
Biasanya, kalau gurunya berpesan seperti itu, tentu akan terjadi hal-hal yang mengerikan. Dulu pernah gurunya itu membunuhi belasan orang yang dianggap musuh dan ia pun sebelumnya sudah dipesan agar jangan mencampuri.
Pernah pula gurunya menawan tiga orang dan disiksanya sampai mati, juga ia dipesan agar jangan mencampuri. Bahkan kalau gurunya menawan dan mengeram pemuda-pemuda tampan, ia pun dihardik dan tidak boleh bertanya-tanya.
Maka kini ia pun hanya duduk di belakang gurunya nonton saja dengan hati yang tegang.
Sepertinya Mo Li dan para tokoh aliran sesat lainnya terbujuk dan tertarik kepada aliran kepercayaan baru yang dianut oleh Lui Seng. Menurut penuturan Lui Seng kepada para rekannya aliran kepercayaan baru ini berpusat disumber atau pusat dari sungai kuning yaitu di lereng Pegunungan Bayan-san di bagian selatan Propinsi Cing-hai.
Di pegunungan itulah munculnya aliran kepercayaan baru ini, dipimpin oleh pertapa yang sakti. Menurut keterangan Lui Seng Cu, biarpun yang disembah itu hanya sebuah yang dibentuk sebagai sebuah arca, namun roh yang disembah itu sudah sering muncul di depan para penyembahnya.
Banyak orang tertarik kepada kepercayaan baru ini karena imbalan yang dijanjikan, yaitu selain pemuja dapat menjadi kaya-raya secara aneh, juga dapat menjadi lebih sakti, dan terutama sekali, ini yang banyak menarik orang untuk menjadi pemuja, yaitu orang dapat menjadi panjang umur.
Agaknya janji paling akhir ini pula yang menarik hati Mo Li, karena dia tidak menginginkan kekayaan karena sudah kaya. Juga dalam hal kesaktian, ia sudah cukup sakti sehingga jarang menemui tanding
Akan tetapi melihat betapa usianya menjadi semakin bertambah, betapa usia tua merayap datang tanpa dapat dihindarkan lagi, ingin ia memiliki ilmu umur panjang.
Dan untuk memperoleh satu di antara ketiga keuntungan ini, harta benda, kesaktian atau umur panjang, orang tidak segan-segan untuk menyerahkan korban dalam bentuk apa pun juga.
Dan pada malam hari ini, tepat dengan waktu bulan purnama, Mo Li dengan perantaraan Lui Seng masuk menjadi anggota atau pemuja baru. Untuk itu, akan diadakan sembahyangan dan tentu saja untuk meyakinkan kepada sesembahan mereka bahwa keinginan Mo Li dapat dikabulkan dengan mempersembahkan korban dan untuk itu, Lui Seng mau membantunya dengan mengutus dua orang muridnya untuk mencari korban itu.
Dua orang muridnya sudah terlatih untuk ini, dan selain dua orang muridnya, juga dua orang murid Kian Sian diminta membantunya. Kian Sian sendiri, majikan Pegunungan Liong-san, juga amat tertarik dan ingin pula dia mempunyai umur panjang.
Akan tetapi dia masih agak ragu-ragui maka ia ingin menyaksikan lebih dulu pada saat Mo Li melakukan upacara itu. Kalau keraguannya sudah hilang, tentu dia pun akan masuk menjadi anggota aliran kepercayaan baru itu.
Saat yang ditunggu-tunggu tiba ketika terdengar langkah-langkah kaki dari luar ruangan itu. Setelah dua orang pelayan wanita melaporkan kepada Mo Li muncullah empat orang pemuda itu,
__ADS_1
Melihat dua orang muridnya yang datang memanggul dua buah karung itu, Lui Seng memandang dengan wajah berseri.
"Aha, kalian sudah pulang dan berhasil? Baiklah, letakkan mereka itu di atas meja korban, yang pria di kiri yang wanita di kanan!" seru Lui Seng.
