
"Ampun nyonya, ampunkan saya...!" ratapnya ketika dia melihat adik seperguruannya itu roboh dan tewas, dan wanita; yang menakutkan itu berdiri sambil bertolak pinggang di depannya.
Wajah yang cantik itu tersenyum manis, akan tetapi matanya yang mencorong itu membuat hati San Bo menjadi semaki ketakutan.
Dia melihat maut membayang pada mata itu dan walaupun ingin dia melarikan diri, namun tubuhnya mengigil dan kedua kakinya lumpuh, membuat dia hanya dapat mendekam di depan wanita itu.
"San Bo, apa yang kaulakukan bersama saudaramu terhadap muridku itu!" bentak Mo Li.
"Saya... saya... tidak melakukan apa-apa, hanya... hanya....!" jawab San Bo yang mana dia
begitu ketakutan sehingga untuk bicara amat sukar.
"Kalian telah memperkosanya?" bentak Mo Li dengan kedua mata yang memandang mereka dengan tajam.
Muncul sedikit harapan dalam hati San Bo ketika mendengar pertanyaan ini. Rupanya itulah yang menyebabkan kemarahan Mo Li, mengira bahwa muridnya telah mereka perkosa. Dan pada kenyataannya, dia belum memperkosa Hok Cu.
"Tidak...! Tidak sama sekali, guru Mo! Saya... belum... eh, tidak
memperkosanya, sama sekali tidak!" jawab San Bo dengan terbata-bata.
"Hmm, lantas kenapa kau menelanjanginya dan mengikat kaki tangannya?" tanya Mo Li yang menatap San Bo dengan tajam.
"Eh, oh.... itu-itu yang menelanjangi dan membelenggu saudara Tek Su guru Mo!" jawab San Bo yang jelas nampak sifat pengecut dari pemuda itu yang begitu menghadapi ancaman lalu hendak menimpakan semua kesalahan kepada saudaranya yang telah tewas.
Mo Li kembali tersenyum. Wanita yang sudah kenyang akan pengalaman di dunia ini tentu saja tidak mudah dibohongi begitu saja.
"Bagus, dia yang menelanjangi dan membelenggu, dan kau yang akan memperkosanya!" bentak Mo Li.
"Tidak, tidak....!" jawab San Bo dengan gugup.
"Lalu apa yang kaulakukan? Hanya menonton!" seru Mo Li yang membelalakkan kedua matanya semakin lebar.
San Bo tahu bahwa hal ini tidak mungkin. Dia harus mengakui kesalahan, akan tetapi kesalahan yang paling kecil.
"Saya..... saya tadi hanya... meciuminya beberapa kali, guru Mo." jawab San Bo dengan terbata-bata.
"Hm, menciumnya beberapa kali, ya? Agaknya kau suka sekali menciumi perempuan. Nah, bangkitlah!" seru Mo Li.
__ADS_1
Dengan tubuh menggigil pemuda itu tidak berani membantah Mo Li dan dia pun berdiri.Sejenak Mo Li mengamati pemuda ini dari kepala sampai ke kaki. Seorang pemuda yang cukup tampan walaupun agak kurus dan mukanya pucat.
"San Bo! aku ingin merasakan gaimana engkau menciumi muridku tadi. Hayo kau cium aku!" seru Mo Li.
Wajah San Bo yang pucat itu menjadi semakin pucat.
"Mana saya berani, guru Mo?" jawab San Bo yang gemetaran.
"Kau berani membantahku? Apa kau ingin mampus seperti saudaramu tadi...!" bentak Mo Li.
"Tidak....tidak...!" seru San Bo dengan terbata-bata.
"Kalau begitu kauciumi aku seperti kau menciumi muridku tadi. Hayo
cepat lakukan!" teriak Mo Li yang membuat San Bo semakin ketakutan setengah mati.
Dengan tubuh menggigil, terpaksa dia memberanikandiri merangkul pundak wanita cantik itu dan mendekap mukanya, lalu mencium mulut yang tersenyum menggairahkan itu.
Dasar dia pemuda yang sudah menjadi hamba nafsu. Biarpun tadinya ketakutan, begitu dia mencium dan merasa betapa mulut wanita cantik yang diciumnya itu membalas dengan mesra, dia pun mencium penuh nafsu.
