Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 95


__ADS_3

 Mereka berdua melangkahkan kaki menuju ke tempat yang mereka tuju dan secara bergantian mandi dan bertukar pakaian sambil mencuci pakaian kotor. Setelah itu mereka kembali duduk di tepi jurang.


"Hi...hi....hi...!"


Hua Li menahan tawanya dengan menutupi mulutnya, namun suara tawanya masih terdengar oleh Liu Ceng.


"Adik Hua, kenapa kamu tertawa?" tanya Liu Ceng yang penasaran.


"Aku mendengar suara suara yang memanggil-manggil," kata gadis itu sambil tersenyum.


Liu Ceng memusatkan pendengarannya sejenak.


"Aku tidak mendengar ada yang memanggil!" seru Liu Ceng yang merasa heran.


"Di mana kau mendengarnya?" lanjut tanya Liu Ceng yang penasaran.


"Ada kok, di dekat sini," kata Hua Li sambil menahan tawa dan menunjuk ke arah perut Liu Ceng.


Liu Ceng terkejut, lalu tersenyum sambil mengelus perutnya.


"Duh, kamu buka rahasia saja!" seru Liu Ceng seraya menepuk perutnya.


"Hemm, perut lapar tidak perlu malu, kakak Ceng. Aku sendiri pun merasa lapar. Akan tetapi di tempat seperti ini, di mana kita bisa mendapatkan makanan?" kata sekaligus tanya Hua Li seraya menebarkan pandangannya ke sekitar tempat itu.


"Adi Hua, lihat di lereng bawah itu. Ada kepulan asap, agaknya di sana ada sebuah desa atau setidaknya ada orang tinggal di sana. Mari kita ke sana, mencari makanan dulu baru melanjutkan penyelidikan." ajak Liu Ceng seraya menunjuk ke arah kepulan asap itu.


"Oh, iya, ayo kita kesana kak!" seru Hua Li dan mereka kemudian menuruni puncak bukit itu dan tepat dugaan Liu Ceng, di lereng bukit itu terdapat sebuah dusun kecil yang hanya terdiri dari belasan rumah penduduk yang menggantungkan nafkahnya dari menggarap tanah di lereng itu yang cukup subur.


Seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun yang menjadi tokoh warga di dusun itu dan menyambut Liu Ceng dan Hua Li dengan ramah dan kekeluargaan.


Setelah Hua Li dan Liu Ceng memperkenalkan diri sebagai pelancong yang kehabisan makanan dan hendak membeli makanan, tua-tua dusun itu serta-merta menghidangkan makanan sederhana yang dimilikinya dan mengajak dua orang tamu itu makan bersama.

__ADS_1


Ketika mereka mengobrol setelah makan, iseng-iseng Liu Ceng bertanya kepada tuan rumah.


"Paman, apakah nama dua bukit yang berjajar di sana itu?" tanya Liu Ceng seraya menunjuk ke arah dua bukit yang semalam ia tonton bersama Hua Li.


Petani itu memandang keluar melalui jendela dan melihat dua bukit itu.


"Ah, dua bukit itukah, tuan? Orang-orang menyebutnya Bukit Kembar karena mereka berdiri berdampingan dan besarnya sama. Akan tetapi dua bukit itu mempunyai nama, yang satu adalah Bukit Naga dan yang lain Bukit Burung Hong." jawab laki-laki tua itu.


Mendengar ini, berdebar jantung dua orang muda itu. Tadi setelah pagi tiba dan mereka memandang ke puncak dua buah bukit itu, bentuk naga dan burung Hong lenyap sehingga mereka hampir putus asa dan menganggap penglihatan mereka semalam dipengaruhi harapan mereka setelah melihat gambar peta.


Akan tetapi kini ternyata bahwa dua bukit itu benar-benar bernama Bukit Naga dan Bukit Burung Hong. Mereka berdua saling pandang penuh arti.


"Paman, kenapa kedua bukit itu disebut Bukit Naga dan Bukit Burung Hong?" tanya Hua Li yang penasaran.


"Dua buah bukit itu memang aneh, nona dan tuan. Kalau malam bulan purnama, gerombolan di puncaknya berbentuk naga dan burung Hong. Menurut dongeng, jaman dahulu dua bukit itu katanya menjadi tempat tinggal kedua binatang suci itu." jawab orang tua itu tersenyum lebar sehingga tampak giginya yang sudah banyak yang ompong.


