Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 288


__ADS_3

Keduanya telah dijadikan bulan-bulanan tendangan atau pukulan tanpa mampu membalas, bahkan tentu saja para pimpinan aliran Bumi dan Langit yang lihai itu dengan mudah akan dapat menotok jalan darah mereka atau menggunakan asap pembius.


Hanya karena Hong Lan ingin sekali menarik mereka menjadi sekutu yang untuk sementara menyelamatkan mereka, dan kini kenekatan mereka membuat para pimpinan aliran Bumi dan Langit itu menjadi kewalahan juga.


Pada saat itu, tiba-tiba terdengar bunyi terompet dan tambur yang riuh tendah dan saling sahutan, terdengar datang dari empat penjuru. Tentu saja hal ini membuat Hong Lan dan para pembantunya di ruangan itu terkejut bukan main.


Pada saat itu, lima orang anak buah mereka datang berlarian dengan muka pucat dan napas terengah-engah.


"Celaka...! pimpinan utama... celaka........! tempat kita sudah terkepung pasukan pemerintah yang besar jumlahnya!" seru salah anggota aliran bumi dan langit itu yang memberi laporan dengan napas terengah-engah.


Mendengar laporan ini, wajah para petinggi aliran Bumibdan Langit itu mereka menjadi pucat.


"Bagaimana mungkin mereka bisa menyerang kita!" teriak Hong Lan yang tak percaya dengan apa yang dilaporkan oleh para anak buahnya.


"Hubungan pasukan dengan kita amat baik!" seru Lui Seng yang ikut tak percaya.


"Aihhh, ini tentu karena gagalnya gadis-gadis itu ketika melantik Ciang Kun!" lanjut seru Lui Seng dengan suara penuh kekhawatiran.


"Benar pimpinan utama! pasukan itu yang memimpin adalah perwira Yap!" seru anak buah Hong Lan yang melapor.


"Perwira Yap merintahkan agar seniua pimpinan aliran bumi dan Langit untuk menyerah." lanjut anak buah Hong Lan itu.


Wajah Hong Lan yang tadinya pucat kini berubah merah.


"Jahanam! Dikiranya kita takut? Dua orang yang menjadi biang keladi ini harus kubunuh lebih dulu!" bentaknya dan Hong San sudah mencabut pedang butut tumpul milik Hiok Cu yang telah dirampasnya, lalu dia menghampiri Hok Cu yang masih rebah miring terbelenggu dengan kursi.


Gadis itu memandang padanya dengan mata mencorong penuh kebencian dan keberanian, sedikit pun tidak merasa takut.


"Hong Lan keparat busuk, pengecut hina. Lepaskan belenggu ini dan mari kita berkelahi kalau memang engkau masih mempunyai nyali!" teriak Hok Cu dengan geram.


"Perempuan tak tahu diuntung!" seru Hong Lan.

__ADS_1


"Karena keadaan darurat terpaksa kubunuh dulu kau, kemudian kekasihmu itu!" seru Hong Lan yang mengangkat tangan mengayun pedang dan Hok Cu Inenghadapi maut itu dengan mata terbuka. Pada saat pedang terayun, ada sinar hitam menyambar, tepat mengenai pergelangan tangan Hong Lan.


"Tukkk .............!"


Hong Lan terkejut dan melompat ke belakang, tidak jadi menggerakkan pedang untuk membunuh Hok Cu, dan pada saat itu, nampak dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pendekar tua dan seorang biksu yang sama tuanya.


Pendekar tua itu usianya tentu sudah mendekati delapan puluh tahun, rambut dan kumis jenggotnya putih, pakaiannya pun putih semua. Sedangkan biksu itu usianya sebaya kulit dan mukanya hitam, perutnya gendut dan wajahnya cerah tersenyum lebar


"Amitabha....! pedang tumpul itu tidak boleh berada di tanganmu!" seru Biksu Hek Bin kepada Hong Lan dan lengan kirinya bergerak, ujung lengan baju yang lebar itu sudah menyambar ke arah mu'ka Hong Lan.


Pemuda itu bukan orang lemah. Melihat serangan yang dahsyat itu, yang didahului oleh angin pukulan yang amat kuat, dia cepat miringkan tubuhnya dan pedang di tangannya bergerak membacok.


