
"Adik Lin! kendalikan emosimu!" seru Sin Lan yang memberi tanda kepada adiknya agar diam, lalu bertanya kepada tuan rumah.
"Apakah permintaannya itu malam ini dipenuhi?"
"Tuan orang tua mana yang merelakan anak bayinya dibawa siluman itu? Tentu saja tidak ada yang mau memberikan anaknya walaupun di dusun ini terdapat beberapa orang anak bayi di bawah tiga tahun." jawab si Suami.
"Kalau begitu, sekarang juga bawalah kami kepada orang tua yang mempunyai anak bayi kurang dari tiga bulan itu. Kami akan minta kepadanya untuk menyerahkan anak mereka. Apakah siluman itu mengatakan di mana anak itu harus diserahkan?" tanya Sin Lan seraya berpikir cara mengatasi masalah ini.
"Ia hanya mengatakan agar anak itu diletakkan di halaman rumah dan ia akan mengambilnya. Akan tetapi tuan pendekar, kami yakin bahwa orang tua bayi itu tidak akan memperbolehkan anak mereka diserahkan kepada siluman!" jawab si suami.
"Maksud kakakku itu bukan untuk diserahkan, hanya untuk memancing agar siluman itu datang. Kalau ia datang, kami berdua yang akan menghadapinya dan anak itu kami jamin selamat," kata Sin Lin dengan suara meyakinkan.
Suami isteri itu mengerti maksud dari kakak beradik itu, lalu mereka mengantarkan Sin Lan dan Sin Lin ke sebuah rumah yang tak jauh dari rumah suami istri itu.
Setelah mengetuk pintu dan suami itu memperkenalkan diri, daun pintu dibuka. Mereka berempat masuk dan di sini pun Sin Lin minta agar lampu dinyalakan.
"Ma'af kami tidak berani!" kata Ibu si anak.
"Jangan takut, ada kami di sini. Kalau ada siluman atau iblis muncul, kami yang akan menghancurkan kepalanya!" seru Sin Lin.
"Ooeee.....ooe......!"
Tiba-tiba anak kecil itu menangis dan cepat-cepat ibunya menghentikan suaranya dengan memasukkan buah dadanya ke dalam mulut bayi itu. Sekarang suaminya berkata kepada Sin Lin dengan nada suara ragu dan penasaran.
"Tuan muda, bagaimana kami akan dapat mempercayai tuan muda untuk melindungi anak kami dan melawan siluman itu? Apakah tuan-tuan muda ini dapat kami andalkan untuk mengalahkannya?" tanya wanita itu yang masih ragu.
"Kapankah siluman itu minta agar anak bayi itu dikeluarkan di halaman rumah?" tanya Sin Lan yang penasaran.
"Mintanya eh, setelah matahari terbenam." jawab wanita itu.
"Hemm, kalau begitu sekarang?" tanya Sin Lan sambil membuka daun jendela sehingga tampak keadaan di luar. Memang pada saat itu, senja telah tiba dan cuaca di luar mulai remang-remang.
Tuan rumah dan penduduk yang membawa dua pemuda itu ke situ, mengangguk dengan wajah ketakutan. Sementara itu, ibu si bayi mendekap anaknya dan menggeleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Tidak boleh! Anakku tidak boleh dipakai umpan!" serusi ibu bayi itu.
Sin Lan memandang adiknya, pandang mata yang mengandung isyarat. Lalu Sin Lan mendekati ayah si anak tadi.
"Kalian bukankah menghendaki bukti bahwa kami dapat melawan siluman itu?" tanya Sin Lin yang menatap semua orang satu persatu.
"Yang penting dapat melindungi anak kami!" kata tuan rumah.
Tiba-tiba dia terkulai roboh, disusul isterinya. Suami isteri itu tertotok roboh oleh Sin Lan dan Sin Lin secepat kilat mereka berdua telah mengambil bayi itu dari pondongan ibunya.
Suami istri yang membawa dua orang gadis itu ke situ, hanya memandang dengan terbelalak dan mereka berdua merasa bingung dan curiga.