Wajah Liu Ceng dan Hua Li berseri. Bukan main girang rasa hati mereka. Kini mereka yakin bahwa dua bukit itulah yang dimaksudkan dalam gambar peta.


Dia terkejut karena tiga keping uang emas itu merupakan harta yang besar baginya. Dia mengejar keluar untuk mengembalikannya kepada dua orang tamunya, akan tetapi dua orang itu sudah tidak tampak lagi bayangan mereka.


Ketika dia menceritakan kepada para penghuni dusun, orang-orang sederhana yang masih tebal kepercayaan mereka akan adanya dewa dewi yang suka menolong manusia, merasa yakin bahwa pemuda dan pemudi yang ikut makan di rumah kepala atau tua-tua dusun itu, pasti seorang dewa dan seorang dewi. Buktinya, mereka meninggalkan emas dan pandai menghilang.


"Tidak salah lagi!" seru tua-tua itu.


"Mereka pasti dewa dan dewi penunggu Bukit Naga dan bukit burung Hong, melihat pemuda yang begitu tampan dan gagah, juga gadis yang demikian cantik jelita dan lembut, aku sudah curiga bahwa mereka berdua itu bukan manusia biasa!" kata tokoh warga itu pada beberapa orang warganya.


Mendengar hal itu seluruh penduduk dusun kecil itu lalu melakukan sembahyang untuk menghormati dan berterima kasih kepada Dewa dan Dewi penunggu Bukit Naga dan Bukit Burung Hong.


Sampai belasan hari Hua Li dan Liu Ceng mencari harta karun, setelah merasa yakin bahwa harta itu pasti berada di daerah itu karena mereka telah menemukan Bukit Naga dan Bukit Burung Hong.


Ada tiga bukit kecil di sebelah selatan kedua bukit itu, dan agaknya tiga bukit ini yang digambar dalam peta. Mereka berdua menjelajahi tiga bukit itu dan sekitar tiga minggu kemudian, pada suatu pagi mereka tiba di bukit tengah dari ketiga bukit itu.

__ADS_1


Sudah dua kali mereka mencari di bukit ini dan pagi hari itu, dari kaki bukit mereka melihat betapa puncak bukit itu dikepung hutan lebar yang tumbuh di sekeliling bukit. Mereka menembus hutan dan tiba di puncak bukit yang landai dan penuh lapangan rumput yang luas.


Mereka melihat bahwa di ujung lapangan rumput terdapat tebing puncak dan di tebing itu terdapat tiga buah Goa. Goa-goa di pinggir kanan kiri tampak jelas, merupakan goa besar yang mulut goa yang terbuka seperti mulut raksasa ternganga. Akan tetapi goa itu di tengah tertutup semak belukar dan berduri. Kini mereka berdiri di depan goa yang tertutup semak belukar itu dan mengamati penuh perhatian.


"Rasanya tidak mungkin menyimpan harta karun di tempat seperti ini," kata Hua Li yang menebarkan pandangannya ke sekitarnya.


Lou Ceng diam saja tidak menjawab, hanya berdiri memandang ke arah goa itu dengan alis berkerut dan penuh perhatian.


Karena pemuda itu tidak menjawab, Hua Li menoleh dan memandang kepadanya. Dia melihat pemuda itu kini tampak kurus. Wajahnya sama sekali tidak memancarkan kegembiraan.


Baru sekarang Hua Li menyadari kalau mereka telah mengalami berbagai rintangan, halangan dan jerih payah yang sia-sia selama melakukan pencarian harta karun itu.


Bahkan beberapa kali terancam bahaya maut. Semua usaha mati-matian itu tidak juga menemukan hasil. Dia sendiri sudah tiada nafsu lagi untuk mencari harta karun yang belum dapat dipastikan ada itu.


Akan tetapi agaknya Liu Ceng tak pernah putus asa sehingga tubuhnya tampak kurus dan wajahnya kehilangan cahayanya, bahkan agak pucat karena lelah dan juga karena tidak tentu makannya.


Tiba-tiba saja hati Hua Li merasa pedih penuh keharuan dan iba terhadap pemuda yang dicintainya semenjak pertemuan pertama itu.


Memandang wajah yang amat disayangnya itu, wajah yang tampak demikian menyedihkan, tak terasa lagi Hua Li menghela napas panjang dan berat.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2