Siok Boan dan Poa Kian menurunkan dua buah karung yang mereka panggul, kemudian dengan dibantu oleh San Bo dan Tek Su mengeluarkan dua sosok tubuh dari dalam karung.
Kiranya karung-karung itu berisi seorang pemuda dan seorang gadis remaja. Keduanya berusia kurang lebih lima belas tahun, dan biarpun pakaian mereka seperti orang-orang dusun, namun baik pemuda maupun wanita itu berkulit bersih dan wajah mereka tampan dan manis.
"Buang pakaian mereka yang kotor, aku sendiri yang akan membersihkan mereka dan mengenakan pakaian kebesaran!" seru Lui Seng dengan suara bangga penuh kewibawaan seorang yang "lebih tahu" daripada yang lain.
Dua orang murid itu menurut dan mulai menanggalkan pakaian pemuda dari gadis yang telah mereka telentangkan berjajar di atas pembaringan itu. Ternyata dua orang itu tidak mampu bergerak karena jalan darah mereka telah tertotok.
Si Pemuda nampak ketakutan dan gadis itu terbelalak dengan air mata bercucuran, namun mereka tidak mampu menggerakkan kaki tangan.
"Jangan kotori tubuh suci itu dengan colekan-colekan!" bentak Lui Seng dengan tiba-tiba, sehingga membuat mereka terkejut.
San Bo dan Tek Su tersipu malu, wajah mereka menjadi kemerahan, apalagi ketika para hadirin menahan tawa dan tersenyum simpul melihat kegenitan mereka tadi. Lebih mendongkol lagi ketika dengan tangannya, Lui Seng menyuruh mereka berempat pergi meninggalkan pemuda dan gadis yang kini telentang di atas pembaringan dengan telanjang bulat itu.
Lui Seng menghampiri dua orang calon korban, memeriksa di bawah penerangan lilin dan dia mengangguk-angguk.
"Bagus, pilihan dua orang muridku memang tepat. Mereka mulus dan bersih, masih suci. Akan tetapi, tubuh mereka perlu disucikan dan dibersihkan lengan air bunga suci, baru mereka akan diterima dengan gembira oleh yang mulia Agung!" gumam Lui Seng.
Kemudian Lui Seng membakar seikat dupa biting, lalu melakukan sembahyangan di depan meja sembahyang mana terdapat sebuah arca batu yang menyeramkan.
Arca itu melukiskan si orang pria yang wajahnya seperti singa, matanya melotot dan mulutnya menyeringai, tubuhnya kokoh kuat. Tinggi arca itu hanya dua kaki, namun nampak menyeramkan sekali.
__ADS_1
Setelah bersembahyang, Lui Seng Cu membawa seikat dupa biting itu ke dekat pembaringan, menghembus asap yang keluar dari dupa itu ke arah muka dan tubuh kedua orang muda yang telentang di atas pembaringan.
Dia lalu menancapkan seikat dupa it di atas meja dan ruangan itu pun kin penuh dengan asap yang baunya harum akan tetapi juga mengerikan. Agaknya dupa itu pun bukan dupa harum biasa, melainkan dupa istimewa dan khas dibuat untuk upacara ini.
Kemudian d ambilnya sebuah tempayan air dan kembang-kembang bermacam-macam, kemudian dengan sikap seperti orang suci, Lui Seng mendekati pembaringan dan mulai mencuci tubuh perjaka dan perawan itu dengan air kembang.
Para pemuda yang berada di situ, kecuali Siang Koan, memandang dengan jakun naik turun melihat betapa tangan kanan Lui Seng itu mencuci dan mengusap seperti membelai tubuh gadis itu.
Akan tetapi, Lui Seng sebagai seorang pemuja yang sudah lama dan percaya, sama sekali tidak terangsang ketika melakukan pemandian itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1