
Pernah Han Beng mengajukan rasa penasaran dalam hatinya mengapa gurunya hidup sebagai pengemis.
"Guru adalah seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi di jaman ini. Kalau guru kehendakinya, dengan kepandaian itu, guru dapat memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan, atau dapat menjadi usahawan yang berhasil, bahkan kalau guru memerlukan harta benda, apa susahnya? tapi kenapa guru malah menjadi seorang pengemis? Maaf guru bukankah masyarakat umum memandang pengemis itu sebagai orang yang yang rendah, hina dan pemalas?" tanya Han Beng yang penuh dengan rasa penasaran.
"Ha ...ha....ha....!"
Kwe Ong sama sekali tidak marah, bahkan tertawa bergelak mendengar pertanyaan muridnya itu,
" Han Beng, muridku yang baik, apakah kau sungguh-sungguh tidak melihat betapa mulianya pengemis dan betapa besar jasa-jasanya? pengemis seperti kita ini, bukan karena malas!" seru Kwe Ong yang masing dengan tawanya.
Han Beng maklum bahwa gurunya adalah seorang yang memiliki watak aneh, akan tetapi dia percaya penuh akan kesaktian dan kebijaksanaan kakek berpakaian gembel itu.
"Mulia dan berjasa besar? murid sungguh tidak mengerti apa yang guru maksudkan?" tanya Han Beng yang memandang kwe Ong dengan heran.
"Dengarlah baik-baik, muridku." kata Kwe Ong.
Wajah yang biasanya suka tertawa dan cerah itu kini memandang serius, dan suaranya yang biasanya suka berkelakar itu kini terdengar bersungguh-sungguh.
"Aku adalah seorang kelana yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, tidak lebih dari satu dua hari berada di suat tempat. Ini menyebabkan tidak mungkin aku bekerja mencari sesuap nasi. Orang tentu takkan mau mempergunakan tenaga orang yang tinggalnya tidak tetap dan hanya untuk sehari dua hari saja. Bukan karena malas, melainkan terpaksa aku mengemis untuk mengisi perut mempertahankan hidup. Bukankah lebih baik mengemis daripada mencuri atau merampok? Sekarang mengapa kukatakan mulia? Karena pekerjaan ini merupakan latihan yang amat baiknya bagi kita, bagi kau terutama, Han Beng. Dengan mengemis, kau belajar untuk rendah hati! Latihan ini menghilangkan kesombongan diri. Dan mengapa berjasa? Karena, pengemis setidaknya membangkitkan rasa perikemanusiaan dalam hati orang baik, menyentuh perasaan mereka untuk menaruh iba kepada sesama hidup yang sedang menderita kesusahan." jelas Kwe Ong.
Demikianlah, semenjak memperoleh keterangan dari gurunya, Han Beng tidak merasa malu-malu atau ragu-ragu lagi untuk mengemis. Bahkan dia menganggap hal ini sebagai suatu latihan batin yang baik sekali.
Dia kini dapat melihat sikap orang yang menghinanya, mencemoohkannya, tanpa perasaan marah atau sakit hati sedikit pun, bahkan diam-diam mentertawakan mereka, dan dari sikap mereka itu dia dapat mempelajari banyak watak manusia.
Latihan ini amat baik untuk memupuk kesabaran, pandangan yang luas dan perasaan rendah hati yang mendalam.
__ADS_1
Demikianlah, ketika dia diusir oleh majikan toko obat yang perutnya gendut, dia pergi tanpa merasa sakit hati. Hanya hatinya merasa agak gelisah.
Dia tidak membohong ketika mengemis obat. Gurunya jatuh sakit! Gurunya terserang penyakit demam panas dan batuk. Heran juga dia bagaimana seorang sakti seperti gurunya dapat terserang penyakit.
Hal ini mengingatkan dia akan kenyataan bahwa betapapun tinggi kepandaian seseorang, namun badan manusia ini perlu dirawat sebaiknya, menjaga kesehatan harus dilakukan dengan sungguh sungguh, kebersihan harus dijaga.