Akan tetapi ketika dia hendak melepaskan ciumannya untuk bernapas, mulutnya melekat pada mulut itu dan merah mulutnya terasa seperti dibakar, rasa panas yang terus menyerang dirinya melalui mulut, masuk ke kerongkongan dan ke dada.
Rupanya Mo Li mengeluarkan racunnya pada saat San Bo menciuminya.
Kematian San Bo tidak datang tiba-tiba seperti yang dialami Tek Su dan hal ini agaknya memang disengaja oleh Mo Li.
Melihat pemuda itu menggeliat-geliat Mo Li menggerakkan tangan menotok ke arah tengkuknya dan pemuda itu pun tak bergerak lagi karena telah tertotok. Mo Li berkelebat lenyap dari tempat itu.
"Guru...!"
Seru Hok Cu yang memanggil ketika melihat bayangan subonya, akan tetapi gurunya itu tidak menjawab. Ia mecoba untuk melepaskan belenggu kak tangannya, namun ikatan itu kuat sekali dan tubuhnya juga amat lelah.
Hok Cu tak lama menunggu. Nampak dua bayangan berkelebat dan ternyata mereka adalah gurunya Mo Li bersama Kian Sian, tamu tinggi besar, majikan dari Pegunungan Liong-san, guru dari dua orang pemuda yang tadi hampir memperkosanya.
Mereka berhenti di dekat Mo Li dan terdengar gurunya itu berkata pada Kian Sian.
"Nah, kau lihat sendiri keadaan muridku. Merekalah yang melakukannya!" seru Mo Li yang terdengar kaku dan marah.
__ADS_1
"Keparat! Dimana mereka yang memalukan itu sekarang!" seru Kian Sian dengan geram.
"Mereka lari dan kukejar. Mari kita lihat, di sana mereka!" jawab Mo Li seraya menunjuk ke arah San Bo dan juga Tek Su.
Keduanya berkelebat lenyap dan sebentar saja, Mo Li dan Kian Sian telah berdiri di dekat tubuh Tek Su yang lagi sudah tidak bernyawa dan tubuh San Bo yang sudah tidak bergerak, akan tetapi masih hidup.
Melihat gurunya yang mendekat, San Bo mengeluh dan merintih.
"Guru...! ampuni murid." kata San Bo dengan memelas.
"Benarkah kau dan saudaramu yang melakukan penghinaan terhadap murid Mo Li?" tanya Kian Sian dengan alis berkerut dan pandang mata marah,
"Guru, kami berdua tergila-gila olehnya. Akan tetapi Hok Cu menolak dan memukuli kami, terpaksa kami mengikatnya. Tapi guru, kami tidak memperkosanya, hanya menciumnya saja!" jawab San Bo yang terbata-bata dengan suara yang tidak jelas karena mulutnya membengkak dan menghitam.
"Ampunkan murid, guru...!"lanjut rintih San Bo.
Guru San Bo, Kian Sian itu kemudian menarik napas panjang. Bagaimanapun juga, San Bo adalah muridnya, murid pertama. Dia menoleh kepada Mo Li kau telah membunuh muridku Tek Su sebagai hukuman. Apakah kau tidak dapat mengampuni muridku yang satu ini? Dia pun telah mendapatkan hukuman, apakah itu belum memuaskan hatimu?" tanya Kian Sian pada Mo Li.
"Kian Sian, kau dan dua orang muridmu adalah tamu-tamu yang ku sambut dengan hormat dandengan baik-baik. Akan tetapi dua orang muridmu telah menghina muridku. Aku telah membunuh seorang muridmu dan melukai muridmu yang ini, bagaimana pendapatmu? Apakah kau tidak terima dan hendak menuntut balas?" balas Mo Li dengan ucapan yang terkandung kemarahan dan tantangan.
Kembali Kian Sian menarik napas panjang.
"Aku sudah tahu akan kelihaianmu Mo Li, akan tetapi bukan berarti aku takut padamu kalau kukatakan bahwa aku tidak ingin menuntut balas, aku mengerti sepenuhnya akan kemarahanmu dan aku mengakui kesalahan murid-muridku. Oleh karena itu aku mintakan maaf untuk mereka, dan kalau mungkin, ampunkanlah muridku San Bo ini." kata Kian Sian.
Wajah yang tadinya nampak marah itu melunak, rasa penasaran karena hinaan yang menimpa muridnya itu telah ditebus dengan nyawa seorang murid, dan murid yang lain telah terkena racun, juga akan mampus kalau ia tidak mengampuninya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...