
Tapi karena gadis itu teringat akan kepentingannya sendiri, yakni untuk menghubungi pangeran dan mencari orang tuanya, maka ia menahan kemarahannya.
"Baik sekali, kawan. Aku pun tidak suka menghina orang asalkan orang jangan mengganggu aku lebih dahulu. Biarlah kuperlihatkan bahwa tidak sia-sia Kasim Mo mempercayaiku. Silakan anda menggunakan golok anda!" seru Gadis itu yang kemudian maju ke ruang yang luas itu dan mencabut pedang dari salah satu murid perguruan tengkorak hitam itu.
Sang Hauw yang telah mencabut goloknya yang lebar, berat dan berkilauan itu, lalu dengan tindakan bebas dia menghampiri Hua Li.
Sebelum dia mulai menyerang, dia menjura ke arah patriak Bao dan yang lainnya.
"Patriak, maafkan aku kalau aku terpaksa menguji Nona ini, karena ini untuk kepentingan urusan kita." ucap Sang Hauw.
"Baiklah, asal saja kau berhati-hati dan ingat bahwa nona ini adalah utusan Kasim Mo!" balas patriak Bao.
Dan dari apa yang dikatakan patriak Bao ini membuat Hua Li mwrasa heran karena agaknya patriak Bao itu sangat dihormat dan ditakuti.
"Nona, kau lihat golokku!" seru Sang Hauw yang sudah bersiap dengan golok besar yang menyambar sehingga mendatangkan angin yang menderu kencang.
Serangan pertama ini cukup hebat karena tiba-tiba Sang Hauw menggunakan jurus Elang Terbang Menyambar Ikan. Datangnya serangan sangat keras dan golok besar itu berputar-putar menebas dari kanan ke kiri ke arah leher Hua Li dan ketika gadis itu berkelit mundur, golok itu melayang dari kiri ke kanan berkali-kali dan kini menyabet ke pinggang Hua Li dengan gerakan yang sangat cepat sekali.
Hua Li terus berkelit terus, golok itu juga terus akan mengejar dan menyerangnya karena gerakan Elang Terbang Menyambar Ikan memang terus-menerus bergerak menyerang dari kanan ke kiri dan sebaliknya sehingga golok itu terus menerus diobat-abitkan dengan gerakan cepat dan berbahaya sekali.
"Hiaaaat....!" Seru Hua Li dengan nyaring dan tahu-tahu tubuhnya melayang ke atas dan ia menggunakan jurus-jurus andalannya dan menyerang dari atas ke arah ubun-ubun kepala lawannya.
Serangan ini berbahaya sekali karena ujung pedang itu kalau ditangkis dapat diubah gerakannya menjadi serangan melintang menyabet leher.
Dan Sang Hauw terkejut sekali dan ia meloncat mundur lalu bersamaan menyerang lagi ketika tubuh lawannya yang ringan bagaikan burung itu telah menginjak tanah. Mereka bertempur lagi dengan hebat.
Hua Li tidak mau main-main lagi, ia mengeluarkan kepandaiannya dan bersilat dengan pedangnya. Gerakannya sebentar lemas dan lemah-gemulai, tapi kadang-kadang berubah ganas dan cepat sekali sehingga setelah mereka bertempur lebih dari lima puluh jurus,
__ADS_1
Sang Hauw mulai merasa kepalanya pening dan tak mampu menyerang lagi, hanya dapat menangkis dan berkelit karena pedang lawannya bagaikan telah berubah menjadi puluhan banyaknya.
Pada suatu saat Sang Hauw merasa begitu terdesak sehingga dia menjadi nekad dan mengeluarkan gerakan mengadu jiwa. Ketika dia merasa betapa ujung pedang lawannya mengancam dadanya sebelah kanan, dia barengi menubruk maju dengan goloknya untuk mengadu jiwa dan mati bersama.
Gadis itu tak sudi melayani kehendak lawannya ini, dan segera menggunakan pedangnya untuk menangkis.
"Trang....Trang....Trang...!"
"Trang....Trang....Trang...!"
"Trang....Trang....Trang...!"
Kali ini karena kedua senjata digerakkan dengan sekuat tenaga, maka dua tenaga beradu keras sekali.