Kepandaian silat membuat orang pandai melindungi dirinya terhadap serangan dari luar memperbesar tenaga dan kecepatan. Akan tetapi terhadap penyakit yang menyerang entah dari mana, yang tidak nampak seorang pesilat yang betapa pandai pun takkan mungkin dapat mengelak atau menangkis.
Dan tubuh ini takkan bebas dari penyakit, usia tua dan kematian. Biarpun gurunya menerima datangnya penyakit itu dengan tenang dan sabar, namun Han Beng merasa gelisah dan dia merasa iba kepada gurunya.
Sudah sejak pagi sekali tadi dia mengemis obat, namun hasilnya selalu berupa penghinaan, makian dan cemoohan. Ingin rasanya sekali ini dia melanggar pantangan gurunya.
Betapa mudahnya meloncat naik ke atas genteng rumah atau toko obat itu, melalui genteng masuk ke dalam dan mencuri obat apa saja yang dia butuhkan dan takkan ada yang tahu. Andaikata ada yang tahu juga, dia dapat menyelamatkan diri dengan amat mudahnya.
Terjadilah perang dalam batinnya antara yang mendorong dia untuk mencuri saja dan yang menentangnya. Pada saat itu, dia melihat sebuah toko obat lain lagi di depan.
Toko obat di depan itu tidak sebesar toko obat yang baru saja mengusirnya, akan tetapi dia melangkah tanpa ragu ke depan pintu toko itu. Dia melihat bahwa penjaga toko itu seorang gadis berusia delapan belas tahunan, dibantu oleh dua orang pegawai pria yang usianya sudah setengah tua.
Gadis dan dua orang pegawainya itu memandang kepada Han Beng, dan terutama sekali kepada pakaiannya yang tambal-tambalan.Dua orang pegawai mengerutkan alisnya, jelas kelihatan tidak senang hati mereka. Seorang diantara mereka bahkan segera menegur.
"Kau datang ke sini mau apa? Disini menjual obat, bukan menjual makanan. Kalau kau hendak minta-minta!" seru salah satu pegawai toko obat itu dengan rasa penasaran.
"Kulihat tidak ada sabuk merah pinggangmu! Kami tidak dapat memberi sedekah kepadamu!" seru pegawai yang satunya lagi.
"Ma'afkan saya jika saya mengganggu..." ucap Han Beng.
__ADS_1
"Paman!" panggil gadis itu secara tiba-tiba menegur dengan suara yang keras kepada dua orang pegawainya.
"Kalian tidak boleh sikap seperti itu!" lanjut seru gadis itu seraya menatap kedua pegawainya.
Dua orang pegawai itu menundukkan wajahnya kepada nona mereka. Kini gadis itu menatap ke arah Han Beng dan mereka hanya terhalang lemari tempat obat.
Sejenak mereka saling pandang penuh perhatian. Biarpun tidak secara langsung, Han Beng mengamati gadis itu.
Seorang gadis berusia delapan belas tahun, bertubuh ramping dan agak tinggi kalau dibandingkan dengan wanita pada umumnya, wajahnya manis dan anggun, dengan mata yang jernih dan mulut yang ramah.
Gadis itu pun membayangkan keraguan dan keheranan dalam pandang matanya ketika ia mengamati Han Beng penuh selidik. Seorang pemuda yang begini gagah, juga tubuhnya terawat baik dan bersih, biarpun mengenakan pakaian tambal-tambalan, agaknya tentu bukan seorang peminta-minta! la pun memperlihatkan senyumnya yang manis dan ramah sebelum bicara dengan suara halus.
"Harap Saudara memaafkan sikap dua orang pegawai kami. Maklumlah mereka sering kali diganggu oleh para peminta-minta sehingga sikap mereka agak kaku. Apakah yang dapat kami bantu untuk saudara?" tanya gadis itu dengan ramah.
Ini merupakan pengalaman baru bagi Han Beng yang membuat wajahnya agak kemerahan. Dia biasanya diterima dengan pandang mata iba atau cemooh, akan tetapi baru sekali orang menghadapinya sebagai bukan gembel, sebagai seorang pembeli biasa.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...
... ...