Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 81


__ADS_3

"Kalau ketua diam saja, tentu mereka itu semakin percaya bahwa perguruan ular kobra merasa bersalah dan benar-benar telah mengambil harta karun itu. Mereka telah memasuki wilayah ini, sebaiknya usir saja mereka, kalau tidak mau pergi secara halus, kita usir dengan kekerasan. Kami akan membantumu, ketua!" seru Ling Ling yang juga bersemangat.


"Bagus, saya juga siap!" seru Ling Ling dengan penuh semangat.


 "Maaf Ketua dan saudara-saudara sekalian," kata Liu Ceng dengan tenang dan lembut.


"Menggunakan.kekerasan hanya memancing permusuhan dan perkelahian yang pasti akan menjatuhkan banyak korban. Karena harta karun itu belum diketahui berada di mana, maka pertempuran itu sama saja dengan memperebutkan karung kosong! Sebaiknya, besok pagi ketua membuka gerbang depan lalu keluar dan mengundang mereka yang mengepung itu untuk bicara di luar perkampungan. Di situ ketua dapat menyangkal desas-desus itu, kalau ada yang tidak percaya dan hendak menggunakan kekerasan, barulah kita membela diri. Biarkan mereka yang menggunakan kekerasan, kita membela diri dan saya yakin banyak yang akan mendukung perguruan ular kobra." kata Liu Ceng.


"Sungguh mengagumkan pendapat saudara Ceng!" seru Sin Lan seraya mengulas senyumnya..


"Saya setuju sekali!" lanjut kata Sin Lan.


Semuanya pada akhirnya setuju dengan keputusan dan kini merasa lebih tenang.


Tak berapa lama ada seorang murid perguruan ular kobra dengan langkah tergopoh-gopoh menghadap ketua Thio Kong.


"Mohon ma'af ketua, ada seorang pendekar wanita yang ingin menghadap. Katanya dia dari perguruan bunga Persik." kata murid itu yang melaporkan apa yang telah terjadi pada ketuanya.


"Dari perguruan bunga persik?" tanya Ling Ling yang sangat terkejut dengan kabar yang dibawa murid perguruan ular kobra itu.


Dan semuanya ikut penasaran dengan kabar itu.


"Iya, saudari Ling. Dan namanya Ching Mei." kata murid perguruan ular kobra yang melaporkan itu.


"Kakak Mei! cepat ajaklah kemari, dia kakak seperguruan ku!" seru Ling Ling dengan gembira.


"Kamu dengar apa kata nona Ling, cepat bawa nona Mei kemari!" perintah ketua Thio Kong.


"Baik ketua!" balas murid perguruan ular kobra itu dengan hormat, kemudian dia mengundurkan diri dari hadapan ketuanya dan yang lainnya.

__ADS_1


Tak berapa lama, datanglah murid itu bersama seorang pendekar wanita dengan menggunakan pakaian serba hijau dan terpancar kecantikannya yang alami.


"Kakak Mei....!" panggil Ling Ling yang bergegas berlari dan menubruk pendekar wanita itu yang ternyata memang kakak seperguruan Ling Ling.


"Ling Ling...!" balas panggil pendekar itu yang kemudian kedua gadis itu saling berpelukan.


"Nona Mei, bisakah anda ceritakan kenapa nona bisa sampai disini?" tanya Sin Lan yang nampaknya ada ketertarikan pada kakak seperguruan Ling Ling itu.


"Ceritanya panjang sekali, tapi saya terus berusaha fokus sampai ke tujuan kami semula yaitu ke perguruan ular kobra ini. Dan benar saja saya masih bertemu dengan adik seperguruan saya, Ling Ling." jelas Ching Mei yang nampak tersirat senyum kelegaan di bibirnya.


"Kalau begitu sebaiknya anda istirahat bersama nona Ling." kata ketua Thio Kong dengan ramah.


"Terima kasih ketua." balas Ching Mei dengan hormat.


