Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 34


__ADS_3

Setelah pembantu itu dapat menenangkan hatinya dan menghentikan tangisnya, lalu ia bercerita tentang apa yang telah dia ketahui.


"Setelah kepergian nona, banyak hal telah menimpa keluarga tuan Siok.Tuan Siok Cheng meninggal dibunuh oleh Panglima Lim Bao, sedangkan tuan Siok Kung juga dibunuh oleh Lim Mao dan juga Kun Cie. Sedangkan kedua putri tuan Siok Cheng meninggal dengan bunuh diri dan dibunuh juga." ucap pembantu wanita setengah baya itu dengan air mata yang bercucuran.


"Keparat......!"


Hua Li memaki dan wajahnya yang tadi pucat itu kini berubah merah.


"Jahanam busuk!"


Kembali gadis itu memaki dan kemarahannya memuncak. Dia menggigit bibir sendiri dan tanpa disadarinya, kedua pipinya juga sudah basah air mata yang bercucuran keluar dari kedua matanya.


"Bibi, aku terlambat menyelamatkan mereka!" ucap Hua Li dengan suara gemetar.


"Mungkin ini sudah jadi suratan takdir keluarga tuan Siok. Dan kini tinggal istri tuan Siok yang sedang sakit-sakitan nona." ucap pembantu itu lirih.


Setelah Hua Li dapat mengendalikan diri dan menenangkan perasaannya dia lalu minta keterangan kepada pembantu itu di mana rumah Lim Mao dan juga Kun Cie.


Gadis yang membawa kecapi itu juga minta diantar di mana dikuburnya jenazah keluarga Siok.


Dengan senang hati pembantu itu mengantarkan Hua Li ke pemakaman keluarga Siok. Setelah dari pemakaman, mereka kembali ke rumah dan Hua Li menjenguk istri mendiang tuan Siok yang terkulai diatas tempat tidur, karena sakit yang dia derita.


"Nyonya, nyonya saya turut prihatin dengan apa yang menimpa keluarga ini. Jangan khawatir, saya akan membalaskan dendam keluarga Siok. Saya berjanji nyonya!' bisik Hua Li yang tak terasa air mata nyonya Siok menetes perlahan ke pelipis matanya.


...****...


Malam itu bulan tiga perempat bersinar cukup terang. Langit tidak ada awan sehingga suasananya indah dan cerah. Namun hawa udara amatlah dinginnya sehingga sebelum tengah malam sudah jarang terdapat orang berada di luar rumah.


Penduduk kota Cin-yang lebih suka berada dalam kamar di rumah masing-masing.


Hua Li terbangun sore hari dan pembantu wanita itu dengan setia melayani gadis itu dengan menyediakan air untuk mandi dan menyiapkan makan malam.


Hua Li segera mandi, bertukar pakaian dan makan malam tanpa banyak bicara. Dia menjadi pendiam dan seperti orang memikirkan sesuatu.


Setelah dia makan malam, Hua Li minta tolong kepada pembantu itu untuk menyelidiki, di mana adanya Lim Mao dan Kun Cie malam itu.

__ADS_1


Setelah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Hua Li, pembantu wanita itu keluar dari rumah itu beberapa saat.


Tak berapa lama, pembantu itu segera kembali dan memberitahu kepada Hua Li, bahwa pada malam itu Lim Mao berada di rumah peristirahatannya dilayani para selirnya, sedangkan Kun Cie berada di rumah pelesir Bunga Merah di ujung kota Cin-yang.


Setelah mendapat keterangan jelas tentang letak dua tempat ini, dan mengetahui pula di mana adanya kuburan keluarga Siok, malam itu, menjelang tengah malam Hua Li meninggalkan rumah itu dan tubuhnya berkelebat menghilang di antara bayang-bayang rumah dan pepohonan.


Di dalam rumah peristirahatannya yang mungil dan mewah, Lim Mao sedang berpesta pora makan minum dilayani oleh tiga orang selirnya yang terbaru. Dengan memangku dua orang selir di atas paha kanan kirinya, selir ketiga menyuapinya dari depan.


