Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 198


__ADS_3

 Akan tetapi, terjadi keanehan, sedikit pun tubuh yang tinggi kurus itu tidak bergerak walaupun Si Pemuda Tinggi Besar sudah mengerahkan semua tenaganya.


"Hmm, tikus sombong, pergilah kau!" terdengar Gan Lok berseru, kedua tangannya yang kecil bergerak cepat, menepuk punggung pemuda itu yang menjadi lemas seketika dan tiba-tiba saja jagoan dari Tai-goan itu telah mengangkat Si Pemuda dan melemparkannya keluar toko.


"Brukk....!"


Tubuh pemuda tinggi besar itu terbanting keluar toko. Ancaman pemuda itu kini berbalik, bukan Gan Lok yang dilempar keluar, melainkan dia sendiri.


Gegerlah di toko itu, semua pegawai berlari keluar, bukan hanya untuk menolong pemuda tadi, melainkan untuk menjauhi Si Tinggi Kurus yang ternyat amat lihai itu. Sang Pengurus toko sudah lari menyelinap ke dalam rumah belakang toko memberi laporan.


Gan Lok masih berdiri di dekat meja di mana berdiri pula gucinya yang tinggi besar dan berat ketika Sang Gu memasuki tokonya. Sang Gu tadi terkejut mendengar peristiwa di dalam tokonya.


Sebagai seorang ahli silat yang banyak mengenal tokoh-tokoh dunia persilatan, tentu saja dia pernah mendengar nama jagoan Tai-goan ini walaupun belum pernah melihat orangnya.


Dia pun merasa heran mengapa tiada hujan tiada angin, tokoh dunia persilatan itu mengganggu dia, padahal di antara mereka tidak ada hubungan atau urusan apa pun juga. Dengan hati-hati dia pun memasuki tokonya.


Kini kedua orang itu saling berhadapan dan saling pandang sejenak, sementara itu para pegawai toko hanya melihat dari kejauhan.


Tentu saja mereka semua mengharapkan majikan mereka yang terkenal lihai akan memberi hajaran kepada pemungut derma yang kurang ajar itu.


Biarpun tubuh tinggi kurus dari Gan Lok itu tidak mengesankan, kecuali sinar matanya yang menyeramkan dan wajahnya yang bengis, namun Sang Gu tidak berani memandang rendah.


Sebaliknya, melihat munculnya seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun yang berpakaian ringkas, dengan tubuh yang tegap dan wajah yang berwibawa, Gan Lok memandang rendah.


"Apakah kau yang bernama Sang Gu, pemilik toko ini?" tanyanya sambil lalu, sikapnya memandang rendah sekali.


Tadi Sang Gu sudah mendengar akan guci yang berat itu, dan mendengar betapa dalam segebrakan saja orang ini telah melempar keluar seorang pegawainya yang muda dan kuat.


Biarpun dia tidak merasa jerih, akan tetapi dia harus berhati-hati. Dengan sikap hormat dia pun mengangkat kedua tangan ke depan dada.

__ADS_1


"Maaf, karena belum pernah berjumpa, maka kami tidak melakukan penyambutan sebagaimana mestinya. Kami telah lama mendengar nama besar Gan Lok dari Tai-goan dan kunjungan ini merupakan kehormatan bagi kami. Silakan Sobat yang gagah masuk saja ke rumah kami di mana kita dapat bicara dengan baik."


Gan Lok mengerutkan alisnya.


"Aku bukan datang untuk mengobrol atau berkenalan denganmu. Aku datang untuk minta agar guciku ini kau penuhi dengan perak, baru aku akan pergi dengan damai!" seru Gan Lok.


Tentu saja Tang Gu lt merasa penasaran. Sikap orang ini sungguh keterlaluan.


 "Sobat yang baik, dengan alasan apakah kami harus memenuhi guci ini dengan uang perak? Kami ingin menerimamu sebagai seorang tamu baik-baik, akan tetapi engkau menolak. Nah, kalau begitu, kami persilakan engkau keluar dari toko kami karena kami tidak mempunyai urusan apa pun denganmu!"


Sikap Sang Gu berwibawa sekali dan mau tidak mau Gan Lok agak berkurang kecongkakannya. Dia melihat betapa ruangan di toko itu sempit, penuh dengan barang dagangan, maka kalau sampai dia dikeroyok, akan merugikan dirinya. Sambil menyeringai dia pun melangkah keluar.