Malam itu tidak terjadi sesuatu dan Liu Ceng bermalam di situ, sekamar dengan Sin Lan dan Sin Lin sehingga mereka bertiga dapat bercakap-cakap, mempererat perkenalan dan semakin banyak mengetahui keadaan masing-masing.


Dari percakapan dua orang kakak beradik itu, Liu Ceng dapat melihat bahwa Sin Lan tertarik kepada Ching Mei sedangkan Sin Lin tertarik kepada Ling Ling. Hal ini terungkap dari suara dan tarikan muka dua kakak beradik itu ketika bicara tentang dua orang murid perguruan bunga persik itu.


Kakak beradik dari Lembah Seribu Bunga itu pun dengan hati kagum dan senang mendengar tentang diri Liu Ceng dan pengalaman pemuda tampan itu ketika terpaksa menyerahkan peta harta karun peninggalan ayahnya kepada Lim Bao untuk menolong Liu Hong yang menjadi tawanan Lim Bao. Menceritakan ketika ia bersama Hua Li, si pendekar kecapi yang mereka kagumi dalam mencari harta karun lalu mendapatkan peti harta karun telah kosong.


"Huh, si keparat jahanam Lim Bao itu!" seru Sin Lin yang memaki dengan marah.


"Kalau aku bertemu dengan dia, pasti akan kupukul remuk kepalanya!" lanjut seru Sin Lin yang mengepalkan tangannya.


"Saudara Lin, kenapa kau sepertinya demikian benci kepada Panglima Lim Bao?" tanya Liu Ceng yang heran.


 "Saudara Ceng, Ayah kandung kami tewas oleh pasukan yang dipimpin Panglima Mongol Lim Bao." jawab Sin Lan.


Liu Ceng menganggukkan kepalanya lalu berkata memperingatkan kepada Sin Lin.

__ADS_1


"Saudara Lin, kalau besok Ketua perguruan Ular kobra mengadakan pertemuan, andaikata Panglima Lim Bao muncul, harap engkau tidak memancing keributan dengan menyerang dia karena hal itu akan dapat menggagalkan usaha perguruan ular kobra untuk melepaskan diri dari fitnah. Kalau engkau tidak mampu menahan kesabaran dan menyerang Kim Bayan, mungkin saja hal itu bagaikan api dapat menyulut kebakaran lain dan perguruan ular kobra menjadi ajang pertempuran." jelas Liu Ceng seraya menatap Sin Lin.


 "Saudara Ceng berkata benar, adik Lin. Kau tidak boleh mengacaukan pertemuan besok karena dengan begitu, berarti kita tidak membantu perguruan Ular kobra malah sebaliknya mendatangkan malapetaka kepada perguruan ular kobra," kata Sin Lan yang mengingat sifat adiknya yang kadang ceroboh.


"Baiklah, baiklah! Memang aku tukang membikin kacau!" seru Sin Lin yang kesal.


Liu Ceng dan Sin Lan hanya tersenyum melihat ulah pemuda yang usianya dibawah mereka itu.


 Pada keesokan harinya, ketika matahari naik cukup tinggi, pintu gerbang perguruan ular kobra dibuka dan keluarlah ketua Thio Kong dari dalam, diiringkan oleh empat orang saudara seperguruannya, yaitu Song Tek, Koa Lai, Wong Kian dan Wong Han. Di sampingnya keluar pula Liu Ceng, Sin Lan dan Sin Lin, Ling Ling, dan Ching Mei yang baru datang semalam.


Para murid perguruan ular kobra dengan senjata lengkap mengiringkan ketua mereka, hampir seratus orang banyaknya karena sebagian kecil masih melakukan penjagaan di sekeliling perkampungan mereka.


Berita tentang keluarnya ketua Perguruan Ular kobra segera terdengar oleh semua orang yang sedang berada di sekitar perkampungan perguruan ular kobra, kemudian mereka berbondong-bondong datang memasuki halaman depan perkampungan yang luas.


Ketua Thio Kong dan empat orang saudara seperguruannya, juga lima orang muda yang mendampinginya, mengamati siapa yang datang berkumpul.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


   

__ADS_1


   


__ADS_2