Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 279


__ADS_3

"Maaf, Ciang Kun. Tentu Ciang Kun lebih mengetahui daripada kami dan kami bahkan memerlukan keterangan yang sejelasnya dari Ciang Kun untuk bekal penyelidikan kami." kata Hok Cu dengan lembut, dan Han Beng mendengarkan dengan perasaan heran.


Akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu gadis yang cerdik itu berpura-pura saja dan ingin memancing keterangan dari perwira tinggi itu. Dia tahu bahwa gadis itu tentu saja mengenal aliran Bumi dan Langit lebih baik, karena pernah hidup di antara mereka bahkan sebagai murid Mo Li, seorang di antara para pimpinan mereka.


Perwira tinggi itu tersenyum dan dia menarik napas panjang, bersandar di kursinya dan memandang kepada dua orang muda itu.


"Kalau menurut penyelidikan kami, biarpun aliran Bumi dan Langit makin kuat dan makin banyak anggautanya, namun perkumpulan itu belum pernah melakukan pelanggaran. Mereka rnemiliki sebuah kuil yang bahkan menolong banyak orang. Dan mereka mengajarkan persaudaraan antara sesama manusia, bahkan mengajarkan cinta kasih antara manusia. Dimana ketua dan wakil aliran itu amat pandai dan ramah." kata Ciang Kun.


Hok Cu ingat sekali kalau bekas guru yang bernama Mo Li itu,, telah menjadi wakil ketua aliran Bumi dan langit dan kini dipuji-puji oleh panglima pasukan keamanan.


"Menarik sekali!" seru Hok Cu untuk menutupi perasaan herannya.


Ciang Kun mengulas senyumnya.


"Memang para anggota aliran bumi dan langit itu dilatih ilmu silat, akan tetapi apa anehnya itu? Ketuanya Lui Seng adalah seorang ahli silat yang amat pandai, dan kegiatan berlatih silat itu pun tidak melanggar hukum dan baik-baik saja. Kemudian, ada bagian lain yang hanya mengurus soal aliran saja, yaitu...!" tiba-tiba saja cerita Ciang Kun berhenti.


Hok Cu menahan ketawanya. Tahulah ia bahwa bekas gurunya itu telah bersekutu dengan Lui Seng untuk bersama-sama memimpin perkumpulan aliran sesat itu.


"Ciang Kun, kami mendengar bahwa perkumpulan itu mempunyai banyak pemimpin yang berilmu tinggi. Benarkah itu?" tanya Han Beng yang dia sengaja untuk menambah umpan agar perwira itu bercerita lebih banyak lagi.


Mendengar nada cerita perwira itu memuji-muji para pimpinan perkumpulan itu, dia pun berhati-hati dan tidak mengemukakan pendapatnya, apalagi dia memang tidak begitu mengenal perkumpulan itu, maka dia menyerahkan saja pembicaraan tadi sebagian besar kepada Hok Cu yang tentu saja lebih mengenalnya, bahkan mengenal dengan baik sekali.


"Memang benar, mereka memiliki banyak anggota pimpinan yang lihai ilmu silatnya dan luas pandangannya! akan tetapi semua itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan bimbingan khusus yang diberikan oleh Raja Iblis." jawab Ciang Kun.

__ADS_1


"Raja Iblis?" tanya Hok Cu, dia merasa heran karena sebelum pernah ia mendengar tentang pimpinan langsung dari Raja itu.


"Ha...ha....ha.....!" Perwira tinggi itu tertawa.


"Memang bagi orang lain tentu terdengar mengejutkan. Akan tetapi sesungguhnya, sebutan Raja Iblis itu hanya untuk merendahkan diri saja. Sebenarnya pimpinan tertinggi aliran tersebut adalah seorang dewa yang ditugaskan turun ke dunia untuk mengajarkan persaudaraan dan cinta kasih!" jelas Ciang Kun.


Ini merupakan hal yang baru bagi Hok Cu, apalagi Han Beng dan keduanya saling oandang


"Siapakah Itu Raja iblis itu dan kalau dia itu Dewa, bagaimana dia dapat membimbing langsung?" tanya Hok Cu dengan penasaran.


