
Hok Cu merasa lega karena melihat wajah Cu Ming yang tenang-tenang saja pada saat mendengar akan kejahatan yang dilakukan ibu kandungnya itu.
"Sebetulnya, setelah adik Cu mengampuni dan tidak membunuhnya, dan ia menjadi tawanan pemerintah, sudah tidak ada urusan lagi kami dengan Mo Li. Tapi di luar dugaanku, ternyata masih ada satu hal lagi yang amat hebat, bahkan yang menyangkut keselamatan hidup Hok Cu." jelas Han Beng.
Coa Siang dan Cu Ming merasa terkejut sekali setelah mendengar apa yang dij3lawkan oleh Han Beng.
"Hal apakah itu, adik Beng?" tanya Coa Siang yang penasaran dan Cu Ming menganggukkan kepalanya.
Han Beng menarik napas panjang dan menghembuskannya secara pelan-pelan. Kemudian dia melanjutkan ceritanya itu.
"Dalam penyerbuan itu, kami dibantu oleh munculnya biksu Hek Bin dan guru Kwe Ong. Kemudian, setelah Aliran Bumi dan Langit dapat dibasmi, kedua orang tua itu menjodohkan kami. Nah, setelah mendengar bahwa ia dijodohkan denganku, maka muncullah hal yang amat memusingkan kami ini, yaitu pengakuan Adik Cu bahwa ia tidak mungkin dapat menikah dengan aku atau dengan siapa pun juga." cerita Han Beng.
"Eh, kenapa?" tanya Cu Ming yang penasaran.
Kemudian Hok Cu dengan cepat menggulung lengan baju yang kiri dan memperlihatkan bintik merah di siku lengan kirinya kepada Cu Ming.
"Karena inilah kakak ipar." kata Hok Cu dengan suaranya yang mengandung getaran yang sedih.
"I...itu bintik merah tanda keperawanan!" seru Cu Ming yang segera mengenal tanda itu.
"Karena itulah, kakak ipar." kata Han Beng.
"Kenapa kami datang kesini. Pertama untuk berkunjung dan memperkenalkan calon isteriku, dan kedua untuk mohon pertolongan Kakak ipar. Sebagai puteri Mo Li, kami yakin kakak ipar akan mengetahui pula obat untuk menghilangkan bintik merah itu." lanjut jelas Han Beng.
"Bintik merah itu tidak mungkin dapat dihilangkan selamanya!" kata Cu Ming sambil mengerutkan alisnya, memandang dan meraba bintik merah di lengan itu.
"Apa maksud kakak ipar?" tanya Hok Cu terbelalak, terkejut dan heran.
__ADS_1
"Selama kau masih perawan, bintik merah itu tidak akan dapat lenyap atau dihilangkan dengan apa pun. Akan tetapi....." jawab Cu Ming yang tersenyum lebar dan kedua pipinya yang putih halus itu berubah kemerahan.
"Tanda itu akan hilang dengan sendirinya pada malam pertama pernikahan kalian, hik....hik.....!" lanjut kata Ci Ming yang tertawa kecil.
Tapi tidak bagi Hok Cu, gadis itu tidak tersenyum bahkan nampak berduka.
"Hal itu aku sudah tahu Kakak ipar, dan aku tahu pula bahwa sebulan kemudian setelah menikah aku akan mati dan tidak ada obat yang akan dapat menyelamatkan aku! Karena itu aku tidak mau menikah dengan kakak Beng. Untuk apa menikah dengan dia kalau sebulan kemudian aku harus meninggalkan dia selamanya dan membuat dia berduka!" kata Hok Cu yang menatap Cu Ming.
"Ahhh? Aku tidak pernah mendengar akan hal itu! Setahuku, tanda keperawanan itu tidak dapat dilenyapkan, akan tetapi akan lenyap dengan sendirinya pada malam pengantin yang pertama." kata Cu Ming yang menurut apa yang dia tahu.
"Guru sendiri yang mengatakan demikian, dan ia adalah seorang ahli racun. Mungkin hal itu ia rahasiakan darimu, kakak ipar?" kata Hok Cu yang mencoba mengira-ira.
