
Kuda itu terkapar mati dengan tulang-tulangnya yang berpatahan. Yui Lan segera bersimpuh meratapinya, sekarang Kuda itu tidak hanya sebagai binatang tunggangan bagi Yui Lan, tetapi juga sebagai sahabat yang telah mengalami suka-duka bersama.
Begitu dalam rasa kasih-sayangnya sehingga Yui Lan tidak pernah berlaku kasar terhadap Kuda itu. Seperti tadi, untuk menaikinya ke atas bukit saja Yui Lan tidak sampai hati. Yui Lan malah mengambil semua beban, kemudian menuntun Kuda itu perlahan-lahan ke atas.
Yui Lan tidak mengikuti jalan terjal yang diambil Saudarinya, tapi mengambil jalan melingkar yang lebih landai dan lebih mudah. Namun takdir tampaknya telah memisahkan mereka. Yui Lan lalu mengeluarkan sebatang lilin dan menyalakannya. Bau busuk tiba-tiba menyentuh hidungnya.
"Ah...! Cepat benar membusuknya?" gumam Yui Lan yang kaget seraya memandangi bangkai Kudanya. Tapi dengan cepat pula bau itu menghilang. Yui Lan lalu mendekatkan hidungnya.
"Ah...! Cepat benar membusuknya?" gumam Yui Lan yang kaget seraya memandangi bangkai Kudanya. Tapi dengan cepat pula bau itu menghilang. Yui Lan lalu mendekatkan hidungnya.
"Eh....!" seru Yu Lan pula ketika hidungnya mendadak mencium bau wangi yang sangat keras.
Seketika itu juga Yui Lan meloncat mundur. Perasaannya segera menjadi curiga dan berdebar-debar. Ada sesuatu yang aneh dirasakannya. Kemudian lilin itu lalu diangkatnya tinggi-tinggi. Ditatapnya kepekatan malam yang melingkupi tempat itu, dan tiba-tiba saja jantungnya seperti berhenti berdenyut, sehingga lilin itu hampir saja terjatuh dari tangannya.
"Han... hantu...?"' perempuan itu menjerit. Setombak jauhnya dari bangkai kuda itu, Yui Lan melihat seorang laki-laki tua berbaring di atas batu besar. Lelaki itu mempunyai kulit yang amat pucat seperti mayat, sementara kulit mukanya tampak kaku seperti topeng dari kayu.
Tubuhnya tidak begitu tinggi dan sangat kurus kering, sehingga sepintas lalu benar-benar seperti mayat atau hantu. Tapi semua itu belumlah seberapa. Yang lebih mengerikan lagi adalah matanya yang mencorong buas seperti mata harimau di dalam kegelapan.
Dan mata itu menatap Yui Lan tanpa berkedip, seakan-akan orang itu merasa heran melihat kedatangan Yui Lan. Maka sudah sepantasnyalah kalau Yui Lan menjadi ketakutan dan menyangkanya sebagai hantu.
Perempuan itu baru sadar kalau dirinya sedang berhadapan dengan manusia biasa setelah beberapa saat lamanya "Hantu" itu tetap saja di tempatnya, dan tidak mau hilang dari pandangannya.
Tapi Perempuan itu cepat menyadari pula bahwa orang yang ada di depannya tersebut tentu bukan orang sembarangan.
__ADS_1
"Kau.. kau.. siapa?" tanya Yui Lan dengan gemetar.
Orang tua itu menghela napas berat, kemudian terbatuk-batuk. Tampak benar kalau dia sedang menderita sakit keras. Namun demikian, nada suaranya masih terdengar garang ketika menjawab pertanyaan Yui Lan.
"Hukkk....hukkk...hukkk....! kau sendiri siapa? Kulihat tubuhmu kebal terhadap racun-racun berbahaya. Apakah kau mempunyai hubungan keluarga dengan ketujuh orang bekas muridku itu? Ataukah mungkin kau murid mereka? Hukk....hukk.....hukk....!" kata kakek itu.
"Aku? aku... Ah, aku tidak tahu yang kau maksudkan! Siapa ketujuh orang bekas muridmu itu?" tanya Yui Lan yang melihat kedua mata kakek dihadapannya itu yang tampak berputar-putar menakutkan.
"Apakah kau belum mengenal tujuh orang ahli racun yang tinggal di Ban-kwi-to itu?" tanya kakek itu yang menggeram.
Yui Lan terkejut bukan main. Siapakah yang tidak mengenal mendiang Tujuh Iblis dari Ban-kwi-to itu, yang terkenal di dunia persilatan.
