh ke tangan wanita cantik itu daripada ke tangan pemuda itu.
Karena itu kemudian Hok Cu memukul dengan tangan kanannya dan kepalanya berada di belakang, dengan sekuatnya anak perempuan ini memukul ke arah punggung Ting Hai.
"Dugh..... dugh.....!"
"Aduh...! Ahhh, panas.....!"
Seru pemuda itu terpaksa melepaskan kembali kempitannya dan dia terpelanting, lalu cepat berguling sambil memutar pedang melindungi tubuhnya. Ketika dia melihat bahwa Mo Li tidak mengejarnya, pemuda itu berguling menjauh, kemudian meloncat bangun dan melarikan dir dengan muka kecewa sekali.
Dia gagal memperoleh obat awet muda, bahkan sebaliknya menerima pukulan dai punggungnya yang walaupun tidak mendatangkan luka parah, namun hawa panas itu mengacaukan jalan darah di punggungnya dan mungkin akan membuat dia menderita penyakit punnggung yang berat di punggung.
"Hm, siapakah namamu?" tanya Mo Li yang menlangkah mendekati.
Hok Cu sudah bangkit berdiri, dan biarpun tubuhnya lemas dan kepalanya masih pening, namun aneh, setelah ia melakukan pukulan tadi, kini keadaannya mendingan. Ia tidak tahu bahwa kalau ia mempergunakan tenaganya, maka hawa panas yang ditimbulkan oleh darah ular tadi sebagaian akan keluar sehingga dirinya tidak begitu tertekan.
Hok Cu memandang wanita itu dan dia merasa suka karena wanita itu memang cantik sekali dan pakaiannya indah, juga mulutnya tersenyum manis.
"Namaku Hok Cu," jawabnya singkat.
"Hok Cu? kenapa kau tadi memukul pemuda itu?" tanya Mo Li.
"Karena aku tidak suka padanya, bajunya berbau apak dan dia tentu tidak akan bersikap baik kepadaku." kata Hok Cu.
"Hmm, apakah kau tidak tahu bahwa aku pun akan membawamu?" tanya Mo Li yang apa sebenarnya.
__ADS_1
Mo Li berhenti sebentar melihat sepasang mata yang memandangnya dengan terbuka lebar tanpa sedikitpun perasaan takut terbayang di dalamnya itu.
Seorang anak yang baik sekali, pikirnya. Kelak tentu menjadi seorang gadis yang selain cantik jelita, juga pemberani. Akan tetapi darah naga ditubuhnya itu, ia amat membutuhkannya.
"Jadi kau memilih aku daripada dia?" tanya Mo Li sekali lagi.
"Iya, aku memilih kau. Karena kau cantik dan ramah." jawab Hok Cu yang memandang Mo Li.
"Baiklah, kalau begitu mari ikut aku. Aku akan mengajak pula anak laki-laki itu." kat Mo Li.
''Kian Beng? Ah, sungguh hatiku senang sekali kalau begitu, bibi. Kau tolonglah dia!" seru Hok Cu yang sedikit pun tidak membantah, bahkan ikut berlari disamping wanita itu yang menggandeng tangannya.
Melihat betapa anak perempuan itu dapat berlari ringan dan cepat, Mo Li merasa heran dan ia mempercepat larinya.
Tak disangka Hok Cu dapat mengimbangi larinya tanpa banyak kesukaran. Hok Cu takk tahu kalau, ia mempergunakan tenaga dan hawa panas di tubuhnya itu pun menerobos keluar an membuat keadaan tubuhnya menjadi lebih baik lagi.
Diam-diam wanita iblis itu kagum dan girang. Ia tahu bahwa anak ini tidak pernah mempelajari ilmu berlari cepat, akan tetapi secara tiba-tiba saja menguasai tenaga yang amat hebat. Tentu berkat darah anak naga, pikirnya.
Mereka tiba ditempat tadi, dimana Hua Li masih dikeroyok banyak orang.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1