"Ha ..ha...ha...! Kau ingin bicara di luar? Baik, mari kalau kau ingin tahu mengapa aku datang minta derma seguci uang perak!"


Dengan langkah lebar Si Harimau Ekor Sembilan keluar dari toko. Di luar toko sudah berkumpul banyak penonton yang tertarik melihat ribut-ribut di dalam toko itu.


Ketika melihat Si Pengacau itu keluar, para penonton segera menjauh. Di antara para penonton itu Han Beng dan Yi Hui. Mereka, baru tiba, akan tetapi begitu melihat ada keributan di toko yang menurut keterangan orang-orang adalah milik Sang Gu, keduanya tidak masuk dan hanya menonton di luar.


"Nah, Sobat. Sekarang katakan mengapa engkau datang memaksa kami untuk memberi sumbangan seguci uang perak!" Sang Gu menegur pengacau itu.


Gan Lok tidak segera menjawab, melainkan menoleh ke kanan kiri seolah-olah hendak menyatakan kepada tuan rumah bahwa amat tidak baik kalau percakapan tu didengarkan orang lain.


"Sang Gu, perlukah kujelaskan itu? Sebaiknya kalau engkau memenuhi guciku dengan perak, an aku akan pergi tanpa banyak rewel lagi. Kalau kuberitahu sebabnya, engkau sekeluarga akan celaka. Ingat akan apa yang terjadi di kota raja, yang menimpa keluarga Yi!" seru Gan Lok yang memberi isyarat dengan kedipan mata.


Mendengar Yi Hui, berubahlah wajah Sang Gu. Apa yang dikhawatirkannya terjadi. Ada orang yang hendak memerasnya karena pembasmian keluarga Yi di kota raja yang dituduh pemberontak.


Timbul kemarahan di dalam artinya. Orang ini adalah seorang penjjahat, seorang pemeras tak tahu malu.


"Gan Lok, sungguh tidak kusangka bahwa orang yang sudah memiliki nama besar seperti engkau, tiada lain hanyalah seorang pemeras yang tak tahu malu!" bentaknya.

__ADS_1


Gan Lok tertegun. Tak disangkanya bahwa orang she Tang itu demikian beraninya. Dia sudah memperhitungkan bahwa Sang Gu tentu akan ketakutan kalau dia menyebut tentang peristiwa yang menimpa keluarga Yi.


Sementara itu, Yi Hui terkejut mendengar ucapan orang tinggi kurus yang membawa pecut ekor sembilan di punggungnya itu, yang menyinggung tentang keluarga Yi di kota raja, Ia memegang lengan Han Beng, akan tetapi pemuda ini memberi isyarat agar ia diam saja dan hanya mendengarkan dengan penuh perhatian.


"Sang Gu...! Masih berani kau membuka mulut besar? Apakah kau menghendaki aku membuka rahasia bahwa engkau adalah keluarga dari pemberontak yang ditumpas pemerintah!" seru Gan Lok.


Sang Gu menjadi marah. Dia bertolak pinggang lalu menudingkan telunjuknya ke arah wajah Gan Lok.


"Gan Lok! Tidak perlu dirahasiakan lagi. Memang keluarga Yi di kota raja adalah iparku! Akan tetapi apakah dia pemberontak atau bukan, bukan urusanku dan aku sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan itu! Dia tinggal di kota raja dan aku tinggal di kota ini! Tidak perlu kau memeras dan mengancam, dan kalau kau tidak cepat pergi membawa gucimu itu, terpaksa aku akan menghajarmu sebagai seorang pengacau!" seru Sang Gu dengan geram.


"Ayah, serahkan saja tua bangka ini kepadaku!"


Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan dari dalam rumah muncul lah seorang pemuda yang tampan dan gagah. Pemuda itu tinggi tegap dan wajahnya jantan. Itulah Sang Ciok, putra tunggal dari Sang Gu, seorang pemuda yang tampan dan gagah, dengan pakaian yang serba bersih dan rapi, terbuat dari kain sutera yang mahal.


Sang Ciok sudah mewarisi hampir seluruh ilmu kepandaian ayahnya dan di kota Pei-shen dia terkenal sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan sukat dicari tandingnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


... ...

__ADS_1


... ...


__ADS_2