Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 282


__ADS_3

"Ah, Si Keparat! Ia tentu Hok Cu....!" seru Hong Lan yang dengan geram.


Lui Seng yang memandang dengan mata terbelalak kepada pemuda itu.


"Hok Cu? Apakah yang mulia juga mengenalnya?" tanya Lui Seng dengan rasa penasarannya.


"Tentu saja aku mengenalnya! cepat kumpulkan semua pimpinan ke sini, dan kalian gadis-gadis sial boleh pergi. Malam nanti engkau datang ke kamarku, aku mau bicara, Lu Cia!!" seru Hong Lan.


Lu Cia tersipu dengan muka merah, akan tetapi ia tersenyum dan matanya berseri karena hatinya merasa girang sekali. Hampir setiap orang gadis anggota aliran Bumi dan Langit yang menerima pelajaran sesat menjadi hamba nafsu dan mereka itu mengharap-harap menerima panggilan dari pimpinan tertinggi mereka untuk melayaninya.


Lui Seng melangkahkan kaki dengan tergopoh-gopoh keluar dari ruangan itu untuk memanggil semua pimpinan perkumpulan itu. Berbondonglah mereka datang dan memasuki kamar di mana Hong Lan menanti dengan tidak sabar. Mo Li yang menjadi wakil ketua masuk dengan sikap tenang.


Di antara para pembantu Hong Lan, wanita inilah yang tidak begitu menjilat dan takut, karena selain ia menjadi wakil ketua, Mo Li juga adalah seorang wanita yang biar tua boleh menganggap Hong Lan sebagai kekasihnya juga muridnya dalam urusan pelampiasan nafsu. Dalam bidang mana ia tentu saja sudah berpengalaman sekali dibandingkan Hong Lan yang masih muda itu.


Selain Mo Li dan Lui Seng Cu sebagai wakil dan ketua juga hadir Koan Tek putera Koan Bok majikan Pulau Hiu. San Bo murid dari Kok Sian majikan Pegunungan Liong-San, juga dua orang murid Lui Seng sendiri, yaitu Siok Boan dan Kian So.


Empat orang pemuda ini dengan senang hati menjadi pembantu Hong Lan yang sakti. Koan Bok dan Kok Sian sendiri hanya menjadi sahabat saja dari orang-orang aliran Bumi dan langit, tidak ikut membantu karena mereka merupakan datuk-datuk dari daerah mereka sendiri.


"Kita kedatangan musuh besar yang harus kita hadapi dengan berhati-hati! Mereka adalah pendekar Naga Sakti dan Hok Cu!" seru Hong Lan yang nadanya mengandung kekhawatirannya setelah enam orang pembantunya hadir,


"Hah....! Hok Cu?" Mo Li berseru kaget sekali.


Ia tadi hanya pendengar dari Lui Seng bahwa Hong Lan mengundang semua pembantu untuk berkumpul dan membicarakan urusan penting. Lui Seng tidak sempat bercerita tentang Hok Cu, maka kini mendengar nama bekas muridnya itu, ia tentu saja terkejut dan heran.


Mendengar nada suara wakil ketuanya itu Hong Lan memandang kepadanya.

__ADS_1


"Kau sudah mengenalnya, Mo Li?" tanya Hong Lan yang penasaran.


"Mengenalnya?" kata Mo Li yang tersenyum lebar dan ia memang masih nampak cantik walaupun usianya sudah lima puluh tujuh tahun, dengan gigi yang masih rapi dan kulit muka putih yang belur kisut, atau kalaupun agak kisut maka keriput ini tertutup bedak dan gincu tebal.


"He...he...he..., tentu saja mengenalnya karena ia adalah muridku sendiri bahkan seperti anak angkat karena sejak berusia sepuluh tahun ia berada di sini sampai beberapa tahun yang lalu." jawab Mo Li.


"Apa? Muridmu?" tanya Hong Lan yang terbelalak, sudah mengukur ilmu kepandaian wakil ketuanya ini. Walaupun lihai namun belum mampu menandinginya, sedangkan tingkat kepandaian Hok Cu sangatlah hebat, seimbang dengan tingkatnya sendiri.


