
Terdengar suara yang tenang dan bayangan itu sudah menerjang ke arah Hong Lan dengan dorongan tangan kanan yang datangkan angin keras.
"Wuuuuuttttt.........!"
Telapak tangan orang itu mendorong dan Hong Lan terkejut sekali, merasa betapa ada angin pukulan yang amat kuat menerjang Dia pun cepat mengerahkan tenaga menangkis.
"Desss......!"
Akibat benturan kedua lengan ini, Hong Lan terhuyung dan hampir terpelanting.
Akan tetapi, penyerang itu, seorang pemuda tinggi besar gagah, juga terhuyung. Hong Lan jadi gentar. Baru suami isteri itu kalau mengeroyoknya, dia sudah kewalahan. Kalau kini muncul seorang yang agaknya bahkan jauh lebih lihai dari mereka berarti dia akan celaka.
Maka, tanpa banyak cakap lagi, tubuhnya sudah berkelebat lenyap. Dia meloncat keluar melalui jendela yang sudah terbuka, tidak seperti ketika masuk ke kamar itu dia tadi membongkar genteng.
"Hm, jahanam keparat! Hendak lari ke mana kau...!" seru pemuda yang tinggi besar dan melompat pula menerobos jendela untuk mengejarnya.
Sementara itu begitu mendengar suara pemuda tinggi besar tadi Cu Ming sudah melompat, tidak peduli akan keadaan tubuhnya yang telanjang bulat, dan menyambar puteranya, cepat membebaskan puteranya dari totokan.
Anak itu segera menangis dalam pondongannya. Cu Ming dengan cepat menghampiri suaminya dan membebaskan totokan pada tubuh suaminya dan membantunya melepaskan ikatan.
"Kau pondong dulu Ki, aku akan mengenakan pakaian!" seru Cu Ming yang dengan cepat ia mengenakan pakaiannya kembali.
Kemudian bersama suaminya, sambil menggendong Coa Ki, dan kini masing-masing membawa pedang mereka, suami isteri itu telah berloncatan keluar dan melakukan pengejaran.
Sementara itu, ketika Hong Lan melihat bahwa pemuda tinggi besar itu mengejar, dia merasa penasaran sekali. Kini dia berada di luar rumah, di tempat yang luas, maka tidak berbahaya sekali kalau dikeroyok.
Hong Lan penasaran belum dapat menandingi pemuda tinggi besar yang telah mencampuri urusannya dan telah mengganggu kesenangannya.
Maka Hong Lan segera menghentikan larinya dan mempersiapkan pedang di tangan kanan dan suling ditangan kiri.
__ADS_1
Begitu pemuda itu muncul, Hong Lan menyerangnya dengan tusukan pedang diikuti sambaran suling yang mengeluarkan suara melengking nyaring.
Pemuda tinggi besar itu kagum melihat gerakan lawan dan cepat dia menjatuhkan diri ke belakang, bergulingan dan ketika dia meloncat bangun, dia sudah memegang sepotong dahan pohon kering yang dipungutnya ketika dia bergulingan tadi.
Hong Lan tersenyum menyeringai melihat lawannya memegang sebatang tongkat sederhana sebagai senjata.
"Mampus kau...!" seru Hong Lan.
Sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa yang dihadapinya bukanlah seorang pendekar sembarangan saja.
Dia berhadapan dengan Han Beng ini telah menerima gemblengan dari tiga pendekar tingkat atas, yang menjadikan tenaga saktinya bertambah kuat bukan main.
Han Beng yang telah menemukan rumah Coa Siang dan Cu Ming. Sore tadi, seperti juga Hong Lan, dia melihat kalau suami isteri itu bersama anak mereka hidup berbahagia dan sedang bergembira dalam taman.
Keadaan suami isteri itu membuat dia menjadi bingung dan ragu-ragu. Dia merasa tidak sanggup memenuhi janjinya kepada gurunya untuk menghancurkan kebahagiaan suami isteri itu.
Dalam keadaan ragu-ragu itulah dia meninggalkan rumah itu. Akan tetapi, kalau dia tidak mau melaksanakan pesan dan perintah gurunya, berarti dia telah mengingkari janji. Hal ini amat menggelisahkan hatinya dan membuatnya tidak dapat tidur malam itu. Dia bermalam di rumah seorang petani di luar dusun.
