
Tiba-tiba terdengar kegaduhan yang datangnya dari arah belakang gedung rumah induk perguruan ular kobra dimana mereka sedang berunding itu.
"Hemm, apa yang terjadi di sana?" kata Ketua Liong dengan sikap masih tenang, namun alisnya berkerut, agaknya merasa tidak senang oleh gangguan itu.
"Sepertinya telah terjadi sesuatu di sana!" seru Patriak Song disaat perhatian mereka tertuju pada suara kegaduhan itu.
Tiba-tiba dua orang murid perguruan ular kobra memasuki ruangan itu dan memberi hormat kepada ketua mereka dan melapor.
"Guru, beberapa orang liar memasuki perpustakaan dan mengacau di sana, kini dihadapi oleh para senior!" seru salah satu murid yang melapor.
"Ketua, biar saya yang melihat ke sana!" seru Hua Li yang telah bangkit dari tempat duduknya.
Ketua Liong menganggukkan kepala dan Hua Li segera mengikuti dua orang murid itu menuju ke belakang.
"Kami ikut!" seru Sin Lan dan Sin Lin yang bersamaan.
"Mari kita pergi lihat!" kata Hua Li dan mereka bertiga melangkahkan kaki mengikuti dua orang murid perguruan ular kobra itu.
Ketika mereka tiba di luar ruangan perpustakaan yang merupakan sebagian dari taman yang cukup luas, Hua Li, Sin Lin Dan Sin Lan melihat para murid perguruan Ular kobra sedang berkelahi melawan lima orang laki-laki tinggi besar.
Lima orang tinggi besar itu tampak garang dan pakaian mereka serba hitam dan mereka masing-masing memegang sebatang golok besar yang punggungnya bergigi seperti gergaji.
Jurus-jurus mereka cukup hebat dan gerakan mereka liar dan aneh sehingga agaknya mereka mampu mengimbangi permainan pedang dari para murid senior perguruan ular kobra itu.
Di sekitar tempat perkelahian itu tampak belasan orang murid yang sudah terluka dan sedang ditolong oleh para murid lainnya.
Sin Lin hendak menyerbu dan membantu mereka, akan tetapi Hua Li memegang lengannya.
"Jangan, kakak Lin. Membantu mereka tanpa diminta akan menyinggung harga diri mereka, dan lihatlah, mereka tidak terdesak oleh lawan." ucap Hua Li yang pandangannya terus ke arah perkelahian.
__ADS_1
Benar seperti yang dikatakan Hua Li biarpun lima orang berpakaian hitam itu memiliki gerakan yang amat aneh dan dahsyat, golok mereka menyambar-nyambar bagaikan naga mengamuk, namun jurus pedang murid senior perguruan ular kobra memang hebat.
Hua Li melihat para murid senior perguruan ular kobra itu memiliki gerakan pedang yang teratur, saling dukung baik dalam pertahanan maupun penyerangan. Mereka merupakan barisan pedang yang amat tangguh, jauh lebih tangguh daripada kalau mereka maju sendiri-sendiri.
Setelah terus mendesak lawan, akhirnya para murid senior itu dapat merobohkan lima orang penyerbu itu. Ada yang terluka lengan atau pundaknya, ada yang terlempar goloknya, ada pula yang terkena pukulan tangan kiri atau tendangan.
Ketika para murid senior itu hendak melanjutkan serangan untuk menangkap lima orang penyerbu itu, tiba-tiba ada angin bertiup dibarengi suara gerengan seperti binatang buas.
Entah darimana datangnya, tahu-tahu di depan mereka sudah berdiri seorang raksasa berusia sekitar lima puluh tahun dan keadaannya sungguh amat menyeramkan.
Laki-laki tinggi besar ini mempunyai muka yang seperti singa bentuknya, penuh berewok dan yang mengerikan, rambut, kumis dan jenggotnya berwarna merah.
"Rasakan ini!" bentak raksasa itu dengan suara melengking yang mendorong kedua tangannya yang besar beberapa kali ke arah para murid senior perguruan ular kobra.