 'Tapi ilmu silatnya amat hebat! Jauh melebihi kemampuanmu, wakil ketua!" seru Hong Lan yang masih belum percaya dengan apa yang dia dengarkan.


Berkerut alis Mo Li. Tentu saja tidak enak perasaan hatinya kalau di ucapan orang banyak dikatakan bahwa kepandaiannya jauh di bawah tingkat kepandaian muridnya sendiri.


"Hmm, mungkin selama kurang lebih enam tahun ini ia belajar lagi, makin giat berlatih sedangkan aku semakin malas saja." kata Mo Li dengan acuh.


Hong Lan lalu menceritakan tentang laporan tujuh orang gadis itu, betapa upacara peresmian Ciang Kun menjadi anggota aliran Bumi dan Langit telah gagal karena munculnya dua orang pendekar muda itu.


"Mereka pasti akan mencari kita di sini, dan karena itu kalian aku kumpulkan agar kita dapat melakukan rencana dan persiapan menyambut musuh berbahaya itu." kata Lu Seng dengan lantang.


Kemudian mereka lalu berunding dan mengatur siasat. Hong Lan perintahkan kepada para pembantunya itu untuk mempersiapkan diri, memberitahu kepada para tokoh sesat yang sudah bersahabat dengan mereka, bahkan banyak tokoh sesat yang menjadi pemuja Raja Iblis.


Dugaan Hong Lan memang tepat Han Beng dan Hok Cu pada suatu pagi dua hari kemudian, muncul di kuil Aliran bumi dan Langit. Mereka berdua bukan orang-orang ceroboh atau bodoh.


Han Beng dan Hok Cu sudah menduga bahwa pihak Aliran Bumi dan Langit tentu sudah membuat persiapan untuk menyambut mereka, karena tujuh orang gadis yang mereka jumpai di dalam benteng kemarin, tentu tidak tinggal diam dan sudah membuat laporan kepada pimpinan mereka.


Namun, mereka berdua adalah orang-orang gagah yang sama sekali tidak menjadi gentar. Lagi pula, mereka tidak akan mencampuri urusan aliran Bumi dan Langit, melainkan untuk bertemu dengan Mo Li untuk urusan pribadi.

__ADS_1


Pagi itu kuil masih sepi pengunjung. Bahkan ketika Han Beng dan Hok Cu melewati pintu gerbang pertama yang paling luar, tidak nampak seorang pun anggota aliran Bumi dan Langit. Sangat sunyi seolah-olah tempat itu sudah ditinggalkan orang.


Sunyi dan lengang, akan tetapi pintu-pintu gerbang menuju ke kuil itu terbuka lebar. Perasaan tegang memang ada, namun dua orang muda yang gagah perkasa itu melangkahi ambang pintu gerbang pertama dan tibalah mereka di pekarangan paling depan, dan seratus meter di depan terdapat sebuah pintu gerbang ke dua.


Dimana pintu gerbang ini terbuka lebar walaupun di situ tidak nampak ada penjaga. Han Beng dan Hok Cu juga memasuki pintu gerbang ini dan mereka tiba di pekarangan kuil. Kesibukan kuil belum nampak, dan ketika mereka melangkah maju menghampiri pintu depan kuil yang terbuka lebar, mereka mendengar suara gaduh di belakang mereka


Ketika keduanya menengok, ternyata pintu gerbang pertama dan ke dua yang tadi mereka lewati tertutup dari luar.


Mereka saling pandang, maklum bahwa mereka telah masuk perangkap musuh Ketika mereka memandang lagi muncullah banyak kepala di balik tembok yang mengelilingi tempat itu, dan ketika mereka membalik, ternyata di depan kuil telah muncul sedikitnya lima puluh orang anggauta aliran Bumi dan Langit, pria dan wanita yang kesemuanya memegang golok atau pedang.


Mereka itu berdiri berjajar tak bergerak, hanya memandang kepada Han Beng dan Hok Cu dengan mata mengancam.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...


...   ...

__ADS_1


__ADS_2