Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 90


__ADS_3

"Oh...! rupanya perguruan ular kobra yang menghadang perjalanan pasukan Kerajaan! Mau apa kalian menghadang kami!" bentak Lim Bao yang menebarkan pandangannya ke sekitarnya


"Lim Bao manusia licik! Para murid kami yang menyelidiki melaporkan bahwa engkaulah yang menyebar fitnah, mengatakan bahwa kami yang mencuri harta itu. Tidak tahunya kau sendiri yang diam-diam hendak melarikan harta karun itu. Tinggalkan harta karun itu atau terpaksa kami menggunakan kekerasan!" seru ketua Kui.


"Hei ketua Kui! Apakah kalian hendak memberontak terhadap Kerajaan Mongol!" bentak Panglima Lim Bao.


"Tidak ada yang memberontak! Akan tetapi kau yang mencuri harta karun yang bukan hakmu. Tinggalkan harta karun itu dan pergilah dari wilayah kami!" seru Ketua Kui.


Dan mereka akhirnya bertempur dan sekali ini Lim Bao harus mengakui bahwa dia mendapat lawan yang amat kuat. Dia sendiri bertanding mati-matian melawan Ketua Kui.


Akan tetapi permainan golok besarnya sukar dapat menembus sepasang pedang yang dimainkan oleh Ketua Kui dengan cepat dan kuat itu. Sebaliknya, dia mulai terdesak oleh lawan. Demikian pula, permainan pedang tiga orang sute dari Ketua Kui tidak tertandingi dua belas orang perwira dan dua orang di antara mereka bahkan telah terluka.


Biarpun jumlah perajurit lebih banyak daripada jumlah murid perguruan ular kobra, namun murid-murid itu telah memiliki tingkat ilmu silat yang cukup tinggi sehingga pertempuran di antara kedua pihak itu berlangsung seru.


Selagi Lim Bao merasa khawatir karena pihaknya terdesak dan dia akan membuka rahasia bahwa kedua buah peti itu kosong sehingga tidak ada yang perlu diperebutkan dan dipertentangkan untuk menghentikan pertempuran, tiba-tiba muncul dua orang yang berpakaian serba hitam dan mereka adalah pimpinan rombongan perguruan terngkorak hitam.


Tanpa basa-basi kedua orang ini sudah melompat dekat gerobak. Mereka hendak merampas dua buah peti, akan tetapi enam orang perajurit menghadangnya dengan tombak di tangan.


Laki-laki yang memakai pakaian serba hitam dan berkalung liontin tengkorak hitam itu, mengeluarkan suara tawa mengejek dan mengamuk.


Tentu saja mereka bukan lawan kedua pimpinan rombongan perguruan tengkorak hitam yang amat sakti itu dan sebentar saja mereka berenam roboh.


Akan tetapi selagi kedua pimpinan perguruan tengkorak hitam itu menghampiri peti sambil tertawa, tiba-tiba muncul Cu Lion dan beberapa anak buahnya termasuk Cu Ai.


""Ha....ha.....! dasar iblis Tengkorak hitam tak tahu malu! Jangan seenaknya saja mengambil harta karun!" bentak Cu Liong sambil tertawa.

__ADS_1


Melihat munculnya Cu Liong,laki-laki yang memakai pakaian serba hitam dan berambut putih itu kesal dan cepat dia menyerang dengan dorongan telapak tangannya yang seputih kapur.


Asap putih yang amat kuat menyambar ke arah Cu Liong. Akan tetapi Cu Liong tidak gentar dan menyambut dengan dorongan tangannya pula.


"Desss......"


Kedua orang pendekar ini terpental ke belakang. Ternyata tenaga sakti mereka berimbang dan Cu Liong yang juga sudah tahu betapa lihainya pimpinan rombongan perguruan tengkorak hitam itu, segera mencabut senjatanya yang menyeramkan, yaitu sebatang golok besar yang punggungnya bergigi seperti gergaji.


