Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 209


__ADS_3

Hek Bin menganggukkan kepalanya dan memandang Han Beng dengan rasa penasaran.


"Bagus! Kiranya kau telah menerima gemblengan orang pandai. Bolehkah saya tahu siapakah gurumu?" tanya Hek Bin yang penasaran.


"Murid pernah dibimbing guru Hua Li dan kemudian oleh guru Kwe Ong." jawab Han Beng yang apa adanya.


"Pantas kalau begitu. Dan kau telah mewarisi ilmu-ilmu mereka dengan baik. Akan tetapi kau masih terlalu hijau, tidak mengukur kekuatan lawan. Ketahuilah bahwa Beng Cu itu selain lihai sekali, juga memiliki banyak anak buah. Untung kau tadi belum dikeroyok oleh seluruh anak Buahnya." kata Hek Bin.


"Hemmm, kenapa kau dapat berada di sarang mereka itu?" tanya Hek Bin yang penasaran.


Kemudian Han Beng menceritakan tentang penyerbuan pendekar palsu yang diatur oleh gerombolan itu untuk mengadu domba antara para biksu dan pendekar. Mendengar hal ini, Hek Bin pun tersenyum.


"Sudah aku duga begitu, aku juga melihat dua puluh orang biksu palsu menyergap para pendekar, maka aku juga membayangi para biksu palsu itu dan tiba di sarang mereka." kata Hek Bin.


"Ah, kalau begitu, usaha melerai dan mendamaikan para pendekar dan para biksu akan menjadi sia-sia saja mereka tentu sudah terpengaruh oleh siasat busuk mengadu domba itu." kata Han Beng yang menyimpulkan.


"Tidak, anak muda. Bahkan aku melihat jalan yang baik untuk mendamaikan antara mereka, mungkin untuk selamanya. Mari kita membagi pekerjaan. Kau pergilah ke barat. Di luar hutan terdapat sebuah kuil tua dan aku kira disana kau akan dapat menemukan sepuluh biksu pimpinan itu. Ceritakan apa yang kaulihat tentang pendekar-pendekar palsu itu, kemudian ajak mereka ke sini. Katakan bahwa aku menanti disini bersama para pendekar pimpinan. Kemudian kita bersama-sama menyerbu sarang Beng Cu dan anak buahnya. Dengan terbongkarnya kepalsuan dan fitnah adu domba itu, kiranya para biksu dan pendekar akan benar-benar insaf betapa bodohnya sikap mereka selama ini dan bahwa permusuhan hanya akan memancing datangnya malapetaka bagi diri sendiri." jelas Hek Bin.


"Baiklah kakek! Saya akan laksanakan." kata Han Beng dapat mengerti apa yang dimaksudkan kakek itu, yang kemudian dia berlari cepat menuju ke barat sedangkan kakek itu pun berkelebat menuju ke timur.


Benar saja, Han Beng dapat menjumpai para biksu yang dipimpin oleh Biksu Thian Gi itu di dalam sebuah kuil. Mereka sedang berdoa ketika dia tiba di situ. Ketika para biksu mendengar penjelasannya tentang para pendekar palsu yang menyerbu mereka, para biksu itu menjadi marah.

__ADS_1


"Amitabha...! Kiranya begitu? Kami sudah merasa bingung dan heran sekali......! Mari kita serbu ke sarang mereka!" seru Biksu Thian Gi dan para biksu lainnya menyambut penuh semangat.


"Nanti dulu, ketua biksu. Saya disuruh oleh pendekar tua Hek Bin agar mengajak kalian ke dalam hutan. Di sana dia akan menanti bersama para pendekar yang juga disergap oleh segerombolan biksu palsu." jelas Han Beng.


Berangkatlah para biksu itu dan Han Beng menjadi petunjuk jalan. Ketika mereka tiba di dalam hutan, ternyata pendekar tua Hek Bin dan tujuh orang pendekar pimpinan sudah berada di situ.


Ketika para biksu dan para pendekar mendengarkan siasat yang dijalankan pemerintah dengan bantuan tokoh-tokoh sesat untuk mengadu domba antara para biksu dan para pendekar, tentu saja mereka menjadi penasaran dan marah sekali.


Hek Bin tersenyum, diam-diam girang melihat sikap mereka.