Mereka sama sekali tidak mengenal siapa kedua pendekar itu
"Jangan-jangan siluman itu adalah mereka ini! Akan tetapi mereka tidak berani berbuat sesuatu, hanya memandang kepada ayah dan ibu bayi itu yang rebah di atas lantai tanpa dapat bergerak.
Sin Lan memberi isyarat kepada adiknya dan Sin Lin segera membawa bayi itu dengan selimutnya keluar rumah. Ia membentangkan selimut itu di atas pekarangan rumah, lalu menggunakan sebagian selimut itu untuk menyelimuti bayi yang kini menangis lagi.
Sin Lan dan Sin Lin berjongkok di belakang semak-semak yang tumbuh di halaman itu, menanti dengan penuh kewaspadaan.Sin Lan sudah mencabut pedangnya, sedangkan Si Lin memegang dua buah batu sebesar kepalan tangan di kedua tangannya.
Suami isteri pertama yang kini mengintai di balik jendela gemetar seluruh tubuh mereka, dan suami isteri yang tertotok tadi biarpun tidak mampu bergerak, namun mereka mampu mendengar.
Mendengar tangis bayi mereka, dapat dibayangkan betapa risau, khawatir dan sedih rasa hati mereka. Juga kini semua penduduk mendengarkan dengan ketakutan. Mereka mendengar tangis bayi itu dan tidak dapat melihat apa yang terjadi. Mereka membayangkan hal yang ngeri-ngeri.
Mereka tidak harus menanti terlalu lama, karena tangis bayi itu menarik siluman itu datang lebih cepat.
Tiba-tiba angin bertiup, menggerakkan daun-daun pohon di pekarangan itu. Lalu terdengar suara tawa bercampur tangis dan sesosok bayangan putih berkelebat memasuki halaman. Inilah saat yang dinanti-nanti kedua kakak beradik itu.
Sin Lin segera menyambitkan dua buah batu itu dengan pengerahan tenaga dalam ke arah bayangan putih itu, lalu bersama Sin Lan ia melompat keluar dari balik semak-semak, lari menghampiri bayangan itu.
"Iihhhh......!"
Bayangan putih itu mengeluarkan jeritan marah dan tubuhnya mengelak dari sambaran batu pertama lalu tangan kirinya menangkis batu kedua sehingga batu itu pecah berantakan.
__ADS_1
Sementara itu Sin Lan dan Sin Lin sudah berdiri di depannya membelakangi bayi sehingga mereka berdua menghadang bayangan itu.
Dalam keremangan cuaca mereka masih dapat melihat bahwa bayangan itu ternyata adalah seorang nenek kurus agak bongkok, mukanya putih pucat seperti mayat dan bajunya serba putih terbuat dari kain mori kasar seperti yang biasa dipakai orang yang sedang berkabung.
Sepatunya kulit hitam berlapis besi dan tangan kirinya memegang sebatang tongkat yang berwarna hitam.
Walaupun Sin Lan dan Sin Lin belum pernah melihat nenek itu, namun mereka sudah mendengar dari ayah mereka tentang para pendekar persilatan, baik dari golongan hitam sesat maupun golongan putih berjiwa pendekar. Maka, melihat nenek yang pucat seperti mayat dan mengenakan pakaian berkabung itu, Sin Lan sudah dapat menduga siapa dia.
"Kiranya yang membuat kekacauan di dusun ini adalah si Mayat Betina." ucap Sin Lan.
"Nenek siluman! Untuk apa kau menculik anak-anak bayi!" bentak Sin Lin yang dengan marah.
Mereka berdua sudah mendengar dari ayah mereka betapa lihainya nenek ini, namun mereka terutama Sin Lin sama sekali tidak merasa gentar.
"He....he.....hii....hi....!"
Nenek itu mengeluarkan suara gerengan seperti tawa bercampur tangis.
Semula ia marah sekali ketika ada dua buah batu menyambar dan ketika ia menangkis satu di antaranya, terasa betapa lemparan batu itu dilakukan orang dengan tenaga lemparan yang amat kuat.
Tapi dia merasa heran, ketika berhadapan dengan dua orang laki-laki muda dan ternyata mereka itu mengenalnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1