"Oh... pendekar? pendekar maksudkan mendiang tujuh bersaudara itu? Ahh! Kalau begitu... aku... eh, saya tidak mempunyai sangkut-paut dengan mereka." balas Yui Lan menjawab sambil mundur-mundur pada saat melihat kedua mata orang itu melotot dengan mengerikan.
"Me-mereka... mereka memang sudah mati! karena yang aku dengar, mereka itu mati dalam kepungan pasukan kerajaan di Pantai Karang!" kata Yui Lan menjawab dengan ketakutan.
Perlahan-lahan orang tua itu bangun dari tidurnya, lalu duduk di atas batu. Gerakannya persis seperti mayat yang bangun dari kuburnya. Dan Yui Lan yang amat ketakutan itu buru-buru melangkah mundur pula. Tapi "Mayat" itu tiba-tiba menggerakkan tangannya.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba Perempuan itu merasa lemas seluruh badannya! Dan sebelum tubuh Perempuan itu jatuh ke tanah, orang itu menggerakkan tangannya sekali lagi dan seperti sebuah permainan sulap saja tubuh Yui Lan tersedot ke dalam pangkuan orang itu.
Dapat dibayangkan betapa "Ngerinya" Perempuan itu! Apalagi ketika orang itu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Aduh! pendekar... pendekar... lepaskan! Lepaskan...!" seru Yui Lan yang menjerit ketakutan dan hampir menangis. Tapi Perempuan itu tak kuasa berbuat apa-apa, karena dirinya memang dalam penyamarannya.
__ADS_1
"Ha...ha...ha...! Hukk...hukk...hukk...! Tampaknya Dewa Maut masih merasa kasihan kepadaku. Buktinya di saat kematianku tiba, beliau masih mengirimkan kau kesini untuk menyambung umurku, he...he...he...!" seru kakek itu.
Selesai berkata kakek itu menggigit urat nadi di pergelangan tangan Yui Lan, sehingga darah Perempuan itu mengalir keluar dengan derasnya. Kemudian orang itu menggigit pula urat-nadinya sendiri dan menempelkan kedua buah bekas gigitan itu sama lain. Sama sekali orang itu tak mempedulikan korbannya yang hampir pingsan karena perbuatannya.
"Apa... apa yang hendak pendekar, pendekar lakukan terhadapku?" tanya Yu Lan lirih yang dalam kondisi lemah.
"He....he...he....! dengarlah, kelinci malang! Dua-puluh-lima tahun yang lalu Dewa Maut dan keenam saudara seperguruannya telah bersekongkol untuk mencelakai aku, gurunya. Mereka bermaksud untuk mengambil Buku Racun Im Yang dan Pusaka Mustika Racun kepunyaanku. Tapi mereka tidak berani berhadapan denganku. Mereka menggunakan akal licik. Setiap Sepasang Hantu Berwajah Seribu dan dua orang murid perempuanku yang cantik itu melayani aku, diam-diam minumanku dicampur dengan sedikit Racun Penumpas Darah, sehingga aku tak merasakannya. Aku hanya merasakan semakin lama mukaku semakin pucat dan tubuhku semakin hari semakin lemah. Akhirnya aku menjadi kaget sekali ketika setahun kemudian aku sudah tak kuasa lagi mengerahkan tenaga saktiku. Saat itu aku baru sadar kalau aku telah terkena Racun penumpas darah itu," jelas kakek itu yang berhenti sejenak.
"Namun semuanya sudah terlambat. Racun itu telah merasuk ke dalam darah dan telah mengisap lebih dari separuh jumlah darahku, sehingga aku menderita penyakit kekurangan darah. Tahu kalau siasatnya telah kuketahui, murid-murid murtad itu lalu mengeroyokku. Untunglah aku bisa meloloskan diri. Sebagai orang yang tak pernah menaruh percaya kepada orang lain, aku sudah menyiapkan sebuah jalan rahasia di bawah rumahku. Hanya celakanya, mulut jalan rahasia itu lalu ditutup dan ditimbun batu karang oleh mereka."
Kembali kakek itu berhenti bercerita, tampaknya dia baru mengingat-ingat kejadian masa lalunya itu. Tapi tiba-tiba Yui Lan menjadi kaget sekali ketika dari lengan orang itu keluar daya sedot yang amat kuat, sehingga darahnya membanjir keluar melalui luka bekas gigitan di pergelangan tangannya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1