Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 218


__ADS_3

"Aku tidak ingin memperkosamu, aku ingin kau melayani aku dengan penuh kemesraan dan kasih sayang!" seru Hong Lan dengan merajuk.


"Cih! Aku tidak sudi...!" umpat Cu Ming yang semakin kesal.


"Lebih baik aku mati!" lanjut Cu Ming yang bersiap untuk menyerang.


"Kau tidak akan mati, Cantik. Akan tetapi anakmu ini yang akan remuk kepalanya, dan kau akhirnya akan jatuh pula ke dalam pelukanku, walau untuk itu aku harus melakukan paksaan. Nah, lihat kepala anakmu akan hancur dan otaknya berantakan!" seru Hong Lan yang mengancam.


"Tunggu! Jangan bunuh anakku....!" seru Coa Siang dengan lemah.


"Istriku, lakukanlah apa yang dikehendakinya!" seru Coa Siang yang suaranya mengandung isak saking marah dan tidak berdaya.


Cu Ming membelalakkan matanya ke arah suaminya.


"Apa? kau suamiku sendiri, kau satu-satunya pria yang aku cinta, kau menyuruh aku membiarkan diriku dihinanya? Kemudian, kalau dia sudah menggauli di depan matamu, lalu kelak kau memandang rendah, menghinaku, kau bahkan akan membenciku...!" racau Cu Ming.


"Tidak, isteriku! Sama sekali tidak. Kalau hanya untuk keselamatan diriku sampai mati pun aku tidak rela melihat kau disentuhnya. Akan tetapi untuk Coa Ki, anak kita satu-satunya! Dia tidak boleh mati konyol begitu saja!" seru Coa Siang.


Mendengar hal itu, Cu Ming menjadi lemas. Ia mandang ke kanan kiri bagaikan seekor kelinci yang sudah disudutkan, siap diterkam harimau. Ia tidak tahu harus berbuat apa, akan tetapi melihat anaknya diangkat tinggi-tinggi itu, ia merasa hatinya seperti hancur luluh.


"Baiklah... baiklah....!" ucap Ci Ming dengan berbisik dan terdengar isak yang tertahan.


"Aku turut perintahmu, akan tetapi tolong kau bebas dulu anakku, lepaskan dia!" racau Cu Ming yang memohon.

__ADS_1


"Ha....ha....ha...! kaukira aku ini anak kecil yang mudah kau tipu begitu saja? Namanya menjual barang, belum memberi dan memperlihatkan barangnya sudah mau minta bayarannya! Hayo kau tanggalkan dulu pakaian itu satu demi satu, dan aku akan membebaskan anakmu!" seru Hong Lan.


Cu Ming merasa bahwa ia berada di dalam cengkeraman seorang gila, atau seorang yang luar biasa jahatnya, kejamnya, akan tetapi juga amat cerdiknya. Bicara dengan orang seperti itu, tidak ada gunanya, juga akan menyakitkan hati saja kalau mencoba untuk mengakalinya.


Maka, dengan hati penuh kemarahan sehingga tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena arah, mulailah ia menanggalkan pakainya, di depan penjahat muda yang gila itu, juga di depan suaminya yang memandang tidak berdaya.


"Bagus......... bagus........... ah, sudah kuduga......... engkau memiliki tubuh yang hebat sekali.........! Ah, engkau sungguh cantik dan manis!" seru Hong Lan yang terbelalak, kedua matanya mengeluarkan sinar aneh dan hidungnya mendengus seperti seekor kuda, napasnya terengah. Cu Ming tidak peduli, nenanggalkan pakaian seolah-olah disitu tidak ada seorang pun yang memandangnya, seperti kalau ia sedang hendak mandi saja.


"Sudah, kulaksanakan perintahmu, karang bebaskan anakku, berikan kepadaku!" seru Cu Ming dengan geram.


