
Suasana menjadi hening sejenak setelah Putri Raja Yu itu berhenti bicara.
"Akan tetapi karena harta karun itu sampai sekarang belum ditemukan, dan kita bersama tidak tahu apakah harta itu benar-benar ada, maka biarlah kita berlumba untuk menemukannya. Setelah ditemukan, baru kita bicarakan siapa yang berhak atas harta itu!" lanjut kata Yauw Lie.
Bagaimanapun juga, mereka yang berada di situ merasa segan untuk berterang menentang pangeran yang menjadi wakil Kerajaan karena menentang seorang wakil Kaisar dapat berarti pemberontakan. Maka, satu demi satu rombongan itu pergi.
Liu Hong kini saling pandang dengan Hua Li. Mereka berdiri berhadapan dan hati keduanya diliputi perasaan terharu.
"Kakak Hong, benarkah keterangan kakak Ceng bahwa kau adalah kakak misanku?" tanya Hua Li secara berbisik.
"Tentu saja benar, adik Hua!Mendiang ibumu adalah adik kandung Ayahku." jawab Liu Hong yang dengan cepat dapat menguasai keharuan hatinya, tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ah, senang sekali aku mempunyai seorang kakak sepertimu, kakak Hong!" seru Hua Li sambil tersenyum.
"Aku juga bangga mempunyai seorang adik sepertimu, Li'er!" balas seru Liu Hong.
Keduanya saling berangkulan seperti kakak dan adik dengan penuh haru.
Tiba-tiba terdengar suara lembut.
"Kakak Hong, aku hendak melanjutkan perjalanan. Engkau mau ikut denganku ataukah dengan mereka?"
Liu Hong melepaskan rangkulannya dan memutar tubuhnya. Tentu saja ia mengenal suara Yauw Lie kekasihnya.
"Tentu saja aku ikut denganmu, adik Yauw!" kata Liu Hong yang kemudian berpaling ke arah Hua Li dan Liu Ceng.
"Li'er dan Kakak Ceng aku harus ikut dengan dia, ke mana pun dia pergi. Aku...... tak dapat hidup tanpa dia!" seru Liu Hong yang kemudian melompat dan bersama Yauw Lie, meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Beng Ong, si mayat betina dan Kong Sek.
__ADS_1
Hua Li dan Ceng memandang sampai bayangan Liu Hong menghilang di antara pohon-pohon, lalu mereka saling pandang. Tanpa bicara pun mereka berdua dapat merasakan dan tahu bahwa adik mereka yang ceroboh dan galak itu agaknya telah jinak terhadap Yauw Lie atau putri raja Mongol itu.
Jelas bahwa keduanya saling mencinta. Mereka berdua merasa khawatir dan diam-diam mendoakan semoga Liu Hong dapat hidup berbahagia dengan Pangeran Mongol itu.
Hua Lie dan Liu Ceng mendengar langkah orang dan ketika mereka memandang, ternyata yang menghampiri mereka adalah Sin Lan, Sin Lin dan dua orang gadis murid perguruan bunga persik, yaitu Ling Ling dan Ching Mei yang sudah mereka kenal baik ketika mereka semua berada di perguruan ular kobra.
"Aih, kita semua dibohongi jahanam Lim Bao itu!" seru Sin Lin.
"Untunglah adik Hua muncul dan membuka rahasia itu dengan memukul hancur peti-peti itu. Kalau tidak, wah kita semua akan memperebutkan peti-peti yang berisi batu-batu tak berharga! ha...ha..ha..!" kata Sin Lan seraya tertawa lebar.
"Kakak Lin, siasat Lim Bao itu membuat kita merasa ragu apakah harta karun itu ada ataukah hanya kabar angin saja. Lim Bao menggunakan siasat itu agaknya karena sudah putus asa dalam mencari harta itu," kata Ling Ling, murid perguruan bunga persik yang lumayan cantik itu.
"Pendapat saudari Ling itu agaknya memang benar sekali bahwa mendiang Lim Bao sudah putus asa maka menggunakan siasat itu untuk memancing keluar semua pencari harta agar diketahui siapa kiranya yang telah mendapatkan harta itu," kata Hua Li seraya menatap orang yang ada dihadapannya satu-persatu.
"Akan tetapi, aku merasa yakin bahwa harta karun itu memang ada, hanya di mana disembunyikannya, itulah yang harus kita cari," kata Liu Ceng dengan hati yang mantap.
"Kakak Ceng benar," kata Sin Lan yang bersependapat dengan Liu Ceng.
"Harta karun itu pasti ada dan kita harus mencarinya lagi. Sebaiknya kita berpencar mencarinya." lanjut usul Sin Lan.
"Baiklah, kita berpencar dan mencari dengan teliti. Sebaiknya setelah ada yang menemukan, langsung dibawa ke perguruan ular kobra karena semua yang mendukung niat kakak Ceng pasti akan singgah dulu di sana untuk mencari keterangan sebelum mereka meninggalkan pegunungan Tengkorak. Di sana kita semua akan membicarakan bersama kepada siapa harta karun itu harus diserahkan," kata Hua Li yang memberi saran.
Semua orang menyatakan setuju dan mereka pun berpencar meninggalkan tempat itu. Hua Li pergi bersama Liu Ceng, sedangkan Sin Lan dan Sin Lin pergi bersama dua orang gadis murid perguruan bunga persik.
****
Malam itu bulan sedang purnama yang memancarkan cahayanya yang lembut ke permukaan pegunungan Tengkorak, membentuk bayang-bayang dan perpaduan antara gelap dan terang, mendatangkan pemandangan yang indah tak terlukiskan.
Hawa sejuk menyusup di antara pohon-pohon di puncak-puncak banyak bukit yang terdapat di pegunungan Tengkorak yang luas.
__ADS_1
Suara gemersik daun-daun pohon yang ditiup angin semilir, suara gemericik air yang turun dari sumber air membentuk anak sungai berair jernih dan dingin, suara binatang dan serangga malam yang menciptakan musik ajaib, semua itu dapat menyihir manusia yang kebetulan berada di tempat itu.
Hua Li dan Liu Ceng duduk di tepi sebuah tebing jurang yang amat dalam. Mereka memilih tempat ini untuk mengaso dan melewatkan malam karena tempat ini amat indah.
Dari tepi jurang itu mereka dapat memandang ke depan bawah tanpa terhalang pohon-pohon besar. Bulan purnama menciptakan pemandangan alam di depan sana, membuat kedua orang muda ini terpesona dan sejak tadi hanya duduk setengah samadhi karena terpesona keindahan alam.
Hua Li termenung ketika merasa dirinya tenggelam ke dalam keindahan malam syahdu itu. Dia teringat akan apa yang pernah dikatakan Liu Ceng tentang kemurahan Tuhan Maha Pencipta bagi manusia.
Semua isi alam ini diperuntukkan manusia, bahkan membantu kehidupan manusia sehingga sudah menjadi kewajiban kita untuk memeliharanya, untuk melestarikannya. Air, udara, hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain merupakan kebutuhan hidup kita, akan tetapi betapa kita, sadar mau pun tidak, mengotori dan merusaknya.
Bahkan semua keindahan itu tidak terasa lagi karena hati akal pikiran kita dipenuhi harta benda yang kita puja sebagai sumber kesenangan.
Pengejaran harta benda yang di puja-puja itu menimbulkan permusuhan dan segala bentuk kejahatan, membuat dunia menjadi panas dan manusia menjadi tipis prikemanusiaannya.
"Adik Hua, lihat....!" seru Liu Ceng yang tiba-tiba sehingga membuyarkan renungan gadis si pendekar kecapi itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1