Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 284


__ADS_3

Kemudian Hok Cu melangkah maju menghadapi wanita yang pernah menjadi gurunya itu.


"Hok Cu, dengan sedikit isyaratku saja, maka puluhan orang anak buahku akan mengepung kamu dan kau akan mati konyol, biarpun kau dibantu oleh pendekar Naga. Kalau memang kau menantangku, beranikah kau bertanding dengan aku di ruangan berlatih silat dan tidak di depan kuil ini agar tidak mengganggu mereka yang akan sembahyang dan mencemarkan pekarangan kuil yang suci!" seru Mo Li.


Gadis itu mengulas senyumnya dan Han Beng sudah berani datang ke tempat itu, ke sarang musuh, tentu saja mereka tidak takut, apalagi ditantang untuk bertanding di ruangan bermain silat.


"Di mana pun dan kapan pun tantanganmu akan aku hadapi!" seru Hok Cu.


"Mo Li kedatangan kami ini tidak ada hubungannya dengan aliran bumi dan langit. Dan aku pun tidak akan mencampuri pertandingan kau dengan Hok Cu. Akan tetapi, kalau sampai terjadi kecurangan, seperti kau mengeroyok Hok Cu, terpaksa aku akan ikut campur dan mencegah kecurangan itu! Kami tidak ingin bermusuhan dengan aliran Bumi dan Langit!" seru Han Beng dengan lantang.


"Hik...hi...Hok....!" Mo Li tertawa genit..


"Aku akan bertanding melawan bekas muridku, perlu apa aku harus dibantu orang lain? Bahkan kalau perlu kau boleh membantu Hok Cu, aku tidak takut menghadapi pengeroyokan kalian dua orang muda yang sombong ini!" lanjut seru Mo Li.


"Tidak perlu banyak cerewet. Mari kita segera bertanding sampai seorang di antara kita roboh!" seru Hok Cu dengan membentak.


"Ha....ha.....ha....!"


Sambil tertawa Mo Li lalu masuk ke dalam, diikuti oleh Hok Cu dan Han Beng, juga diikuti Lui Seng dan para pimpinan Perkumpulan itu. Hok Cu tentu saja masih hapal akan keadaan di rumah itu. Kiranya kuil itu dibangun di bagian depan dan menembus ke pinggir rumah bekas gurunya, dan ruang latihan yang dulu tidak begitu besar, kini telah dirombak dan menjadi sebuah ruangan yang luas, yang cukup untuk berlatih seratus orang! Ruangan ini tertutup dan tidak mempunyai jendela, hanya ada sebuah pintu di depan, pintu besi yang kokoh.


Dengan langkah tenang dan gagah, Hok Cu mengkuti Mo li memasuki ruangan itu bersama Han Beng, diiringkan oleh para tokoh aliran bumi dan langit.


Setelah tiba di dalam ruangan langsung saja Hok Cu berdiri di tengah-tengah dengan sikap menantang.

__ADS_1


"Mari kita selesaikan urusan antara kita. Aku sudah siap, Mo Li!" seru Hok Cu sambil memandang ke arah wanita itu. Han Beng berdiri di sudut dengan sikap tenang, namun waspada karena dia tetap merasa curiga bahwa orang-orang sesat itu dapat benar-benar bersikap gagah dan dapat dipercaya.


Dia tidak khawatir sama sekali kalau memang terjadi pertandingan yang jujur, karena dia percaya sepenuhnya akan kelihaian Hok Cu. Yang dikhawatirkan adalah kalau orang-orang sesat itu menggunakan pengeroyokan atau jalan lain yang curang. Walaupun dia nampak tenang saja berdiri sambil bersilang lengan di dada dia tetap waspada menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi.


Mo Li belum tahu tentang kemampuan bekas muridnya itu yang kini memiliki kepandaian yang amat tinggi,jauh lebih lihai dibandingkan kepandaiannya sendiri.