 "Nah, sekarang kalian dapat melihat sendiri betapa ruginya kalau antara kedua pihak selalu bermusuhan. Dapat dipergunakan oleh golongan ke tiga untuk mengadu domba kalian sehingga memperlemah diri sendiri. Tahukah kalian mengapa pemerintah memusuhi golongan pendeta, banyak para biksu maupun para pensekar, dan tidak segan-segan mempergunakan tokoh-tokoh sesat untuk memusuhi kalian? Bukan lain karena di samping para pendekar, kedua golongan biksu dan pendekar yang melindungi rakyat dan menyatakan tidak setuju dan menentang pelaksanaan penggalian terusan yang memakan korban banyak sekali nyawa rakyat. Kalau kalian ditentang pemerintah yang tidak segan bersekongkol dengan kaum sesat, maka hal itu berarti bahwa perjuangan kalian sudah benar. Nah, sekarang hendaklah pengalaman ini menjadi pelajaran dan kalian dapat menyebarluaskan kepada saudara-saudara golongan masing-masing betapa bodoh dan kelirunya untuk saling bermusuhan." jelas Hek Bin.


Setelah mendengarkan nasihat itu, mereka semua berangkat menuju ke Sarang Beng Cu di puncak bukit, Ketika tiba di lereng bukit dan Han Beng mengajak mereka lebih dulu menyerbu markas di mana tinggal para anak buah datuk sesat itu, ternyata markas telah kosong dan semua anggota-anggota gerombolan telah dikerahkan oleh Beng Cu, melakukan penjagaan di Puncak.


Ketika rombongan Biksu dan pendekar tiba di sarang gerombolan itu, mereka disambut dengan serangan oleh para anak buah gerombolan.


Dapat dibayangkan betapa marahnya hati para biksu dan pendekar ketika melihat bahwa di antara para penyambut itu terdapat bikau-biksu dan pendekar-pendekar palsu yang tadi telah menyergap mereka.


 Matahari mulai turun ke barat cuaca menjadi gelap ketika terjadi pertempuran yang amat seru. Para para biksu dan pendekar itu adalah para pimpinan rata-rata mereka memiliki kepandaian tinggi sehingga banyak anak buah gerombolan dan juga anggota pasukan pemerintah yang roboh, luka atau tewas.


Beng Cu sendiri dengan marah sudah keluar dibantu oleh Hai Jin dan beberapa orang pembantu yang cukup lihai.

__ADS_1


Hai Jin dengan samurainya segera disambut oleh Han Beng. Pemuda ini dikepung dan dikeroyok oleh Hai Jin yang bantu oleh tiga orang tokoh sesat.


Namun Han Beng dapat menandingi mereka dengan baik, menggunakan sebatang tongkat yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ketika dia mengeluarkan sebuah sabuk dan memegang sabuk dengan tangan kirinya, dia bahkan segera dapat mendesak empat orang pengeroyoknya.


Sementara itu, Beng Cu sendiri dihadapi oleh Hek Bin dan pendekar tua ini tersenyum dan bersikap tenang sekali ketika kakek raksasa itu dengan muka semakin hitam karena masih menghadapi dan memandang kepadanya dengan sinar mata mencorong.


"Hemmm, kiranya Hek Bin yang berdiri di belakang pemberontakan terhadap pemerintah!" seru Beng Cu dengan nada suara mengejek.


"Bagus! Seorang pertapa yang mengaku dirinya suci, tidak pernah mencampuri urusan dunia, sekarang begitu muncul menjadi pentolan pemberontak!" balas seru Hek Bin yang tidak menjadi marah mendengar ejekan itu. Dia memandang seperti seorang tua memandang tingkah laku seorang anak-anak nakal.


"Beng Cu dua puluh tahun yang lalu ketika engkau mengundurkan diri ke pegunungan sunyi, semua orang mengira dan mengharapkan bahwa kau mau meninggalkan jalan sesat, memulihkan diri dan menebus dosa. Tidak tahunya sekarang kau muncul kembali lebih jahat daripada sebelumn Engkau mengumpulkan tokoh-tokoh sesat bersekongkol dengan pemerintah dan mengadu domba antara para tosu dan para biksu. Mereka bukan pemberontak kau pun tahu akan hal ini, dan aku sendiri yang tidak lagi membutuh apa-apa, untuk apa memberontak!" seru Hek Bin.


"Para biksu dan pendekar yang berjiwa pendekar itu tidak rela melihat rakyat jelata dikorbankan, yang ditentang adalah aturan yang menindas rakyat!" lanjut jelas Hek Bin.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2