Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 185


__ADS_3

Setelah dia ditawan, tentu saja para pembantunya dengan mudah dan dia tangkap.


Misalnya yang datang sebagai tamu itu tidak mempergunakan siasat busuk, belum tentu dia akan mampu menangkap Sin Kai yang asli yang mempunyai banyak anak buah dan dia sendiri pun memiliki ilmu kepandaian tinggi dan belum terima dia kalah oleh Lam San.


Melihat para pembantu penjahat itu telah roboh semua, sedangkan muridnya sudah mendesak hebat kepada Lam San. Kwe Ong lalu melompat ke depan dan dengan tangan kirinya dia mengirim tamparan kepada Lim San yang kewalahan menahan desakan Han Beng.


Lam San dengan cepat melempar tubuhnya belakang dan memutar tongkatnya, akan tetapi sinar hitam dari tongkat butut tangan kanan Kwe Ong menyambar dan di lain saat, pendekar aliran hitam itu terguling dan tidak mampu melawan lagi.


"Aaaghh...!"


Lam San mengerang kesakitan dan dia terengah-engah dan berusaha mengatur napasnya kembali.


Dia maklum bahwa dia takkan mampu melawan lagi, maka dia pun segera bangkit dan melempar tongkatnya.


 "Kalian memang hebat, Aku mengaku kalah dan menyerah pada kalian...!" seru Lam San yang masih mengatur napasnya.


"Ha....ha....ha....! Bagus, orang yang tahu diri, tahu pula akan kesalahannya, masih ada kemungkinan kembali ke jalan benar!" seru Kwe Ong


Lam San tidak menjawab, hanya memandang dengan mata muram.


"Bagaimanapun juga, dia telah merusak nama baik perkumpulan pengemis sabuk merah, dia harus mempertanggungjawabkannya dan aku akan menyeretnya ke depan kaki ketua Phoa agar dia dihukum sesuai dengan dosa-dosanya!" seru Ketua Sin Kai yang asli.


"Kami telah berbuat dosa, mentaati perintah ketua palsu yang mengubah jalan hidup kami, kami mohon ampun kepada ketua yang Asli, dan kami siap menerima hukuman!" kata seorang anggota pengemis tua, mewakili kawan-kawannya para anggota perkumpulan kini sudah Menjatuhkan diri berlutut menghadap ketua mereka yang asli.


"Sudahlah, kalian telah tertipu tidak tahu bahwa dia bukan aku. Akan tetapi, biarlah semua itu menjadi pengalaman dan pelajaran bagi kalian dan jangan mudah diselewengkan orang kemudian hari!" seru Sin Kai yang asli yang sebelumnya menarik napas panjang dan menghembuskannya secara pelan-pelan.


Pada saat itu tiba-tiba Lam San bergerak secepat kilat menyerang kepada Sin Kai dengan sebatang pisau yang tadi disembunyikan diikat pinggangnya.

__ADS_1


Han Beng yang mengetahui hal itu segera bertindak. Pemuda ini memang sejak tadi bersikap waspada. Dia selalu memperhatikan Lam San yang berwajah muram dan dia melihat pula kilatan sinar penuh kebencian dan kekejaman pada sepasang mata Lam San yang ditujukan kepada gurunya dan ketua Sin Kai.


Pemuda ini sudah memperhatikan gerak-gerik Lam San sedari tadi. Oleh karena itu, begitu tangan Lam San bergerak dan nampak sinar pisau berkilauan dan penjahat itu menyerang kepada ketua Sin Kai, Han Beng sudah meloncat ke depan dan tongkatnya sudah menghantam ke arah pergelangan tangan yang menyerang dengan pisau itu.


"Takk....!"


Pukulan itu keras sekali sehingga lengan Lam San patah dan pisaunya terpental.


"Aaaarghh....!"


Melihat hal ini ketua Sin Kai dengan cepat menggerakkan tongkatnya dan dia pun sudah menotok roboh jahat itu.


"Ah, terima kasih anak muda. Kalau tidak ada anak muda yang mencegah, tentu aku sekarang telah tewas di tangan penjahat itu." kata Sin Kai kepada Han Beng yang mengulas senyum pada ketua Sin Kai.