Tanpa disangka sama sekali kalau di rumah suami isteri itu terjadi peristiwa yang hebat, dia pergi ke rumah itu, baru setelah dia mengintai ke dalam.
Han Beng melihat dan mendengar semuanya kalau suami isteri yang tadinya mengeroyok seorang pemuda bercaping lebar yang amat lihai itu menjadi tidak berdaya setelah pemuda bercaping lebar itu menangkap anak mereka.
Dari percakapan itu, diam-diam dia merasa kagum. Suami itu adalah seorang yang gagah perkasa, dan isterinya amat setia. Hanya mereka itu terpaksa menyerah karena si penjahat kejam telah menguasai anak mereka.
Dan di saat terakhir, Han Beng melihat betapa isteri yang setia itu tidak menyerah begitu saja, melainkan setelah melihat anaknya dilepaskan dengan nekat dan mati-matian ia pun melakukan perlawanan.
Melihat itu, Han Beng tidak dapat tinggal diam lagi. Dia menerobos jendela lalu menyerang si penjahat yang ternyata memang amat lihai, hal itu dibuktikannya dari benturan antara tanngan mereka. Dan kini, ketika dia mengejar, penjahat itu telah menantinya dan menyerangnya dengan pedangnya.
Gerakan serangannya juga cepat dan dahsyat sekali. Jalan satu-satunya bagi Han Beng untuk menyelamatkan diri hanyalah membuang diri bergulingan, sambil menyambar sebatang tongkat di atas tanah.
__ADS_1
Kini mereka saling berhadapan. Hong Lan masih menyeringai, tersenyum mengejek melihat lawan hanya bersenjatakan tongkat butut.
Sebaliknya, Han Beng memandang kagum. Pemuda di depannya itu nampak gagah perkasa. Biarpun wajah itu hanya diterangi sinar bulan purnama, juga dibantu penerangan lampu gantung di luar rumah, namun jelas nampak bahwa pemuda di depannya ini orang yang tampan, gerak-geriknya halus, wajah yang selalu tersenyum dengan tarikan muka yang menarik.
Setelah saling pandang tanpa mengeluarkan kata-kata, tiba-tiba saja Hong Lan menerjang ke depan lagi, kini pedangnya diputar sangat cepat dan di seling tusukan sulingnya yang melakukan totokan pada jalan darah di tubuh lawan.
"Sing.... Sing.... wuuuuutt.....!"
Han Beng dengan mudahnya mengelak serangan dari Hong Lan. Dan untuk kesekian kalinya pedang itu menyambar ke arah lehernya, dia mengelak dengan menekuk lutut kirinya dalam-dalam saat itu juga, tongkatnya menyambar ke arah lutut kiri lawan. kalau terkena sasaran, tentu sambungan lutut akan terlepas.
Namun, Hong Lan juga sudah mengelak dengan meloncat ke atas dan kembali pedangnya menyambar kini membacok dari atas mengarah kepala Han Beng, disusul tusukan suling ke arah leher. Kembali Han Beng mengelak dengan loncatan ke belakang, lalu dengan gerakan berputar, tongkatnya terayun-ayun hendak memukul lawan.
Melihat gerakan Han Beng, Hong Lan yang tinggi hati itu tertawa. Gerakan itu sungguh lucu dan buruk, seolah-olah di gerakkan oleh orang sinting atau orang yang mabuk. Akan tetapi, baru saja tertawa, suara ketawanya berubah menjadi seruan tertahan karena kaget.
"Bukk....!"
Pinggul Hong Lann terkena hantaman tongkat itu.
Sungguh aneh dan sukar dipercaya, karena gerakan tadi demikian canggung dan kaku. Sehingga Hong Lan menjadi lengah karena mengira bahwa pukulan itu tentu tidak akan mengenai dirinya karena dia sudah menggeser kaki ke kanan dan pedangnya sudah menusuk lagi ke arah lambung lawan.
Gerakan yang seperti orang mabuk itu dilanjutkan. Lawannya yang tinggi besar terhuyung, akan tetapi pedangnya tidak mengenai sasaran dan sebaliknya, tongkat itu tahu-tahu menyeleweng dan menggebuk pinggulnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...