Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 190


__ADS_3

Yang membuat hati Hok Cu menjadi makin tidak senang adalah peristiwa mengerikan yang beberapa kali terjadi sejak Lui Seng sering datang dan berdiam di rumah gurunya.


Melihat semua itu, sudah lama kali tumbuh kebencian di dalam hati Hok Cu. la memang membutuhkan bimbingan gurunya dalam ilmu silat, melihat kalau gurunya itu sayang kepadanya, ada pula rasa sayang di dalam hatinya terhadap wanita iblis itu.


Akan tetapi, sepak terjang gurunya sungguh mendatangkan rasa muak dan benci di dalam hatinya.


Hati Hok Cu kembali merasa penasaran dan juga gemas sekali. Lu Seng kembali datang bertamu dan seperti biasa, laki-laki itu selalu berada di dalam kamar gurunya. Kalau ada tamu Ini gurunya juga jarang keluar sehingga, tidak memberi petunjuk lebih lanjut dalam ilmu silat yang sedang dilatihnya.


Yang lebih menjengkelkan hatinya, malam itu kembali subonya dan Lui Seng menculik sepasang orang muda yang mereka bawa masuk ke dalam kamar.


"Aku harus menyelamatkan dua orang muda itu, tapi bagaimana caranya?" gumam dalam hati Hok Cu yang gusar.


Kalau dia mempergunakan kekerasan, bagaimana mungkin akan berbasil? Ia tidak akan mampu melawan gurunya, juga tidak akan menang melawan Lui Seng.


Lantas jika membujuk gurunya dengan halus, maka hasilnya hanya dampratan dan makian yang hanya akan lebih menyakitkan hatinya. Akan tetapi, ia tahu bahwa sepasang orang muda itu tentu akan menjadi mayat pada keesokan harinya dan akan dikubur di dalam kebun belakang yang luas itu.


Hok Cu bertekad untuk mencegah terjadinya pembunuhan lagi, pembunuhan sepasang orang muda yang sama sekali tidak berdosa! Ia harus mencari akal dan mencegah pembunuhan itu, apapun resikonya.


 Malam itu sunyi dan menyeramkan. Udara dingin sehingga para pelayan wanita yang belasan orang banyaknya, yang juga bertugas sebagai penjaga, malam itu agak malas untuk meronda.


Yang berjaga hanya dua orang wanita, dan mereka pun sudah duduk melenggut di ruangan depan, di serambi depan yang mereka jadikan sebagai pusat penjagaan di waktu malam.


Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh nyala api yang cukup besar, di sebelah kanan bangunan. Gudang telah terbakar dan api sudah bernyala tinggi.


"Kebakaran! Kebakaran....!"


Mereka berteriak-teriak sambil membangunkan teman-teman mereka, menggedor kamar mereka di belakang. Dan jelas a a menjadi gugup dan panik, segera mencari air untuk memadamkan kebakaran yang sudah membesar itu.


Keributan itu pun membuat Mo Li dan Lu Seng, berlarian keluar dari dalam kamar. Mereka menduga bahwa tentu ada musuh yang menyerbu dan membakar gudang.

__ADS_1


Mereka sama sekali tidak tahu betapa ketika mereka berlarian keluar kamar, ada bayangan hitam menyelinap masuk ke dalam kamar itu dengan gerakan yang cekatan sekali.


Bayangan ini bukan lain adalah Hok Cu yang telah menggunakan akal membakar gudang untuk menolong dua orang muda yang diculik gurunya dan tamu gurunya.


Ketika berada di dalam kamar gurunya, kamar yang sudah dikenalnya, dengan pembaringan yang lebar dan perlengkapan yang mewah itu, Hok Cu terbelalak mukanya berubah merah.


Hampir saja ia tidak dapat melihat keadaan itu lebih lama lagi dan meninggalkan kamar, kalau saja ia tidak ingat bahwa ia masuk kamar ini untuk menyelamatkan orang. Ia melihat betapa dua orang muda itu, yang usianya masih muda sekali kurang lebih enam belas tahun, berada di atas pembaringan dalam keadaan telanjang bulat dan tidak mampu bergerak karena tertotok.