"Aaaarghh...!"
Ketika golok yang besar dan berat itu meluncur ke bawah dan tepat menuju ke arah di mana Hua Li berdiri, gadis itu dengan tenang sekali menggunakan pedangnya menyambut dan memutar pedang itu sedemikian rupa.
Golok besar itu terputar-putar dengan ujungnya seakan-akan menempel di pedang Hua Li, pertempuran begitu seru dan indah sehingga semua orang menjadi sangat kagum dan bertepuk tangan memuji.
Hua Lu mengulur tangan kiri dan menangkap gagang golok lawan Sang Hauw, lalu dengan tersenyum ia mengembalikan golok itu kepada Sang Hauw.
Si Gemuk itu menghela napas berulang-ulang.
"Seumur hidupku belum pernah aku bertemu dengan seorang muda yang selihai kau ini, Nona. Siapakah namamu yang mulia dan siapa pula gurumu yang terhormat?" tanya Sang Hauw yang dengan menunduk hormat.
"Aku bernama Hua Li dan orang di sebelah selatan menyebutku pendekar Kecapi. Guruku adalah ayahku angkatku, Hua Tian yang berasal dari perguruan bambu kuning." jawab Hua Li dan semua orang belum pernah mendengar nama Hua Li, tapi nama Hua Tian pernah mereka dengar tentang ekspepisinya dulu bersama istrinya Yan Qiu menyerang perguruan-perguruan aliran hutam. Maka mereka mengangguk-angguk dan menyatakan kagum.
__ADS_1
"Memang patut sekali nona diserahi tugas ini," kata Patriak Bao dengan girang.
"Jika kalian sudah cukup percaya kepadaku, mohon diterangkan dengan jelas tugas-tugas yang akan kita kerjakan kepadaku. Karena sesungguhnya Kasim Mo tak pernah memberitahu apa-apa, hanya minta aku supaya datang saja ke sini," kata Hua Li yang menatap Patriak Bao.
Kemudian Patriak Bao menerangkan duduknya persoalan. Ternyata bahwa di lingkungan kerajaan kaisar, terjadi pertentangan dan perebutan kekuasaan di antara para bangsawan tinggi. Mereka berlomba untuk merebut hati Kaisar yang sudah tua, dan dengan diam-diam mereka menggunakan segala daya untuk menyingkirkan bangsawan lain yang dianggap sebagai saingan terbesar.
Di antara para pembesar itu, terdapat seorang pangeran yang bernama Leng Cun. Pangeran ini mempunyai kekuatan dan pengaruh besar juga karena dia adalah putera seorang selir yang tercinta.
Tapi pangeran ini mempunyai watak yang buruk dan dia bahkan mengandung niat untuk merampas kedudukan Kaisar jika Kaisar tua itu telah meninggal dunia. Dia mengumpulkan banyak ahli-ahli silat berkepandaian tinggi untuk menjadi sahabat dan kaki tangannya.
Di antaranya adalah Patriak Bao yang sudah dipercayainya benar-benar. Beberapa waktu yang lalu, Pangeran Leng minta agar dikirim seorang penghubung yang pandai dan yang datang dari luar kota, karena para bangsawan lain telah menaruh curiga dan tidak baik kalau penghubung yang mendatangi rumah pangeran itu orang-orang yang tinggal di kota raja.
Hal ini akan mudah mereka ketahui. Karena inilah maka Patriak Bao lalu minta tolong Kasim Mo yang juga telah terbujuk olehnya untuk mengabdi kepada Pangeran Leng, untuk mengirim seorang yang pandai.
"Dan demikianlah, maka ternyata Kasim Mo telah mengirim Nona ke sini, yakni untuk membantu Pangeran Leng dan menjalankan perintah-perintah rahasia dari sana. Kalau tidak salah, Pangeran Leng hendak memberi perintah-perintah kepada para pembantunya di barat dan selatan untuk bersiap sedia, maka lebih baik nona segera mendatangi gedungnya dengan membawa surat dari kami." jelas Patriak Bao.
Dan kini mengertilah kini Hua Li bahwa dengan tak disengaja ia telah melibatkan diri sendiri dengan urusan negara yang ruwet.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...