"Ha....ha.....ha....! aku masih belum selesai denganmu. Cantik! bahkan baru mulai, akan tetapi aku pun bukan orang yang tidak memegang janji. Nah, ini anakmu sudah kulepaskan, akan tetapi kau naiklah ke atas pembaringan itu. Kau harus melayani aku dengan suka rela, dengan mesra! ah, aku sungguh semakin tergila-gila padamu, Cantik!" ucap Hong Lan yang bagaikan pisau yang menyayat kulit.


Hong Lan benar saja melepas Cia Ki yang tidak mampu bergerak itu ke atas lantai, di mana anak itu menggeletak tak mampu bergerak, hanya memandang dengan mata terbelalak ketakutan.


Kemudian dia menghampiri Cu Ming, wanita ini maklum apa yang akan dilakukan penjahat yang seperti iblis gila Itu. Kalau ia menolak, tetap saja anaknya berada dalam bahaya. Ia harus pura-pura menurut, dan nanti di atas pembaringan, masih ada kesempatan baginya untuk mengadu nyawa.


Sementara itu Coa Siang yang sejak tadi menjadi penonton yang tidak berdaya. Dapat dibayangkan bagaimana perasaan hatinya. Dia melihat puteranya terancam maut tanpa mampu melindungi, kini dia bahkan disuruh melihat isterinya tercinta akan diperkosa orang dan dia sama sekali tidak mampu bergerak.


 Ingin dia memaki, ingin dia berteriak, ingin dia menangis, namun dia tahu bahwa semua itu tidak ada gunanya, balkan kalau penjahat itu marah jangan-jangan Coa Ki akan dibunuhnya lebih dulu.


Hong Lan kini sudah tiba dekat sekali dengan Cu Ming dan napasnya semakin memburu dan seluruh tubuhnya seolah-olah kebakaran, bahkan Cu Ming dapat merasakan betapa hawa panas keluar dari tubuh pemuda yang seperti iblis gila itu.


"Hemmm, aku tidak ingin menotokmu, aku ingin kau hidup dalam pelukanku, ingin kau menyerahkan diri dengan mesra, dengan suka rela. Aku cinta padamu, Cantik!" racau Hong Lan.

__ADS_1


Pada saat pemuda itu masih bicara dan berada dalam keadaan penuh nafsu sehingga seperti sebuah balon akan meledak itu, Cu Ming yang sudah siap si sejak tadi, tiba-tiba saja mengirim pukulan ke arah perut Hong Lan sambil mengerahkan seluruh tenaganya.


Pukulan Itu adalah pukulan beracun yang amat hebat dan sekali terkena pukulan itu biar seorang yang bagaimanapun lihainya, jangan harap akan dapat hidup lagi. Isi perutnya tentu akan hangus dan membusuk oleh hawa beracun yang amat hebat.


Namun, Hong Lan memang seorang yang amat cerdik. Biarpun dia dikuasai nafsu berahi yang memuncak pada saat itu, namun dia tidak pernah lengah dan tetap waspada. Hal ini adalah karena dia pun telah maklum bahwa wanita itu amat lihai. Andaikata dia tidak tahu akan hal ini, mungkin saja dia telah terkena pukulan maut itu.


Dia tahu bahwa wanita itu lihai sekali, memiliki senjata rahasia dan pukulan beracun yang bahkan lebih berbahaya daripada suami wanita itu. Maka, biarpun seluruh tubuhnya dikuasai hawa nafsu, tetap saja dia waspada dan begitu Cu Ming menggerakan tangan memukul, tubuhnya sudah berkelebat ke kiri dan pukulan yang dahsyat itu tidak mengenai sasaran.


Tentu saja Cu Ming kaget bukan nain karena dia mengkhawatirkan putranya. Pada saat itu, tiba-tiba daun jendela diterobos tubuh orang dari luar, dan sosok bayangan berkelebat ke dalam kamar.


"Selamatkan anak itu!"


Terdengar suara yang tenang dan bayangan itu sudah menerjang ke arah Hong Lan dengan dorongan tangan kanan yang datangkan angin keras.


"Wuuuuuttttt.........!"


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2