Gadis remaja itu hanya memandang dengan mata terbelalak dan air mata bercucuran, sedangkan pemudanya memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak ketakutan.


Hok Cu dengan cepat membebaskan totokan mereka, sehingga keduanya mampu bergerak kembali.


"Sssttt, jangan berisik. Cepat pakai pakaian kalian dan ikuti aku. Aku akan membebaskan kalian dari sini!" bisik Hok Cu.


Dua orang muda itu tentu saja menjadi gugup dan secepatnya mereka mengenakan pakaian mereka dan tak lama kemudian mereka sudah mengikuti Hok Cu keluar dari dalam kamar, lalu melarikan diri melalui kebun belakang yang sunyi.


Mereka melihat betapa orang-orang sedang sibuk memadamkan kebakaran besar di samping rumah.


Hok Cu tidak memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk beristirahat sejenak pun. Biarpun pemuda itu sudah terengah-engah, ia memaksanya berlari terus.


Kemudian Hok Cu menurunkan gadis yang digendongnya dan mengajak mereka berdua lari memasuki hutan kemudian, di dalam kegelapan yang membuta, Hok Cu terus menarik tangan mereka untuk pergi semakin jauh.


Ia sendiri sudah hapal akan jalan setapak di hutan itu, maka ia mampu menjadi petunjuk jalan dalam cuaca yang gelap itu, hanya diterangi bintang-bintang di langit, itu pun masih dihalangi oleh daun-daun pohon yang lebat.


Baru pada keesokan harinya, ketika matahari pagi mulai mengirim sinarnya untuk mengusir kegelapan malam, terpaksa Hok Cu berhenti karena gadis dan pemuda remaja itu sudah tidak kuat lagi dan mereka berdua sudah menjatuhkan diri di atas rumput.


Gadis remaja itu menangis dan pemuda itu pun merintih ketika keduanya berlutut di depan Hok Cu.


"Terima kasih atas pertolongan pendekar yang telah menyelamatkan nyawa saya." kata pemuda itu.

__ADS_1


"Pendekar kau telah membebas kan saya dari ancaman maut yang amat mengerikan, sampai mati saya tidak akan melupakan budi ini." kata gadis itu.


"Sudahlah, tidak ada gunanya semua ini. Aku tidak minta terima kasih, akan tetapi aku minta agar kalian berdua bangkit lagi dan melanjutkan pelarian ini. Kita masih harus lari jauh untuk benar-benar dapat bebas dari ancaman maut ini!" seru Hok Cu dengan mengangkat kedua tangan-ya dengan tidak sabar.


Hok Cu sama sekali tidak takut akan keselamatan diri sendiri. Yang ditakutinya adalah kalau sampai gurunya dan Lui Seng dapat menyusul mereka, tentu kedua orang muda ini akan ditangkap kembali dan dia sama sekali tidak akan mampu melindungi mereka.


"Tapi, kaki saya lecet-lecet dan nyeri...!" keluh pemuda itu.


"Dan saya sudah tidak kuat lagi, pendekar!" kata yang gadis.


 "Kalian harus kuat! Hayo, kita lari lagi!" seru Hok Cu yang kemudian menyambar lengan mereka untuk melarikan diri.


Dua orang muda itu merintih, mengeluh, tersaruk-saruk dan jatuh bangun, akan tetapi Hok Cu tidak peduli dan terus menyeret tubuh mereka.


Tiba-tiba ada sebatang tongkat menyelonong dan menghalang di depan Hok Cu. Ketika Hok Cu mengangkat muka memandang, kiranya yang memegang tongkat itu adalah seorang biksu yang tua renta usianya tentu lebih dari tujuh puluh tahun.


Biksu ini kulitnya hitam dan perutnya gendut, akan tetapi muka yang hitam itu memiliki sepasang mata yang ramah dan mulutnya selalu tersenyum.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


 


__ADS_2