Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 55


__ADS_3

"Bocah Ingusan! mampuslah kamu!" bentak Dewa Api dan dia sudah mendorongkan kedua tangannya yang merah membara itu ke arah dada Sin Lin.


Sin Lin mengerahkan seluruh tenaga saktinya dan memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, lalu mendorongkan kedua tangan pula menyambut serangan lawannya.


 "Wuuuuuttt......plakkk!"


Kedua telapak tangan Dewa Api yang seperti membara itu bertemu dengan kedua telapak tangan Sin Lin.


Sin Lan yang khawatir dengan adiknya, turun dan menggabungkan tenaganya dengan tenaga adiknya.


Namun gabungan dua tenaga itu tidak cukup kuat untuk menahan gempuran lawan. Dan tubuh kedua orang kakak beradik itu bergetar. Dari dua pasang telapak tangan yang saling menempel itu kini keluar asap, Sin Lan dan Sin Lin mandi keringat.


"Wah, panas...... panas......!"


Sin Lin menjerit-jerit ketika merasa betapa kedua telapak tangannya seperti menempel pada besi membara yang amat panas.


Hua Li tahu bahwa saatnya tiba baginya untuk turun tangan membantu dan menyelamatkan dua orang kakak beradik itu. Dia menjulurkan kedua tangannya dan kedua telapak tangannya menempel pada punggung Sin Lan.


"Kakak Lin, dorong!" seru Hua Li seraya mengeluarkan tenaga dalamnya.


Sin Lin yang merasa kepanasan segera mendorong. Kekuatannya bergabung dengan kekuatan Sin Lan dan Hua Li, maka dorongannya mengandung tenaga dalam yang amat kuat.


  "Wesss......!"


Tubuh Dewa api terpental dan dia terhuyung ke belakang sampai tujuh langkah. Sepasang matanya terbelalak kaget dan heran karena tadi dia merasa ada tenaga yang amat dahsyat, yang bukan saja membuat kedua lengannya tergetar dan nyeri, bahkan membuat dia terpental ke belakang seperti dilontarkan.


Dia merasa gentar juga, karena baru tiga orang muda itu saja sudah demikian kuatnya. Apalagi jika Ketua perguruan ular kobra. Maka dia menoleh kepada tiga orang pembantunya.


"Kita pergi!" seru Dewa Api yang kemudian melompat jauh, diikuti tiga orang berpakaian hijau itu dan sebentar saja mereka lenyap dari perguruan ular kobra.


"Hei, siluman rambut merah! Mau lari ke mana kamu!" teriak Sin Lin yang hendak melakukan pengejaran, merasa seolah ia yang mengalahkan lawannya.

__ADS_1


"Jangan dikejar!" seru Sin Lan yang dengan segera memegang lengannya.


"Wah, kakak Lan, siluman seperti dia itu yang amat sombong sebaiknya dibasmi saja. Kalau engkau tidak menahanku, tentu ia dapat kukejar dan kupenggal lehernya, betul tidak, adik Hua!" seru Sin Lin sambil memandang Hua Li.


"Kakak Lin, aku kagum akan keberanianmu." ucap Hua Li yang tersenyum.


"Bukan berani, melainkan nekat dan ngawur!" seru Sin Lan mengomel karena ia tahu benar bahwa kalau tadi tidak dibantu Hua Li, tenaga mereka berdua tidak cukup untuk mengalahkan Dewa Api dan bukan tidak mungkin nyawa mereka terancam maut.


Kemudian mereka bertiga kembali ke dalam gedung bersama yang lainnya, menghadap Ketua Liong, dan tiga pendekar tua itu untuk melaporkan tentang munculnya Dewa Api.


"Memang kalau urusan harta karun mulai menimbulkan kekacauan. Saya kira kelanjutannya akan menimbulkan persaingan dan perebutan." ucap ketua Liong.


 "Siapa tahu, kakek siluman itu malah yang menjadi pencurinya!" tebak Sin Lin yang tiba-tiba saja.


"Sepertinya hal itu tidak mungkin, adik Lin." kata Sin Lan yang lirih namun masih bisa didengarkan oleh yang lainnya.


"Kalau dia yang mencuri harta karun, untuk apa dia dan para pembantunya menyerbu ke sini dan mencari di perpustakaan perguruan Ular kobra ini?" tanya patriak Song yang mengerutkan kedua alisnya.