Tapi pedang itu bertemu dengan benda lunak dan ternyata itu adalah lengan baju yang kanan, yang telah menyambut pedang itu dan melibatnya, kemudian sekali membuat gebrakan sentakan pedang itu telah berpindah tangan! Hong Lan terkejut sekali dan melompat ke belakang.


"Guru...!" panggil Hok Cu dengan girang melihat biksu itu yang bukan lain adalah biksubHek Bin, gurunya.


"Guru...!" panggil Han Beng juga berseru kepada pendekar tua itu yang bukan lain adalah Kwe Ong juga gurunya itu.


"Amitabha, dasar anak nekat!" seru Biksu Hek Bin yang menghampiri Hok Cu, menggerakkan pedang tumpul itu dan belenggu kaki tangan gadis itu, ya g kemudian putus semua.


"Apakah kau tidak mampu melepaskan diri dari belenggu Itu, Han Beng?" tanya Kwe Ong pada muridnya.


"Belenggu ini ulet dan lentur guru!" jawab Han Beng.


"Hm, kalau begitu jangan mencoba untuk membuat putus, melainkan meloloskan tanganmu dengan jurus Melepas Tulang Melemaskan Badan!" saran Kwe Ong.


Han Beng baru teringat akan ilmu yang pernah dipelajarinya itu. Tapi dalam keadaan terancam, dia tidak ingat untuk mempergunakan ilmu itu. Dengan ilmu itu, dia dapat melepaskan sambungan tulang, melemaskan otot-ototnya sehingga bagian tubuh seperti lengan atau kaki dapat menjadi lunak dan lemas, menja kecil sekali hanya seperti tulang terbungkus kulit saja.


Murid Kwe Ong itu membuat kedua lengannya lemas. Otot-ototnya mengendur dan tulang-tulangnya seperti dapat terlepas dan dengan demikian, mak tidak begitu sukar baginya untuk menarik kedua tangannya lepas dari ikatan tali kerbau.


Demikian pula dengan mudah dia melepaskan ikatan kakinya, lalu berlutut di depan Kwe Ong seperti juga Hok Cu yang sudah berlutut di depan biksu Hek Bin.

__ADS_1


Pada saat itu terdengar suara pertempuran di luar. Hong Lan dan para pembantunya hendak lari keluar, akan tetapi beberapa orang anak buah lari masuk dalam keadaan luka.


"Celaka, pimpinan! sebagian besar teman telah menyerah kita jauh kalah banyak dan rumah ini sudah di kepung ketat!!" kata anak buah Hong Lan.


Baru saja dia selesai bicara demikian, sebatang panah meluncur dari luar dan dia pun roboh. Dan kini di ambang pintu ruangan yang luas itu muncullah seorang perwira tinggi yang berwajah tampan.


"Perwira Yap...!" panggil Han Beng meemanggil, juga Hok Cu yang mengenal perwira itu, sebmentara itu perwira Yap Ciangkun mengangguk dan tersenyum.


"Kiranya berdua masih selamat. Syukurlah dan rumah ini sudah kami kepung. Para pimpinan perkumpulan jahat Ini harus kami tangkap semua!" seru Perwira Yap.


"Nanti dulu, Perwira Yap!" seru Hok Cu.


"Sebelum perwira Yap melakukan penangkapan, aku ingin menyelesaikan urusan pribadiku dengan Mo Li!" lanjut Hok Cu.


Yap Ciangkun mengerutkan kedua alisnya, akan tetapi mengingat akan kelihaian gadis itu, dia pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, pendekar." ja2ab Perwira Yap yang kemudian memberi isyarat kepada pasukannya untuk siap dengan anak panah mereka, yang nanti akan melindungi Hok Cu.


"Ha ..ha...ha...!" Melihat hal ini Hong Lan tertawa tergelak.


Pemuda ini amat cerdik dan dia pun melihat bahwa kini sukarlah baginya untuk dapat meloloskan diri. Menerjang keluar itu berarti dia bunuh diri, oleh karena itu satu-satunya jalan haruslah membela diri secara gagah.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...

__ADS_1


...Bersambung...


...   ...


__ADS_2