"Mungkin kalian sudah mendengar bahwa aliran Bumi dan langit yang memuja Raja Iblis yang dibuatkan patungnya. Dan sekarang, kadang-kadang patung itu hidup! Dan menurut pengakuan Raja iblis itu sendiri, agar tidak mengejutkan semua orang, kadang-kadang beliau menjelma sebagai seorang pemuda tampan yang menjadi penasehat. Dan tentu saja ilmu kepandaiannya tak dapat diukur, ia maklum dia bukan manusia." Perwira tinggi itu menerangkan dengan suara yang serius.


Pada saat itu, cuping hidung Hok Cu bergerak-gerak. Ia mencium sesuatu. Keharuman yang aneh bagi orang lain, akan tetapi yang pernah diciumnya dahulu ketika ia masih menjadi murid Mo Li dan sejak bekas gurunya itu menjadi sekutu Lui Seng. Bau harum dupa yang khas dipergunakan untuk upacara sembahyang kepada Raja Iblis.


"Bagaimana kini bau dupa itu dapat tercium di dalam benteng?" gumam dalam hati Hok Cu.


Gadis itu menaruh curiga, pasti ada yang tidak beres dalam kamar itu, pikirnya. Dan mungkin perwira tinggi ini tidak mengetahuinya. Tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat dan ia sudah meloncat jauhi ke depan daun pintu kamar yang tertutup, mengejutkan Han Beng dan Ciang Kun.


Hok Cu mendorong pintu itu terbuka dan ia terbelalak. Han Beng juga melompat mendekatinya. Mereka berdua melihat keadaan dalam kamar itu yang aneh. Ada sebuah meja sembahyang yang besar di dalam kamar itu, dengan patung kecil yang dikenal oleh Hok Cu sebagai patung Raja iblis!


Sedangkan di atas meja itu, selain lilin bernyala dan dupa mengepul, sebagai pengganti hidangan sembahyang, nampak seorang gadis bertelanjang bulat rebah telentang.


Rambutnya yang panjang hitam itu terurai, tubuhnya sama sekali telanjang bulat. Dan di kanan kiri meja itu berdiri masing-masing tiga orang gadis yang lain yang hanya mengenakan jubah sutera tipis yang tembus pandang dan di bawah jubah itu tidak terdapat pakaian lain. Enam orang gadis itu nampak terkejut bukan main.

__ADS_1


"Hei...! Kalian tidak boleh mengganggu mereka!" Terdengar seruan Ciang Kun dan perwira tinggi ini sudah berada dekat Hok Cu dan Han Beng, wajahnya merah sekali, dan matanya nampak gelisah dan marah.


"Ciang Kun, apa artinya ini!" bentak' Hok Cu dengan alis berkerut. Teringat ia akan pengorbanan perawan dalam sembahyangan patung Raja Iblis.


Hok Cu menduga kalau gadis yang telanjang bulat itu pun calon korban yang akan dibunuh di atas meja sembahyang sebagai korban terhadap Raja Iblis itu. Bekas murid Mo Li itu memandang kepada perwira itu dengan mata terbelalak.


"Tutupkan daun pintunya dan jangan ganggu mereka, pendekar! Aku akan memberi penjelasan pada kalian!" seru perwira itu akan tetapi suaranya gemetar dan kini wajahnya berubah pucat walaupun sinar matanya masih mengandung kemarahan.


Akan tetapi tiba-tiba terjadi hal yang dianggap aneh oleh Hok Cu. Gadis remaja yang telanjang bulat dan tadi rebah telentang di atas meja sembahyang itu kini bangun dan cepat-cepat menyambar pakaian dan menutupi tubuhnya. Seolah-olah ia dalam keadaan sadar sama sekali, tidak terbius atau pingsan seperti biasa para korban upacara keji itu.


Dan enam orang gadis lainnya juga kini dengan terburu-buru mengenakan pakaian mereka, pakaian sopan dan jubah mereka.


Seorang di antara mereka, yaitu gadis yang tadi bertelanjang bulat dan ini sudah mengenakan pakaian dan menyanggul rambutnya, memberi hormat kepada perwira tinggi itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...

__ADS_1


...Bersambung...


...   ...


__ADS_2