Ia tidak percaya akan hal itu, tapi ia pun tidak takut, karena di situ terdapat Lui Seng dan para tokoh lain, bahkan di situ terdapat pula pimpinan tertinggi aliran bumi dan langit yang masih belum muncul, akan tetapi yang ia tahu tentu sedang melakukan pengintaian.


Dengan langkah gemulai Mo Li menghampiri Hok Cu di tengah ruangan itu sambil mencabut pedang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya tetap memegang kipasnya. Begitu pedang tercabut, nampak anar merah. Itulah Pedang Racun Merah yang ampuh sekali karena selain terbuat dari baja pilihan, juga pedang itu sudah direndam racun merah selama bertahun-tahun sehingga lawan yang terkena sekali goresan saja sudah terancam maut.


Namun Hok Cu sama sekali tidak merasa jerih. Ia sudah mengenal semua senjata dan kepandaian bekas gurunya itu. Ia tahu benar keadaan pedang pusaka yang berwarna merah itu, bahkan ia pun mengenal kipas di tangan kiri lawan itu.


Kipas itu nampaknya tidak berbahaya, namun ia tahu bah kipas itu lebih berbahaya daripada pedang karena kipas itu mengandung jarum-jarum halus beracun yang dapat menyambar dari dalam gagang kipas yang suda dipasangi alat. Juga selain kedua ujung gagang kipas yang runcing mengandun racun pula, juga kebutan kipas itu mendatangkan bau harum yang juga dapa membuat kepala menjadi pening.


"Hok Cu, sudah begitu bosan hidupkah kau maka begini tergesa-gesa minta mati?" tegur Mo Li dengan senyum yang mengejek.


"Mo Li, dua belas tahun yang lalu kau telah membunuh Ayah dan Ibuku yang sama sekali tidak bersalah kepadamu. Sekarang aku, Hok Cu anak mereka, menuntut balas atas kematian mereka yang penasaran itu. Mo Li bersiaplah kau untuk menghadap Ayah dan Ibuku dan mempertanggung-jawabkan perbuatanmu yang jahat dan kejam!" seru Hok Cu yang sudah bersiap untuk menyerang bekas gurunya itu.


"Hik....Hik....hik...! kau ini bekas muridku berani membuka mulut besar? Nah, kau makanlah pedangku!" seru Mo Li yang sudah menusukkan pedangnya, tanpa memberi kesempatan pada bekas muridnya untuk mencabut senjatanya.


Memang wanita ini licik sekali dan sama sekali tidak merasa malu untuk melakukan kecurangan. Sinar merah berkelebat menyambar ketika pedang Itu menusuk ke arah dada Hok Cu. Gadis ini dengan cepat meloncat ke belakang dan ketika tangan kanannya bergerak, ia sudah mencabut pedang pusaka pemberian biksu Hek Bin. Melihat pedang yang tumpul dan buruk, yang membuat Mo Li terkekeh geli.


"He...he...he...! Hok Cu. Pedang apa yang kaukeluarkan itu? Untuk memotong sayur pun belum tentu dapat, begitu tumpul dan buruk! Dan kau hendak melawan Pedang Racun merah dan kipas dengan pedang tumpul itu? Ha....ha...ha...!" seru Mo Li.

__ADS_1


"Tak perlu banyak cerewet masalah pedang!" bentak Hok Cu yang sudah menyerang dengan pedangnya.


"Wuuut......wuuut....!"


Terdengar suara berdesing dari didahului angin menyambar keras, pedang itu sudah menyambar pula ke arah leher lawan. Mo Li yang masih tersenyum itu terkejut, senyumnya berubah dan ia cepat menggerakkan pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya, dengan maksud begitu kedua pedang bertemu, ia akan membarerengi dengan serangan kipasnya.


"Tranggggg ............!"


Nampak bunga api berpijar dan Mo Li terhuyung dan hampir saja pedangnya terlepas dari tangannya. Tentu saja hal ini sama sekali tidak pernah disangkanya sehingga rencana serangannya gagal sama sekali, bahkan hampir saja ia terpelanting.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...


...   ...

__ADS_1


__ADS_2