Laki-laki yang berambut putih dengan pakaian yang serba hitam itu juga telah mencabut pedangnya dan dua orang pendekar itu segera saling serang dengan dahsyatnya.


"Trang....Trang....Trang....Trang...!"


Pertemuan golok dan pedang menimbulkan suara berdentang nyaring diikuti percikan bunga api.


Laki-laki yang berambut putih dengan pakaian yang serba hitam itu juga menyelingi serangan pedangnya dengan dorongan telapak tangan kiri yang seputih kapur.


Mereka kini berusaha mati-matian untuk mengalahkan lawan dan pertandingan berlangsung seru itu.


Mereka yang sudah menjadi hamba nafsu kemurkaan mengejar harta benda, beranggapan bahwa hanya harta benda atau uang yang akan dapat membahagiakan hidupnya, bagaikan orang buta.


Dan mereka sama sekali tidak merasa bahwa mereka sudah dicengkeram daya rendah harta benda dan mau melakukan apa saja, halal maupun haram, untuk mendapatkannya. Padahal, harta benda yang diperebutkan secara haram itu karena bukan hak miliknya sehingga dapat dikatakan merampas atau merampok, hanya akan mendatangkan kesengsaraan belaka kepada mereka.


Yang kalah dan mati dalam perebutan itu jelas tidak akan dapat menikmati harta benda, demikian pula kalau dia sampai terluka parah dan menjadi cacat. Yang menang dan mendapatkan harta benda itu pun akan selalu tersiksa karena selalu terancam orang lain yang hendak merampas benda itu atau terancam oleh mereka yang hendak membalas dendam atas warganya yang telah dikalahkan, dilukai atau dibunuh dalam perebutan harta benda itu.


Mereka yang menjadi hamba nafsu seperti ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, baik melalui penipuan, pencurian, perampokan, korupsi dan sebagainya lagi.

__ADS_1


Namun beda dengan orang yang menjadi majikan dari nafsunya, mengatur dan mengendalikannya, tidak akan membuta dalam mencari uang, karena nafsunya terkendali sehingga selalu mencarinya dengan cara yang benar, cara yang halal, dapat membedakan antara mencari dan mencuri atau menipu.


Mencari uang dengan jalan yang benar merupakan kewajiban bagi manusia karena memang hidup ini tidak mungkin tanpa menggunakan uang. Akan tetapi bukan berarti dia harus mencari uang dengan jalan mencuri atau merampas hak orang lain atau menipu.


Akhirnya para pimpinan perguruan tengkorak hitam bertanding mati-matian melawan Cu Liong dan rombongnya. Pertempuran di tempat itu menjadi semakin seru.


Pihak perguruan ular kobra mendesak pihak pasukan yang dipimpin Lim Bao sedangkan para pimpinan rombongan tengkorak hitam terdesak oleh Cu Liong dan rombongannya.


Adapun Cu Ai yang tadinya hanya menonton saja, ketika teringat kepada Hua Li dan keinginannya untuk menyerahkan harta karun itu kepada pendekar kecapi itu, lalu melompat dengan gerakan ringan mendekati dua buah peti yang berada di atas kereta.


Akan tetapi sebelum ia sempat menyentuh peti harta karun itu, dua belas orang perajurit yang bertugas menjaga harta karun itu, segera menyambutnya dengan pengeroyokan.


Dua belas orang perajurit ini merupakan perajurit pilihan yang memiliki kepandaian kepandaian silat lumayan maka mereka ditugaskan menjaga dan mempertahankan dua buah peti itu.


Cu Ai mengamuk dan di tangannya kini sepasang pedang pendek dengan gerakan yang amat cepat sehingga yang tampak hanya gulungan sinar sepasang pedangnya, membuat dua belasv orang perajurit itu terkejut dan saling bantu untuk menyelamatkan diri dari sambaran sinar pedang Cu Ai.


Pada saat Cu Ai hendak merobohkan tiga orang perajurit yang mengeroyoknya, tiba-tiba seorang pemuda tinggi besar muncul dan menangkis pedang Cu Ai dengan menyambar-nyambar.


...   ~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2