"Sahabatku raja gembel! Ternyata muridmu memang hebat sekali!" seru Sin Kai yang memuji Han Beng


"Ha....ha....! Aku sendiri tidak menduga akan gerakan jahanam itu, masih untung muridku tidak lengah. Akan tetapi, kami tidak ingin terlibat lebih mendalam sahabatku! karena itulah perkenankan kami pergi." ucap Kwe Ong seraya tertawa.


"Kita sudah bersahabat lama, jadi wajarlah kalau saling bantu." balas Kwe Ong seraya mengulas senyumnya.


"Mari, Han Beng kita pergi karena ada yang menunggu kita." lanjut Kwe Ong.


Han Beng teringat akan Yi Hui yang menanti di dalam hutan, maka dia pun menganggukkan kepalanya.


"Saudaraku, mengapa tergesa-gesa? Aku masih belum sempat membalas budimu, Dan masih kangen untuk bercakap-cakap denganmu!" seru Sin Kai yang mencoba untuk menahan sahabatnya.


"Aku sedang banyak urusan sahabatku, demikian juga dengan kau yang masih banyak urusan, mengurus penjahat-penjahat ini dan memulihkan nama baik perkumpulanmu. Biarlah lain kali kita berjumpa lagi." balas Kwe Ong.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu mau kamu. Aku tak akan mencegahmu lagi. Hati-hatilah disetiap perjalanan, dan kalau sedang mendapat masalah,carilah aku disini! Aku siap membantu.u!" seru ketua Sin Kai dengan ramah.


"Iya sahabatku, aku akan ingat itu. Mari Han Beng!" balas Kwe aong seraya berseru pada muridnya. Han Beng pun menganggukkan kepalanya.


Guru dan murid ini lalu meninggalkan kota raja dan memasuki hutan. Dan tibalah mereka di hutan di mana Yi Hui yang menanti dengan sabar. Ia menyambut dengan sinar mata penuh harapan ketika dua orang penolongnya itu muncul kembali di hadapannya.


"Bagaimana, kakak Beng? Apakah kakak Beng dan Guru berhasil membasmi para pengemis jahat itu?" tanya Yi Hui yang tentu saja gadis ini mengharapkan agar kematian ayah dan pamannya dapat terbalas.


Mereka mengajak Yi Hui duduk di atas rumput, kemudian Sin-cia Kai-ong menyuruh muridnya untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Yi Hui terkejut dan terheran-heran mendengar cerita itu, dan akhirnya nona cantik itu menarik napas panjang dan menghembuskannya secara pelan-pelan.


"Aih, rupanya dia itu pimpinan perkumpulan pengemis sabuk merah yang palsu! Pantas telah terjadi perubahan besar dalam sikap para anggautanya selama setahun ini. Kalian telah dapat membongkar rahasia itu dan mengembalikan perkumpulan per ke jalan yang benar seperi dahulu. Tapi Ayah dan paman telah berkorban nyawa." kata Yi Hua dengan wajah sendu.


"Ha, anak baik. Ketahuilah bahwa kalau Tuhan sudah menghendaki seseorang itu harus mati, tidak perlu dia itu anak kecil atau orang tua, sehat atau sakit, dia sudah pasti akan tewas! Ayahmu dan paman kamu memang sudah seharusnya mati, sudah dikehendaki Tuhan. maka tidak perlu engkau merasa penasaran lagi. Setidaknya, kau boleh berbesar hati bahwa Ayah dan paman kamu tewas sebagai pendekar." nasehat kwe Ong padaYi Hui.


"Adik, apa yang dikatakan guru itu memang benar sekali. Kita boleh saja berusaha sekuat tenaga untuk menjaga diri ini, namun kalau Tuhan sudah menghendaki kita meninggalkan dunia ini, ada saja yang menjadi penyebabnya dan kita tidak perlu merasa penasaran lagi, adik Hui." kata Han Beng yang juga berusaha menghibur Yi Hui.


Nona cantik itu kemudianmenyusut air matanya dan menganggukkan kepalanya.


 


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2