"Mungkin sekali, patriak! Dia melakukan penyerbuan ke sini untuk mengalihkan perhatian agar yang disangka mencuri harta karun adalah perguruan ini! Huh, dikira aku tidak tahu akan akal bulusnya itu!" jawab Sin Lin lalu memandang Hua Li.


"Memang segala kemungkinan bisa terjadi. Bisa seperti yang disangka kakak Lin bahwa dia pencuri harta karun dan ingin mengalihkan perhatian kepada perguruan ular kobra. Akan tetapi mungkin juga benar seperti yang dikatakan kakak Lan, dia hanya menduga bahwa perguruan ular kobra yang mengambil harta karun maka dia ingin mencari dan merampasnya." pendapat Hua Li yang tak memihak salah satu diantara kakak beradik itu.


"Ketua, kami yang muda-muda hanya bingung dengan dugaan kami masing-masing. Bagaimana kalau menurut pendapat ketua. Harap suka memberi petunjuk kepada kami." ucap Sin Lan seraya menjura dengan hormat.


 "Sungguh membingungkan." ucap patriak Song seraya mengelus jenggotnya.


"Memang semua kemungkinan itu bisa saja terjadi. Akan tetapi, Dewa Api adalah seorang pedekar aliran hitam yang kasar dan mengandalkan kekuatan dan kelihaian ilmu silatnya. Orang berwatak kasar seperti dia, kiranya tidak akan dapat menggunakan cara-cara yang mengandung muslihat rumit. Maka, saya kira bukan dia pencuri harta karun itu." ucap ketua Liong yang masih mengernyitkan kedua alisnya.


   "Kalau begitu ketua, kita sudah mendapatkan dua kenyataan, yaitu yang pertama penghuni perguruan ular ini dan kedua Dewa Api, bukan pencuri harta karun. Dengan demikian, kita dapat menjuruskan penyelidikan kita kepada pihak lain yang berada di perguruan ular kobra ini," kata Hua Li yang mencoba memberikan solusi.


"Jangan-jangan tamu yang kemarin datang, sepasang iblis Tengkorak Hitam dari perkumpulan tongkat pengemis itu!" seru Patriak Song yang menduga-duga.

__ADS_1


"Hemm, bisa jadi dan aku setuju dengan pendapatnya," kata Sin Lan.


"Tidak perlu tergesa-gesa, saudaraku!" kata Ketua Liong.


"Sebentar lagi malam tiba dan perjalanan ke Bukit tengkorak, tempat tinggal iblis Tengkorak Hitam dan anak buah mereka yang berada di bagian Utara pegunungan ini, tidaklah mudah dan cukup jauh. Kalian perlu mempelajari perjalanan yang akan kalian tempuh, dan sebaiknya dilakukan besok pagi." saran Patriak Song.


"Baiklah patriak Song, ketua Liong." ucap Hua Li dan yang lainnya secara bersamaan.


Malam ini Hua Li, Sin Lan, dan Sin Lin bermalam di Perguruan Ular Kobra. Mereka mendengarkan keterangan tentang perjalanan ke sana dari para murid perguruan itu yang sudah pernah mengenal daerah Utara di mana terdapat Bukit Tengkorak.


...****...


 Sementara itu Yauw Lie, Liu Ceng, dan Liu Hong yang melakukan perjalanan jauh dari Pulau Ular yang berada di Lautan Po-hai menuju perguruan Ular Kobra, setelah beberapa hari perjalanan, akhirnya mereka tiba di pegunungan terdekat dengan perguruan Ular Kobra.


Mereka kini menjadi akrab sekali karena dalam perjalanan panjang yang makan waktu yang lama itu, Yauw Lie memperlihatkan sikap sopan dan budi yang baik sekali.


Bahkan Liu Ceng juga merasa tertarik dan kagum akan kemampuan Yauw Lie dalam mengalahkan para perampok.


" Ingatlah kakakk Hong, mereka itu menjadi jahat oleh keadaan. Para penjajah itulah yang membuat kehidupan rakyat jelata menjadi susah dan serba kekurangan dan hal ini mendorong mereka untuk merampok!" ucap Yauw Lie yang menatap Liu Hong.


"Bagaimanapun juga, mereka itu adalah bangsa kita sendiri, jadi jangan sembarangan membunuh mereka. Musuh utama kita adalah penjajah Mongol. Kalau kita sudah berhasil mengenyahkan penjajah, kuyakin kehidupan rakyat kita akan dapat membaik dan kejahatan pun pasti berkurang." ucap Liu Ceng.


   


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2