Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 79


__ADS_3

Pada keesokan harinya para murid perguruan ular kobra melaporkan kepada ketua mereka bahwa di luar perkampungan mulai berdatangan orang-orang dari dunia persilatan.


Para murid perguruan ular kobra memberi laporan kepada ketua mereka bahwa yang telah tampak berkumpul di sekeliling perkampungan mereka adalah rombongan anggota perkumpulan pengemis tongkat merah yang berjumlah tiga puluh orang yang dipimpin sendiri oleh ketua Kui dan bersama mereka tampak pula beberapa orang wanita murid walet putih.


Juga muncul Beng Ong dan Mayat Betina. Sementara Lim Bao yang sengaja menyebar berita itu tidak tampak karena dia hanya ingin melihat perkembangannya setelah dia menyebar berita itu.


Liu Ceng dan Thian Yu bertemu dengan rombongan perkumpulan pengemis tongkat merah dan disambut Ketua Kui dan ketika Liu Ceng memperkenalkan Thian Yu, Ketua Kui menyambut dengan hormat dan gembira.


Apalagi ketika mendengar bahwa perguruan walet putih dan perkumpulan pengemis tongkat merah sehaluan, yaitu membantu Liu Ceng menemukan harta karun Kerajaan Han untuk diserahkan kepada para patriot pejuang, dan mereka kini menjadi lebih akrab.


Kedatangan mereka itu menarik perhatian perguruan-perguruan yang lainnya, orang pertama dari lima saudara seperguruan itu, segera menghampiri Liu Ceng dan memberi hormat.


"Pendekar Liu Ceng juga berada di sini?" tanya laki-laki yang berbadan bungkuk menatap Liu Ceng.


Liu Ceng tersenyum dan membalas penghormatan laki-laki bungkuk itu.


"Saudaraku, sayalah orang pertama yang berhak mengurus tentang harta karun itu karena mendiang ayah saya telah mewariskannya kepada saya. Apakah saudaraku juga hendak ikut memperebutkan harta karun itu?" kata Liu Ceng seraya bertanya.


Wajah laki-laki bungkuk itu berubah merah. Kalau bukan Liu Ceng yang bertanya demikian, dia tentu sudah marah.


"Ah, pendekar Ceng! seperti tidak mengenal kami saja! Kami tidak murka akan harta benda. Kami diutus oleh kakak seperguruan kami untuk melihat keadaan setelah mendengar tentang harta karun itu. Bukan untuk ikut berebut. Bahkan kami sudah mendengar bahwa harta karun itu merupakan peninggalan mendiang Pendekar Liu Bok kepadamu.Kakak seperguruano berpesan kepada kami untuk bertanya kepadamu, apakah pendekar Ceng menginginkan harta karun itu untuk kepentingan pendekar sendiri?" kata laki-laki bungkuk itu yang berbalik bertanya.


Liu Ceng tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


"Untuk apa aku harta karun sebanyak itu? Biarpun mendiang Ayah mewariskan peta harta karun itu kepada saya, namun kalau saya berhasil menemukannya, akan saya serahkan kepada para patriot pejuang untuk mengusir penjajah!" kata Liu Ceng.


"Bagus sekali, sungguh kami merasa kagum. Tapi kenapa Nona datang bersama rombongan perkumpulan pengemis tongkat merah dan kalau tidak salah, bukankah para wanita itu murid-murid perguruan Walet Putih. Bagaimana kalian bisa datang bersama?" tanya laki-laki bungkuk itu.

__ADS_1


"Saudaraku, ketahuilah perkumpulan pengemis tongkat merah dan perguruan walet putih juga mendukung saya untuk mendapatkan harta karun dan diserahkan kepada para patriot pejuang. Karena sepaham dan sehaluan, maka kami datang bersama." jawab Liu Ceng.


"Bagus! Sungguh kami berbahagia mendengarnya. Kalau begitu, engkau boleh memasukkan kami ke dalam barisan para pendukung Saudara Ceng, dan kami siap siaga di sini untuk sewaktu-waktu membantumu jika diperlukan. Tetapi sekarang anda datang di sini, apakah berita bahwa perguruan ular kobra yang mengambil harta karun itu benar, Saudara Ceng?" tanya laki-laki bungkuk itu yang penasaran.