"Hem, aku tidak yakin. Dahulu memang ia ingin memberi tanda itu dilenganku, akan tetapi aku menolaknya. Kalau memang benar akibatnya bukan hanya lenyapnya tanda di malam pengantin, akan tetapi juga membunuh sebulan kemudian, untuk apa dahulu ia ingin memberi tanda itu kepadaku, anaknya sendiri? Tak mungkin ia ingin melihat aku mati setelah sebulan menikah." kata Cu Ming yang penasaran.
"Tentu ia memiliki obat pemusnahnya, dan akan memberikan obat itu kepadamu, kakak ipar!" seru Hok Cu dan Cu Ming mengerutkan alisnya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kakak ipar," panggil Han Beng.
"Kalau kakak ipar tidak mempunyai obat pemusnahnya, kami ingin mohon sebuah pertolongan lagi kepada kakak ipar, dan saya mengharap kalau kakak ipar tidak menolaknya." kata Han Beng.
Melihat sikap yang serius dari pemuda itu, Cu Ming menatap wajahnya dengan penuh perhatian.
"Tentu saja, Adikku. Tentu saja aku akan dengan suka hati menolong kalian kalau aku mampu melakukannya!" seru Cu Ming.
"Begini kakak ipar! Setelah kami dijodohkan oleh dua orang guru kami kemudian aku mendengar pengakuan Hok Cu tentang bintik merah itu, kami segera mencari Mo Li di tempat tahanan. Akan tetapi, malam hari itu juga ia ternyata telah berhasil lolos dari tahanan dan melarikan diri. Kami sudah berusaha melakukan pengejaran dan pencarian jejaknya, namun hasilnya sia-sia belaka. Oleh karena itulah, kami mohon petunjuk kakak ipar. Kemana kiranya kami harus mencari Mo Li, karena mungkin saja kakak ipar mengetahui atau setidaknya dapat menduga kemana ia pergi bersembunyi.
Setelah berkata demikian, Han Beng menatap wajah Cu Ming dengan penuh perhatian. Juga Hok Cu yang memandang kepada wanita itu penuh harapan. Cu Ming menoleh dan bertukar pandang dengan suaminya. Hanya sebentar, lalu wanita itu memandang ke arah Hok Cu.
__ADS_1
"Adikku, andaikata aku dapat menunjukkan tempat di mana adanya Mo Li dan kau pergi menemuinya, lalu apa yang akan kaulakukan?" tanya Coa Siang yang penasaran.
"Kami akan minta agar ia suka memberikan obat pemusnah untuk melenyapkan bintik merah yang mengancam nyawa calon isteriku!" jawab Han Beng dengan penuh semangat.
"Andaikata ia tidak mau memberikan, lalu apa yang akan kalian lakukan?" tanya Cu Ming yaang penasaran.
"Kami akan..... akan....." Han Beng menghentikan kata-katanya, lalu saling pandang dengan Hok Cu. Gadis itu menggeleng kepalanya dengan senyum sedih, dan ia yang melanjutkan ucapan Han Beng tadi.
"Kami hanya akan mohon pertolongan bekas guruku itu. Ia telah membunuh Ayah Ibuku, bahkan hampir membunuhku, dan sebaliknya ketika aku mengalahkannya, aku tidak membunuhnya. Mungkin saja ia akan memberikan obat pemusnah itu. Akan tetapi andaikata ia berkeras tidak mau, kami pun tidak akan dapat berbuat apa-apa. Semoga Tuhan mengampuni semua dosanya!" seru Hok Cu yang merangkapkan kedua tangan di dada, teringat akan nasihat yang seringkali diberikan biksub Hek-bin kepadanya.
"Benar kata Hiok Cu," sambung Han Beng.
"Kalau memang Tuhan menghendaki demikian, kami tidak akan menikah, akan hidup bersama seperti kakak adik, tak terpisahkan lagi sampai mati. Kami berdua tidak akan menikah dengan orang lain. Itu merupakan sumpah batin kami berdua!" seru Han Beng.
Suami isteri itu memandang dengan hati terharu sekali. Sepasang mata Cu Ming pada saat ini menjadi basah karena air mata.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
...Bersambung...
__ADS_1
... ...