Gembira bukan main Lim Mao pada malam yang dingin itu. Dia agaknya sudah lupa lagi bahwa di rumah mungil itulah dia membunuh Siok Cheng dua bulan yang lalu setelah gadis yang nyaris diperkosanya itu menyerangnya dengan tusuk konde sehingga mata kirinya menjadi buta.


Untuk menutupi mata yang kosong itu, yang membuat wajahnya nampak buruk mengerikan, Lim Mao kini menggunakan sehelai kain sutera biru untuk diikatkan di kepala menutupi mata kiri itu sehingga wajahnya kini tampak tidak terlalu buruk.


Lim Mao dan tiga orang selirnya itu tertawa-tawa bergurau sambil makan minum, bergembira ria tenggelam dalam nafsu kesenangan. Dua orang wanita pelayan yang tadi menghidangkan makanan dan minuman tidak berani mengganggu dan mereka berdua berdiam di dapur sambil menanti perintah.


Merekalah yang nanti bertugas membersihkan meja dan ruangan itu, mencuci piring mangkok.


Bayangan Hua Li berkelebat di atas genteng rumah itu. Setelah mempelajari keadaan di bawah, tubuhnya melayang ke belakang rumah. Dengan cepat sekali tanpa mengeluarkan suara, dia menyelinap masuk ke dapur melalui pintu belakang.


Dua orang wanita pelayan yang berada di dapur, terkejut setengah mati, akan tetapi sebelum mereka sempat menjerit, Hua Li sudah bergerak dengan cepat dan mereka berdua roboh terguling ke atas lantai dapur dalam keadaan pingsan dan tubuh mereka lemas tertotok.


Setelah merobohkan dua orang wanita pelayan itu sehingga mereka tidak sempat menjerit atau membuat gaduh, kemudian Hua Li mengendap menuju ke ruangan tengah.


Melihat bahwa di situ tidak terdapat perajurit pengawal yang menjaga, Hua Li dengan tenang melangkah memasuki ruangan itu.


Tiga orang selir itu yang lebih dulu melihat Hua Li yang melangkah dengan santai.


"Eh, siapa dia?" tanya para selir itu yang penasaran.


Lim Mao mengangkat muka dan dia pun kini dapat melihat Hua Li. Dan wajah laki-laki itu mendadak pucat pasi.


"Ka..kau! si pendekar kecapi!" seru Lim Mao dengan gemetaran.


 "Jadi kau masih ingat padaku!" seru Hua Li dengan senyum sinisnya.


Lim Mao membisikkan sesuatu pada salah satu selirnya dan selir itu kemudian meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Sementara itu Hua Li yang merasa yakin bahwa inilah orang yang dicarinya, maka tanpa banyak cakap lagi tubuhnya melompat ke depan, ke arah Lim Mao.


Pemuda bangsawan ini menyambutnya dengan bacokan goloknya, akan tetapi dia terkejut dan heran karena tiba-tiba gadis yang menjadi lawannya itu lenyap dari hadapannya. Dan sebelum dia mengetahui ke mana perginya gadis itu, tiba-tiba pergelangan tangan kanannya tertotok dan lengan itu lumpuh sehingga goloknya terlepas dan jatuh berdentangan di atas lantai.


"Plakk...!"


"Klontang...!"


Tiba-tiba Lim Mao merasa tubuhnya lemas dan kehilangan semua tenaganya, kaki tangannya tidak dapat digerakkan lagi.


Keringat mengucur di tubuh Lim Mao, dan dua orang selir yang melihat ini lalu menjeri-jerit sekuatnya.


"Tolong.....tolong.....ada penjahat...!"


Dengan cepat tubuh Hua Li berkelebat dan dua orang wanita itu roboh tertotok dan pingsan.


Lim Mao mengendap-endap berusaha keluar dari ruangan itu, tapi na'asnya Hua Li melihatnya.


Kemudian Hua Li mengambil golok milik Lim Mao yang jatuh tadi dan dengan cepat melemparkannya ke arah Lim Mao.


"Jlebb....!"


"Aaarrgh...!'.


Seketika itu juga dada Lim Mao bersimbah darah dan tubuhnya jatuh lunglai dan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.


  


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2