"Saya kira berita itu bohong. Tentu saudara sendiri tidak percaya kebenaran berita itu. Kita mengenal nama besar perguruan ular kobra, bahkan saya mengenal nama besar ketua Thio Kong. Tidak mungkin mereka yang mengambil harta itu." jawab Liu Ceng.


"Baik sekali kalau begitu, saudara Ceng. Saya sendiri juga sulit untuk percaya bahwa perguruan ular kobra maruk akan harta benda." ucap laki-laki bungkuk itu yang tak lain si tua bungkuk dari perguruan Hoa San.


Perkumpulan pengemis tongkat merah dan perguruan walet putih merasa senang mendengar bahwa perguruan Hoa San juga berdiri di pihak mereka, dengan demikian maka kedudukan mereka yang ingin menyumbangkan harta karun itu untuk keperluan perjuangan membebaskan tanah air dan bangsa dari belenggu penjajahan bangsa Mongol, menjadi semakin kuat.


Malam itu langit gelap oleh mendung. Sesosok bayangan putih berkelebat cepat sekali, sukar diikuti pandang mata dan bayangan yang bukan lain adalah Liu Ceng itu, dapat melompati pagar tembok yang mengelilingi perkampungan perguruan Ular kobra dengan mudah.


Tidak ada murid perguruan ular kobra yang melakukan penjagaan ketat melihat berkelebatnya bayangan putih itu.


Setelah melewati kebun belakang tanpa terlihat penjaga, dan tiba di rumah utama yang cukup besar dan berada di tengah perkampungan, Liu Ceng menyelinap masuk setelah melompati dinding belakang.


Ketika ia melompat ke dalam sebuah ruangan yang luas di tengah rumah itu, dalam cuaca remang-remang karena ruangan yang luas itu hanya diterangi dua batang lilin besar yang bernyala, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.


"Siapa kau! dan dari mana berani masuk ke sini!"


Bentakan itu ditutup dengan serangan pukulan yang amat kuat dan cepat, dilakukan oleh Sin Lin yang Iebih dulu melihat Liu Ceng karena ia kebetulan hendak keluar dari dalam kamarnya mencari angin di tempat terbuka.


Serangan Sin Lin itu dahsyat sekali. Pemuda ini memang seorang ahli silat tangan kosong yang pandai dan telah memiliki tenaga sakti yang cukup kuat. Mendapatkan serangan ini, Liu Ceng berkelebat mengelak.


Sin Lin terkejut melihat pemuda yang berpakaian putih yang diserangnya itu dapat mengelak sedemikian ringan dan cepatnya.


"Tangkap penjahat!"

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar teriakan dan Ling Ling sudah muncul, menyerang Liu Ceng dengan pedangnya.


Kembali Liu Ceng terkejut karena serangan pemuda tinggi besar berbaju biru itu pun dahsyat sekali. Ia terpaksa mengerahkan jurus meringankan tubuhnya dan berkelebat cepat untuk mengelak.


Akan tetapi kini dua orang penyerangnya itu mengejar dan menyerangnya secara bertubi-tubi. Sin Lin dan Ling Ling terkejut dan penasaran melihat betapa bayangan pemuda berpakaian putih itu berkelebatan amat cepatnya sehingga sampai beberapa jurus, serangan mereka selalu hanya mengenai tempat kosong.


"Tahan, Saudaraku Kalian berdua salah sangka, aku bukan penjahat!" seru Liu Ceng sambil berkelebat menjauh.


Ketika Sin Lin hendak melanjutkan serangan, berseru padanya.


"Kakak Lin, biar kita mendengar dulu keterangannya!"


Kemudian Sin Lin menahan diri lalu memandang kepada Liu Ceng dengan sinar mata penuh curiga.


"Sekarang katakan siapa kau dan mau apa engkau malam-malam masuk ke sini seperti pencuri!" seru Sin Lin dengan mengernyitkan kedua alisnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


...   ...


__ADS_2