Dan mereka terdorong angin yang amat kuat sehingga mereka terhuyung-huyung ke belakang, namun mereka dapat menguasai diri.
Baru saja mereka hendak maju menghadapi lawan yang tinggi besar itu, Si Raksasa rambut merah kembali mendorongkan kedua tangannya sambil mengeluarkan bentakan melengking-lengking.
itu, membuat mereka yang sudah mempersiapkan diri itu tetap saja terdorong ke belakang, sehingga ada yang menjatuhkan diri dan bergulingan agar terhindar dari bantingan.
"Hayo, serahkan harta karun itu kepadaku, kalau tidak, seluruh perguruan ini akan aku habiskan!" teriak kakek rambut merah itu dan kini dia berdiri tegak sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang lebar.
Kedua telapak tangan yang saling digosokkan itu kini berubah merah seperti api membara dan asap putih membubung ke atas.
"Oh, kiranya Dewa Api yang sedang berkunjung! Di antara pihakmu dan pihak kami tidak pernah ada permusuhan, mengapa hari ini anak buahmu datang membuat kacau dan melukai beberapa orang murid kami?" ucap dan tanya Sin Lan yang sudah lama mendengar akan nama besar Dewa Api dari ayahnya, akan tetapi baru sekarang mereka melihat orangnya yang sungguh menyeramkan.
"Ha....ha...ha...! perguruan ular Kobra mendapatkan rejeki besar, sudah sepatutnya membagi-bagi rejeki itu dengan teman-teman sepegunungan. Serahkan harta karun itu, setidaknya setengah bagian, dan kami akan tetap tinggal menjadi tetangga yang baik. Kalau kalian murka dan hendak memilikinya sendiri, aku akan membasmi perguruan ular kobra dan merampas harta karun itu!" seru raksasa Dewa Api itu.
Sin Lin yang sejak tadi sudah menahan-nahan rasa penasaran dan kemarahannya, melompat ke depan kakek rambut merah itu. Matanya yang jeli melotot, alisnya berkerut, mulutnya cemberut dan tangan kanan bertolak pinggang, telunjuk tangan kiri menuding ke arah muka raksasa itu.
__ADS_1
"Hei, siluman jelek dan sombong! Jangan ngoceh asal membuka mulutmu yang lebar itu saja! Siapa yang mendapatkan harta karun? Andaikata ada yang mendapatkan sekalipun, siapa sudi membagi dengan siluman sombong macam engkau? Aku Sin Lin dari Lembah Seribu Bunga, sama sekali tidak gentar kepadamu!" seru Sin Lin dengan berkacak pinggang.
Terlambat bagi Sin Lan maupun Hua Li untuk mencegah pemuda yang pemberani dan galak itu mengeluarkan ucapan menantang. Mereka berdua hanya maju mendekati Sin Lin untuk melindunginya karena mereka tahu betapa lihai dan berbahayanya raksasa itu.
Sebagai seorang datuk besar, walaupun kini jarang terjun ke dunia persilatan, dia sudah mendengar akan nama besar Lembah Seribu Bunga.
Akan tetapi sesuai dengan wataknya yang tekebur dan selalu mengagulkan diri sendiri memandang rendah orang lain, tentu saja dia tidak gentar. Apalagi yang muncul dari Lembah Seribu Bunga hanya seorang remaja yang masih ingusan.
"Kamu...... kamu bocah setan! Apa kamu sudah bosan hidup!?" bentak Dewa Api dengan mata melotot dan seperti mengeluarkan sinar berapi.
"Ha...ha...! Kamulah yang bosan hidup! Memang kamu layak mampus karena selain sudah tua, juga dosamu sudah bertumpuk-tumpuk! Setan-setan sudah menunggumu di neraka!" seru Sin Lin dengan diiringi tawanya yang khas.
"Adik Li!" tegur Sin Lan karena menganggap adiknya itu seolah menyulut permusuhan dengan Dewa Api yang tentu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.
"Biar aku, kakak Lan! Aku akan menghajar siluman tua ini agar dia tidak berani sombong lagi!" seru Sin Lin yang terlampau berani namun kurang perhitungan itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1